BREAKING NEWS
Showing posts with label Wisata Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Wisata Sejarah. Show all posts

Nabung Surbakti : Napak Tilas Sejarah Sang Panglima Perang Sunggal

Nabung Surbakti - Sejarah - Mengingat Nama Nabung Surbakti pasti kita ingat mengenai Perang Sunggal, Nabung Surbakti merupakan pahlawan nasional dari tanah karo,karena kisah keberaniannya dalam mempertahankan wilayah sunggal ia diberi julukan Panglima perang Sunggal dan Tanduk Benua.

Sejarah Perang Sunggal

Ilustrasi Perang Sunggal
Perang Sunggal adalah perang terlama di Indonesia terhadap penjajah Belanda selama 23 Tahun yang terjadi pada awal tahun 1872 dan berakhir pada tahun 1895. Setelah hancurnya Sunggal kemudian di lanjutkan lagi oleh Nabung Surbakti yang membuat markasnya di Tanduk Benua. Perang tersebut terjadi kurang lebih selama 3 tahun lamanya. Nabung Surbakti atau sering juga di panggil Pulu Jumaraja lahir di Desa Bunga Pariama sebuah kampung yang sekarang ini berada di kecamatan Kutalimbaru kabupaten Deli Serdang Tanah Karo.

Setelah hancurnya Sunggal pada perang sunggal, Belanda mengira masyarakat Karo akan menyerah namun, ternyata perjuangan masyarakat Karo dilanjutkan lagi oleh Nabung Surbakti yang membuat markasnya di Tanduk Benua dan terjadi kurang lebih selama 3 tahun.

Perang Tanduk Benua ini juga disebabkan oleh kolonialis Belanda yang bekerjasama dengan Sultan Deli berniat untuk mencaplok tanah ulayat masyarakat Karo dan dijadikan perkebunan tembakau.

Sehingga, Nabung Surbakti yang sering juga dipanggil Pulu Juma Raja dan lahir di desa Bunga Pariama, sebuah kampung yang sekarang ini berada di Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang.

Kemudiah memimpin para Simbisa dan bekerjasama dengan pasukan Urung Sunggal Serbanyaman dibawah pimpinan Datuk Jalil Surbakti dan Datuk Sulung Surbakti melawan tentara Belanda dan tentara Sultan Deli.
Sultan Deli yang tidak memiliki pasukan bersama Pangeran Langkat meminta bantuan Belanda untuk memerangi rakyat Karo.

Ilustrasi Perang Sunggal [ Sumber Gambar : Karosiadi ]

Dalam peperangan, Nabung Surbakti selalu mengambil gunung atau bukit sebagai benteng pertahanan sekaligus basis perjuangannya. Namun, akhirnya pasukannya terdesak dari benteng pertahanannya di Tanduk Benua.
Lalu mereka mundur ke Tigabinanga dengan tujuan lain yaitu untuk memudahkan koordinasi dengan teman-teman pejuang lain di sekitar Tiga Binanga, Juhar dan pejuang dari Alas dan Gayo.


Nabung Surbakti adalah Panglima Perang Sunggal yang mampu mengerahkan sejumlah banyak sekali orang Pasukan Simbisa. Para Simbisa di bawah pimpinan panglima Nabung Surbakti bersama Pasukan Urung Sunggal yang berada di bawah pimpinan Datuk Jalil Surbakti dan Datuk Sulung Surbakti melawan tentara Belanda dan tentara Sultan Deli. Sultan Deli yang tidak memiliki pasukan bersama Pangeran Langkat meminta bantuan Belanda untuk memerangi rakyat karo.

Penyebab Terjadinya Perang Sunggal


Perkembangan ekonomi kapitalisme di belahan Eropa mulai dari abad ke-17 membawa dampak ke berbagai belahan dunia lainnya. Salah satu wilayah yang tidak luput dari pengaruh itu adalah Sumatra Timur. Kualitas mutu tembakau Deli sebagai pembalut cerutu terbaik menggoda para kapitalis untuk menguasai lahan-lahan kepunyaan rakyat.

Perkebunan Tembakau Deli [ Sumber Gambar : Sipayo ]

Pihak Belanda melalui tangan para investor perkebunan tembakau mulai bertindak semena-mena dengan menyeroboti tanah-tanah rakyat. Hal ini dianggap penghinaan oleh rakyat terutama suku Karo yang tinggal di daerah pedusunan Deli. imbas dari inu mulailah rakyat karo yang tinggal dalam pedusunan menganggu perkebunan Belanda yang wujud dari ketidak senangan mereka terhadap klaim sepihak Sultan Deli dan Sultan Langkat atas tanah-tanah mereka yang kemudian dikontrakkan oleh sultan-sultan itu kepada pihak investor perkebunan.

Menanggapi gejolak yang ada, maka pada bulan Desember 1871, Datuk Badiuzzaman selaku Raja Urung Sunggal Serbanyaman beserta kerabat dan orang-orang dekatnya, termasuk orang-orang Karo dari pegunungan mengadakan rapat rahasia di sebuah kebun lada. Rapat ini dihadiri oleh Datuk Kecil Surbakti (Mahini), Datuk Jalil Surbakti, Datuk Sulong Barat Surbakti, Nabung Surbakti (Pulu Jumaraja) selaku komandan pasukan orang Karo pegunungan, dan Tuanku Hasyim mewakili Panglima Nyak Makam sebagai komandan Laskar Aceh, Alas dan Gayo.

Hasil pikir dari pertemuan itu adalah kesepakatan seluruh pihak yang hadir untuk menentang dan mempertahankan setiap jengkal tanah warisan leluhur dari penyerobotan pihak Belanda. Selain itu, juga disepakati bahwa seluruh pihak yang hadir untuk secara bersama-sama mengusir para penjajah yang biadab.

Genderang Perang Sunggal tak terelakkan

Ilustrasi Perang Sunggal [ Sumber Gambar : Karosiadi ]
akhirnya genderang Perang Sunggal tak terelakkan, gendrang pertama sekali ditabuh pada bulan Mei tahun 1872, pada saat terjadi peristiwa tembak menembak antara pasukan Sunggal dengan pasukan Belanda di berbagai tempat. Pada peristiwa tembak menembak ini para pejuang Sunggal menewaskan dua serdadu Belanda serta melukai beberapa orang termasuk komandan Letnan Lange. Pada tanggal 24 Juni 1872, pasukan Datuk Sulung Barat Surbakti berhasil menghancurkan pasukan Belanda di Sapo Uruk dan Tanduk Benua.

Disebabkan perlawanan yang begitu luar biasa dari pejuang Sunggal, maka Pemerintah klonial Belanda melalui Asisten Residen Riau, Locker de Bruijne, mencoba untuk menyelesaikannya melalui jalur diplomasi. Raja Urung Serbanyaman, Datuk Badiuzzaman Surbakti, beserta beberapa orang pengulu kampung Karo Dusun lainnya dikumpulkan. Datuk Badiuzzaman Surbakti diminta secara paksa untuk memerintahkan para pejuang Sunggal menghentikan perlawanan dan pulang ke rumah masing-masing. Namun, permintaan Belanda itu ditolak olehnya dan ia pun dikenakan hukuman tahanan kota.

Trio Surbakti melakukan perlawanan terhadap kolonialis Belanda adalah Badiuzzaman Surbakti, Madini Surbakti dan Nabung Surbakti. Ketika kolonialis Belanda berhasil memperdaya Baduizzaman Surbakti dan Madini Surbakti dan mengasingkan mereka ke Cianjur Jawa Barat. Maka panglima perang Nabung Surbakti melanjutkan perlawanan perang Grillia melawan Belanda.

Perang Tanduk Benua tidak bisa di pisahkan dari sejarah panjang perang sunggal. Perang Tanduk Benua ini terjadi ketika kolonialis Belanda yang bekerja sama dengan Sultan Deli mencaplok tanah wilayah masyarakat karo untuk di jadikan perkebunan tembakau. Setelah sunggal jatuh ke tangan Belanda, Belanda mengira rakyat karo akan menyerah. Namun secara mendadak sering terjadi serangan pada malam hari yang terkenal dengan gerakan musuh berngi.

Akhir Perlawanan Nabung Surbakti

Perang sunggal yang di mulai dari tahun 1872 dan terus menerus hingga sampai kedataran tinggi karo. Nabung Surbakti akhirnya terdesak dari benteng pertahanannya di Tanduk Benua. Lalu mundur ke Tigabinanga sekaligus untuk memudahkan berkordinasi dengan teman-teman pejuang lain di sekitar Tigabinanga ,Juhar dan Pejuang dari Alas dan Gayo. Akhirnya Nabung Surbakti tertangkap oleh pasukan Belanda di bukit Padiam dan melumpuhkannya dengan tembakan ke perutnya dan di arak melewati beberapa desa.

Ilustrasi Perang Sunggal [ Sumber Gambar : Karosiadi ]

Nabung Surbakti di gelandang dan di pertontonkan kepada orang-orang di Desa. Desa yang di lewati yaitu Desa Kidupen, Desa Jaberneh , Desa Pergendangen dan Desa Gunung. Kemudian di adili di Jambur Tengah di Desa Gunung. Nabung Surbakti di eksekusi di sepanjang jalan dan terakhir di tembak mati di tepian sungai Lau Gunung di dekat Desa Kuala kecamatan Tigabinanga.

Sahabat Nabung Surbakti yang bermarga Sebayang menguburkan Nabung Surbakti di ladangnya di daerah Desa Kuala. Itulah teror yang di lakukan oleh Belanda untuk menakut-nakuti rakyat di kawasan tersebut.

Keberanian yang tak bertara melekat pada diri Nabung Surbakti. Di keberaniannya melekat kebenaran, kejujuran dan ketulusan perjuangan bagi rakyat dan negrinya. Nama Nabung Surbakti kemudian di abadikan menjadi sebuah nama jalan di Kaban Jahe. Hal ini merupakan bukti penghormatan sekaligus penghargaan terhadap jasa-jasa yang di berikan beliau semasa hidupnya.

Lift Pertama Di Sumatera Ada Di Gedung Lonsum


Gedung Lonsum - Kontributor - Gedung Lonsum - Teknologi lift di gedung berlantai 5 itu memudahkan pengguna bangunan itu untuk naik turun gedung itu mulai dioperasikan 1906, bersamaan dengan lahirnya Ratu Juliana Royal Dutch Family. 

Sumber Gambar : MedanTourism
Peninggalan dan wisata sejarah terlihat dari bentuk gevel, mengadoptasi gaya arsitektur transisi rumah di Eropa pada akhir abad ke-19. Walau telah difungsikan lebih dari satu abad, elevator generasi pertama ini belum pernah dimodifikasi. 

"Biaya perawatan lift antik ini lebih ringan dibandingkan elevator modern, jika terjadi kerusakan teknis, harus mengakalinya, karena suku cadang perbaikan harus ditempa sendiri, " Manajer Sarana dan Fasilitas Lonsum Usman seperti dikutip dari laman Website Dinas Pariwisata Kota Medan. 

Uniknya lift berbentuk bujur sangkar dengan sentuhan art deco ini tidak dilapisi dinding atau kaca layaknya lift modern, pengamannya jeruji besi hitam, serta kayu tebal lengkap dengan lampu di bagian atas. 

Pintu lift masih terbuat dari rangkaian besi di atas roda laher, itu pun harus dibuka tutup oleh operator khusus. Sang operator lift, Prajito mengaku sudah 20 tahun bekerja sebagai operator lift, selain itu Ia juga bahagia bekerja sebagai operator lift karena bisa berbaur langsung dengan para karyawan. 

Naik dan turunnya lift bukan diatur tombol, melainkan tuas sederhana yang dikemudikan operator. Jangan kaget, lift bisa berhenti tanpa menyesuaikan lantai pemberhentian. Jadi bisa saja posisi jarak lift dengan lantai saat berhenti lebih tinggi atau rendah. 

Saat lift melaju, kumparan generator penggerak lift terlihat berputar, posisinya di lantai dasar. Diketahui, Gedung Lonsum atau London Sumatera adalah salah satu bangunan bersejarah di Kota Medan. Gedung bersejarah ini berada di Jalan Ahmad Yani tepat di depan Merdeka Walk. 

Di sekitar Gedung Lonsum juga terdapat beberapa objek wisata heritage lainnya seperti Balai Kota, Gedung Bank Indonesia, Hotel Inna Dharma Deli dan Kantor Pos. Pemiliknya adalah Perusahaan perkebunan karet Inggris Harrisons & Crosfield dan bergelut di bidang importir teh dan kopi. 

Setelah Gedung Lonsum ini dijual kepada pemerintah Belanda, namanya diubah sesuai nama putri Belanda menjadi Juliana Building. Lalu setelah era kemerdekaan, kepemilikan Gedung Lonsum beralih ke tangan Indonesia. 

Gedung tersebut pun berganti nama menjadi PT PP London Sumatera dan masih bernama seperti itu sampai saat ini. Arsitektur bangunan gedung ini dipengaruhi gaya Eropa yang dapat dilihat pada bentuk jendela di sisi kiri dan kanan. Sementara gaya arsitektur kolonial Belanda terlihat dari bentuk jendela panjang dan lebar plus tiang-tiang tangga besar di depan pintu masuk. sedangkan model bangunannya mengadaptasi dari gaya arsitektur rumah-rumah di London di abad 18-19. 

Sumber Artikel : https://medantourism.com/news/418-lift-pertama-di-sumatera-ada-di-gedung-lonsum.html

Kepunahan 10 Mahluk Ini Seharusnya Membuat Kita Lebih Bersyukur

Semakin berubahnya zaman, membuat beberapa mahluk hidup punah. Bahkan ada beberapa mahluk yang benar-benar sudah punah. Hal ini disebabkan oleh alam tempat tinggalnya yang mulai mengecil dan kurangnya sumber makanan, lamanya waktu yang dibutuhkan mahlkuk itu untuk bereproduksi hingga karena diburu oleh manusia untuk diambil bagian tubuhnya. 
https://www.nusapedia.com/2018/11/kepunahan-10-mahluk-ini-seharusnya.html
Kepunahan ini tentu membuat anak cucu kita tidak akan pernah tahu wujud asli hewan tersebut. Namun berbeda dengan mahluk hidup ini, kita seharusnya bersyukur karena mereka sudah punah. Berikut adalah mahluk-mahluk tersebut.

Penggalian yang dilakukan oleh para arkeolog mengungkap misteri masa lalu kuno yang membingungkan pikiran kita. Fosil-fosil yang ditemukan dari seluruh dunia memberi tahu kita lebih banyak tentang makhluk berbahaya yang hidup sebelum zaman kita dan sekarang, untungnya, telah punah. 

Ketika kita berbicara tentang makhluk prasejarah, hal pertama yang terlintas dalam benak kita adalah dinosaurus, tetapi ada banyak orang lain yang hidup di zaman yang sama dan sering memangsa mereka.Ketika Anda membaca tentang makhluk prasejarah ini, Anda akan bersyukur bahwa Anda hidup saat ini. Bahkan makhluk paling menakutkan yang ada saat ini akan tampak malu di depan semua ini.

1. "Titanoboa" adalah ular setinggi 42 kaki, 2.500 pon yang hidup sekitar 65 juta tahun yang lalu. Dua puluh delapan fosil spesies ular terbesar dan punah ini ditemukan di tambang batu bara di Kolombia.
Image credit: Ryan Quick/Flickr
Seolah-olah ular tidak cukup menakutkan! Bayangkan seekor ular sepanjang 42 kaki yang hidup di hutan. Spesies ular besar yang telah punah ini hidup di tempat yang sekarang dikenal sebagai La Guajira, bagian dari Kolombia timur laut, 58 hingga 60 juta tahun yang lalu di Epoch Paleosen tengah dan akhir.

Beberapa fosil ular ini ditemukan di Formasi Cerrejon di Kolombia, menjadikannya ular terbesar yang pernah ditemukan. Itu bertahan di daerah rawa pesisir dan adalah piscivorous (karnivora yang makan hanya ikan). Model Titanoboa skala penuh ditampilkan di Grand Central Terminal di New York ketika Smithsonian Channel menayangkan acara TV berjudul Titanoboa: Monster Snake pada tahun 2012.(source)

2.Leluhur besar buaya, "Deinosuchus" panjangnya sekitar 10 hingga 12 meter. Ahli paleontologi menyimpulkan dengan mempelajari tanda giginya pada fosil lain yang ia bunuh dan memakan beberapa dinosaurus paling menakutkan di jamannya, termasuk T-Rex.
Image credit: Daderot/Wikimedia
Pada 1858, fosil pertama Deinosuchus, nama yang secara harfiah diterjemahkan menjadi "buaya yang mengerikan" ditemukan di Amerika Serikat bagian barat. Dengan giginya yang kuat yang bisa dengan mudah menghancurkan tengkorak, buaya itu bisa melahap seluruh Tyrannosaurus. Itu kemungkinan besar predator puncak dari Zaman Kapur. Itu akan hidup hingga usia 50 tahun dan akan terus tumbuh sampai usia 35 tahun.

Para peneliti berasumsi bahwa jika buaya besar memakan dinosaurus, itu akan menyerang mereka ketika dinosaurus datang untuk minum air. Deinosuchus akan menangkap mereka lengah dan menjebak mereka di rahangnya, menyeret mereka ke dalam air, dan menenggelamkan mereka sebelum memakannya. Tanda-tanda gigi makhluk prasejarah ini juga ditemukan pada cangkang kura-kura besar yang berarti ia juga memakannya karena mudah tersedia di habitatnya. (source)

3."Megatherium" adalah spesies kungkang tanah seukuran gajah yang menggali ratusan mil terowongan di Amerika Selatan yang ada hingga saat ini. Mereka hidup sampai akhir Zaman Plistosen dan bisa mencapai 20 kaki dari kepala hingga ekor.
Image credit: Ballista/Wikimedia, Heinrich Frank via
Sangat sedikit spesies lain yang melebihi ukuran Megatherium. Fosil pertama dari kemalasan raksasa ini ditemukan di Argentina pada 1788 yang sebelum penemuan fosil dinosaurus. Para peneliti telah mengajukan hipotesis bahwa sloth memiliki cakar raksasa dan menggunakannya untuk menggali terowongan.

Mereka bermigrasi dari Selatan ke Amerika Utara dan hidup sampai akhir zaman Pleistocene ketika mereka mencapai ukuran gajah Afrika. Mereka adalah herbivora yang menggunakan lidah mereka untuk membedakan dan memilih dedaunan apa yang dimakan di padang rumput dan habitat hutan mereka. 

Megatherium hidup sebagian besar dalam kelompok tetapi bisa juga hidup sendirian di gua pada waktu tertentu. Banyak yang berpikir bahwa faktor yang berkontribusi untuk kepunahannya adalah pemburu manusia.(1, 2)

4. "Beelzebufo" adalah spesies katak prasejarah berukuran hingga 9 inci panjang dengan mulut yang sangat besar dan kekuatan gigitan yang kuat. Itu adalah predator yang berpesta pada makhluk besar dan bayi dinosaurus yang juga disebut "katak setan."
Image credit: Nobu Tamura
Pada Zaman Kapur akhir sekitar 70 juta tahun yang lalu, hidup katak prasejarah yang sekarang dijuluki “katak setan.” Beberapa perkiraan menunjukkan bahwa katak bisa mengukur setinggi 15,7 inci dengan kepala yang sangat besar. 

Katak itu hidup di tempat yang sekarang dikenal sebagai negara Madagaskar.Hal ini diketahui telah memangsa bayi dinosaurus dan hewan besar lainnya menggunakan rahangnya yang besar.

Pada tahun 1993, fosil katak pertama ditemukan, dan sejauh ini, telah dikumpulkan 75 yang memungkinkan para peneliti untuk merekonstruksi tengkorak katak. Kerabat terdekatnya adalah katak bertanduk Amerika Selatan.(source)

5. Spesies makhluk prasejarah bernama "Jaekelopterus rhenaniae" adalah kalajengking air yang menakutkan dengan panjang lebih dari delapan kaki dengan cakar sepanjang 18 inci. Ini adalah arthropoda terbesar yang pernah ada.
Image credit: Ghedoghedo/Wikimedia
Meskipun Jaekelopterus juga disebut "kalajengking laut raksasa," tetap mereka telah ditemukan di sistem air tawar dan muara juga. Ini adalah arthropoda terbesar yang diketahui dan eurypterid terbesar yang pernah ada. 

Mulut kalajengking memiliki dentikel dari berbagai ukuran yang memungkinkan mereka menyebabkan luka tusukan dan akan membuat mereka menjadi predator puncak di lingkungan mereka. Mereka akan makan arthropoda kecil, ikan dan tulang belakang awal.

Jaekelopterus hidup di tingkat yang lebih gelap, lebih dalam dari laut dan badan air dan akan mendekati pantai untuk bertelur dan kawin. Itu dianggap sangat lincah dan memiliki kemampuan manuver cepat yang membantunya memberikan pengejaran kepada mangsanya. (source)

6. Hiu "Megalodon" bisa menggigit mangsanya dengan kekuatan 24.000 hingga 41.000 pon yang cukup untuk menghancurkan tengkorak paus lain yang dimakannya. Jika membuka rahangnya, dua manusia bisa masuk ke dalam. Ukuran makhluk berbahaya ini adalah 79-82 kaki panjangnya.
Image credit: Serge Illaryonov/Wikimedia
Berdasarkan ukuran fosil giginya (giginya lebih dari tujuh inci), ahli paleontologi telah mampu mencapai perkiraan hiu Megalodon dari 79-82 kaki panjangnya. Selama Epochs Pliosen dan Miosen, sejumlah besar hiu raksasa berkeliaran di lautan. 

Megalodon akan memangsa mereka dan penyu dan ikan lainnya. Ia diketahui memiliki kekuatan gigitan tertinggi dari makhluk apa pun yang pernah hidup — sebanyak 1,8 ton gaya per inci persegi.Ia memiliki gaya berburu unik menggigit sirip mangsanya sebelum menyerang untuk membunuh terakhir. 

Hiu itu ditemukan di seluruh dunia ketika hidup sekitar 23 juta tahun yang lalu. Ukuran mereka yang tipis mencegah mereka untuk merambah terlalu jauh ke pantai. Meskipun tidak ada yang tahu pasti mengapa hiu ini punah, diyakini bahwa Livyatan, paus sperma raksasa dan paus pembunuh lainnya, berkontribusi.(1, 2)

7. Elang Haast yang punah lebih dari 500 tahun yang lalu adalah elang terbesar yang diketahui di dunia dan akan memangsa manusia sesekali.
Image credit: journals.plos.org
Hari ini, elang mungkin tampak tidak berbahaya bagi sebagian besar dari kita, tetapi itu tidak selalu demikian. Elang Haast adalah spesies elang yang punah yang hidup di Pulau Selatan Selandia Baru, yang biasa disebut sebagai "pouakai" yang merupakan burung monster dari legenda Maori. 

Yang terbesar dari spesies ini bisa seberat 230 kilogram dan lebih besar dari burung nasar. Mereka memangsa spesies burung besar yang terbang dan bahkan burung-burung yang lebih berat dari mereka.

Hubungan mereka dengan manusia tidak ramah. Legenda Maori berbicara tentang burung itu untuk dapat membunuh mangsa besar, tetapi mereka juga diketahui membunuh manusia. Burung itu telah ditampilkan dalam beberapa film dokumenter termasuk yang berjudul Monsters We Met yang diproduksi oleh BBC. Kerabat dekat burung yang paling dekat adalah elang kecil dan elang boot.(source)

8. "Entelodonts," dijuluki "Babi Neraka" atau "Terminator Pigas" adalah keluarga yang sudah punah dari omnivora seperti babi yang hidup selama Zaman Eosen. Mereka adalah predator puncak yang memburu hewan seukuran sapi dan memakan hewan hidup.
Image credit: Charles R. Knight/Wikimedia
Entelodonts adalah omnivora seperti babi yang hidup di hutan sekitar 21 juta tahun yang lalu. Mereka memiliki tubuh besar tetapi pendek dan kaki ramping dengan berat hingga 400 kilogram. Mereka memiliki benjolan berat di kedua sisi kepala mereka dan memiliki kuku jari. 

Mereka memiliki satu set gigi yang kuat dengan gigi kaninus besar dan gigi seri berat yang membuat mereka menjadi predator puncak di Eurasia selama zaman Miosen Tengah dan Awal-Miosen.

Mereka akan mengkonsumsi hewan hidup dan tanaman tetapi bias terhadap yang pertama. Ditampilkan di program BCC dan National Geographic, Entelodont adalah hewan dengan otot rahang yang sangat kuat yang tidak hanya mengerikan tetapi juga tak terlupakan.(source)

9. "Dinofelis" adalah kucing berukuran sedang, bertaring tajam yang hidup lima juta tahun yang lalu. Tapi jangan biarkan ukurannya membodohi Anda. Tengkorak manusia purba memiliki lubang yang sejajar dengan gigi kaninus atas Dinofelis yang tajam yang berarti bahwa itu adalah manusia pemakan manusia.
Image credit: Wikimedia
Pikirkan tentang seluruh keluarga kucing di alam liar dan Anda akan memikirkan singa dan harimau. Tapi pernahkah Anda mendengar bahwa kucing-kucing ini memiliki gigi yang begitu kuat sehingga lubang bisa dibuat ke tengkorak Anda? Dinofelis adalah pembunuh primata yang memiliki hubungan buruk dengan manusia. 

Studi tentang tengkorak banyak manusia purba menunjukkan lubang yang akan dibuat oleh gigi kaninus atas yang tajam dari predator ini. Kucing yang sudah punah ini telah tersebar luas di Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika Utara yang ada di muka Bumi delapan juta tahun yang lalu.(1, 2)

10. "Mosasaurus" adalah kadal air yang sudah punah dan mematikan yang bisa mencapai 56 kaki dan memangsa apa pun yang bisa menenggelamkan giginya. Karnivora yang menakutkan ini memiliki satu set gigi ekstra dan berat 5.000 kg. Makhluk itu telah ditata kembali dalam film Jurrasic World.
Image credit: Ghedoghedo/Wikimedia
Itu bukan fiksi. Lebih lama dari T-Rex, Mosasaurus memiliki dua set gigi tambahan, tidak persis terlihat, di dalam rahang yang kuat, tetapi bahkan kemudian menelan mangsanya di bawah air sulit bagi makhluk itu. Itu melahirkan di laut tetapi tidak bertelur. Seperti mamalia, ia melahirkan bayi hidup.

Fosil-fosil Mosasaurus ditemukan di hampir setiap benua di seluruh dunia termasuk Antartika. Itu memangsa ikan, cumi-cumi, dan reptil kecil lainnya. Kadal air ini hidup selama Zaman Maastricht pada Zaman Kapur, sekitar 70 juta tahun yang lalu. Tengkorak tengkorak pertama dari makhluk itu ditemukan di Belanda pada 17.(source)

Makhluk prasejarah mana yang paling menakutkan Anda?

Berwisata Di Bekasi : Jangan Lewatkan Mengunjungi 5 Destinasi Wisata ini

wisata Bekasi - Kota Bekasi merupakan salah satu kota yang terdapat di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Nama Kota Bekasi berasal dari kata bagasasi yang artinya sama dengan candrabaga yang tertulis di dalam Prasasti Tugu era Kerajaan Tarumanegara, yaitu nama sungai yang melewati kota ini. 

Wisata Bekasi
Kota ini merupakan bagian dari megapolitan Jabodetabek dan menjadi kota satelit dengan jumlah penduduk terbanyak se-Indonesia. Saat ini Kota Bekasi berkembang menjadi tempat tinggal kaum urban dan sentra industri.Kota Bekasi juga dijuluki sebagai Kota Patriot dan/ Kota Pejuang.

Jumlah Penduduk Kota Bekasi saat ini lebih dari 2,2 juta jiwa yang tersebar di 12 kecamatan, yaitu Kecamatan Pondok Gede, Jati Sampurna, Jati Asih, Bantar Gebang, Bekasi Timur, Rawa Lumbu, Bekasi Selatan, Bekasi Barat, Medan Satria, Bekasi Utara, Mustika Jaya, Pondok Melati.[3]Dari total luas wilayahnya, lebih dari 50% sudah menjadi kawasan efektif perkotaan dengan 90% kawasan perumahan, 4% kawasan industri, 3% kawasan perdagangan, dan sisanya untuk bangunan lainnya.

Namun dibalik padatnya penduduk di kota tersebut,ternyata bekasi menyimpan keindahan alamnya,Wilayah Kota Bekasi dialiri 3 (tiga) sungai utama yaitu Sungai Cakung, Sungai Bekasi dan Sungai Sunter, beserta anak-anak sungainya. Sungai Bekasi mempunyai hulu di Sungai Cikeas yang berasal dari gunung pada ketinggian kurang lebih 1.500 meter dari permukaan air.

Tidak hanya itu,berikut 5 Destinasi Wisata yang dapat kamu kunjungi saat berada di bekasi.

1.Hutan Bakau Muara Gembong

Hutan Bakau Muara Gembong

Anda juga dapat berjalan-jalan ke hutan bakau di Kecamatan Muara Gembong. Sesuai namanya, di lokasi ini pepohonan bakau tumbuh di sepanjang 17 kilometer area hutan.Berjarak 70 kilometer dari pusat kota, hutan bakau yang pernah mengalami kerusakan karena digunakan sebagai tambak nelayan ini telah berangsur membaik.

Kini, Anda tak hanya bisa berfoto di hutan ini, tetapi juga belajar tentang hutan bakau. Untuk menjelajahi hutan, bisa keliling naik sampan."Banyak wisatawan yang sudah ke sini dan kaget, kalau ada hutan mangrove seluas dan selebat ini di Jawa Barat. Apalagi, kita juga mengenalkan cara budi daya mangrove dari cara menanam dan bagaimana merawatnya," kata Ucie, pendiri Muara Gembongku, komunitas pencinta lingkungan dari Muara Gembong yang peduli akan kelestarian hutan bakau.

Bila tertarik mengunjungi hutan bakau ini ditemani Muara Gembongku, bisa membayar Rp70 ribu per orang, termasuk menjelajahi hutan naik sampan dan bakar ikan. Anda juga akan diajak ke Desa Pantai Bahagia untuk melihat sisi lain hutan bakau sekaligus menyaksikan lutung Jawa.

2.Gedung Juang 45

Museum Juang 45 Bekasi
Untuk yang tertarik wisata sejarah, bisa datang ke Gedung Juang 45. Gedung yang berada di Jalan Sultan Hasanudin, Tambun Selatan, ini merupakan tempat bagi para pahlawan dahulu mempertahankan negara ini dari penjajah Belanda.

Di sebelahnya, ada Museum Bekasi yang berisi peninggalan pusaka seperti keris, plakat tembaga, foto prasasti Tarumanegara, bebatuan, serta foto-foto bersejarah sejak zaman penjajahan dahulu, seperti foto suasana Desa Kebalen, foto serah terima APWI di Stasiun Bekasi, dan foto Stasiun Kranji zaman dahulu.

Gedung tersebut telah menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Bekasi menghadapi penjajah. Dulunya, gedung tersebut menjadi markas bagi pejuang khususnya pada masa mempertahankan kemerdekaan RI.etelah Jepang berhasil menduduki Hindia-Belanda (sebutan Indonesia pada zaman kolonial) gedung tersebut dijadikan sebagai tempat untuk menunjang keperluan perang seperti menyimpan perlengkapan senjata. Setelah Indonesia merdeka gedung tinggi kemudian ditempati oleh pejuang Indonesia. "Pertama gedung tinggi ini ditempati oleh Batalion 5, Resimen 6, Brigade 3 Divisi Siliwangi, laskar rakyat, Hisbullah, dan lain-lain,

3.Situ Cibeureum

Situ Cibeureum
Sepintas kawasan wisata alam Situ Cibeureum di Tambun Selatan ini terlihat seperti danau yang tenang dengan panorama alam yang eksotis di kala senja. Namun, dibalik keindahan alam yang dimiliki di tempat wisata yang berlokasi di kawasan perumahan Grand Wisata ini menyimpan kisah cerita legenda masyarakat yang menarik.

Namun, bukan kisah legendanya yang menarik perhatian Direktori Wisata Indonesia berkunjung ke Situ Cibeureum ini tapi sisi keindahan alam yang disajikan di setiap sisi sudut wilayah yang bisa dinikmati dari balik lensa kamera. Bahkan bagi para pecinta komunitas photographer, kawasan ini menjadi obyek photo yang sempurna untuk melakukan kegiatan hunting foto di alam terbuka yang menjanjikan pemandangan unik dan indah.

beberapa komunitas remaja sering menjadikan kawasan ini sebagai tempat ajang santai dan bersilturahmi. Bahkan beberapa komunitas yang kami temukan di lokasi yang diprakarsai oleh pemuda-pemuda kreatif di sekitar Tambun, Bekasi sengaja singgah untuk mempromosikan kawasan ini untuk memperkenalkan obyek wisata alam di Kabupaten Bekasi yang satu ini ke dunia melalui aktivitas komunitas mereka di internet.

4.Curug Parigi 

Curug Parigi
Curug Parigi merupakan salah satu objek wisata yang bisa Anda kunjungi ketika ke Bekasi. Berlokasi di dekat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, kehadiran beberapa curug, termasuk Parigi membuat area tersebut tak lagi hanya dikenal sebagai wilayah penuh sampah.Lokasi Curug Parigi atau ada juga yang menyebutnya dengan nama Air Terjun Bantargebang ini terletak di perbatasan antara Bekasi dan Bogor, tepatnya di Desa Cikiwul, Kecamatan Bantar Gebang.

Air terjun ini terbentuk akibat patahan Sungai Cileungsi.Orang bilang air terjun ini bak Air Terjun Niagara, versi jauh lebih kecil. Tingginya diperkirakan hanya dua meter.Untuk bermain air di Curug Parigi, sebaiknya datang pada musim kemarau. Bila musim hujan datang, debit air makin tinggi. Agar bisa menikmati air terjun ini dengan nyaman, pilih waktu pagi atau sore hari.Selain Curug Parigi, masih ada objek wisata lain di Bekasi, seperti Go! Wet Waterpark di Grand Wisata Bekasi.

Terdapat berbagai wahana seperti seluncur spiral raksasa, lorong, ember air raksasa, kolam ombak, seluncur dari ketinggian 12 meter, dan kolam arus yang menenangkan untuk bermalas-malasan.

5.Klenteng Hok Lay Kiong

Klenteng Hok Lay Kiong
wisata Klenteng Hok Lay Kiong di Margahayu Bekasi Jawa Barat adalah salah satu tempat wisata yang berada di desa margahayu, kabupaten bekasi, provinsi jawa barat, negara indonesia.  wisata Klenteng Hok Lay Kiong di Margahayu Bekasi Jawa Barat adalah tempat wisata yang ramai dengan wisatawan pada hari biasa maupun hari liburan. Tempat ini sangat indah dan bisa memberikan sensasi yang berbeda dengan aktivitas kita sehari hari.

Klenteng didirikan abad ke-18 M, dan hingga sekarang tetap digunakan sebagai tempat peribadatan oleh masyarakat Cina yang ada di daerah Kota Bekasi. Klenteng sejak dibangun sampai sekarang masih dimanfaatkan sebagai rumah ibadah masyarakat Cina secara terus-menerus, yang dalam ilmu arkeologi dikenal istilah live monument. Lingkungan klenteng terletak di daerah pemukiman yang relatif padat dengan batas-batasnya di sebelah utara Jalan Kenari, sebelah selatan, barat dan timurnya  rumah penduduk. Klenteng memiliki luas areal ± 700 m² dan bangunan klenteng sendiri luasnya 650 m²,  dan dikelola oleh Yayasan Tri Dharma.

Bangunan Klenteng Hok Lay Kiong Kota Bekasi, telah banyak mengalami perubahan maupun pengembangan, hal ini sesuai dengan perkembangan zaman. Namun pintu masuk utama tetap dipertahankan dan belum pernah diganti, dengan warna cat sesuai aslinya. Di bagian atas, samping kanan dan kiri pintu masuk utama terlihat papan bertulis. Selain itu ada hiasan yang menggambarkan perjalanan Hian Thian Siang Te mulai dari bertapa, mempelajari dan mendalami ajaran Tao dari ajaran Lou Tze.

Rakai Panunggalan : Mengenal Kerajaan Medang I Bhumi Mataram

Rakai Panunggalan- Kontributor NusaPediaRakai Panunggalan - Sri Maharaja Rakai Panunggalan adalah raja ketiga Kerajaan Medang I Bhumi Mataram menurut Prasasti Matyasih (907). Berbeda dengan Prasasti Wanua Tengah III (908), yang menyebutkan bahwa raja ketiga Kerajaan Medang I Bhumi Mataram adalah Rakai Panaraban, yang naik tahta pada tahun 706 Çaka, bulan Cetra, tanggal 10 Paroterang, hari Sabtu Kliwon Paningron (6 Maret 784 M).
Rakai Panunggalan

Rakai Panunggalan

Sri Maharaja Rakai Panunggalan Sang Dharanindra Sri Sanggramadhananjaya Prasasti KalasanSumber sejarah yang memuat nama Rakai Panunggalan hanya dapat ditemui pada Prasasti Matyasih, yang menyebutkan nama Çri Mahǎrǎja Rakai Panunggalan pada urutan ketiga penguasa Kerajaan Medang. 

Namun pada Prasasti Wanua Tengah III, yang berada pada urutan ke-3 adalah Rakai Panaraban yang memerintah pada tahun 784 – 803 M. Selain itu pada rentang tahun masa kekuasan Rakai Panaraban, terdapat tokoh lain yang juga diidentifikasikan sebagai Rakai Panunggalan/Rakai Panaraban, yaitu Dharanindra. Nama Dharanindra dapat ditemukan didalam Prasasti Kelurak (782), yang dimana dalam Prasasti Kelurak ini Dharanindra dipuji sebagai “Wairiwarawiramardana” (Penumpas Musuh-Musuh Perwira). 

Julukan tersebut mirip dengan yang disebutkan oleh Prasasti Nalanda, yaitu “Sri Wirawairimathana” (pembunuh pahlawan musuh), serta Prasasti Ligor B, yaitu “Sarwwarimadawimathana” (pembunuh musuh-musuh yang sombong).Slamet Muljana menganggap ketiga julukan tersebut adalah merupakan sebutan untuk orang yang sama, yaitu Dharanindra. Didalam Prasasti Nalanda, disebutkan bahwa “Wirawairimathana” memiliki putera yang bernama Samaragrawira, ayah dari Balaputradewa yang merupakan raja dari Kerajaan Sriwijaya. Sehingga dengan kata lain Balaputradewa adalah merupakan cucu dari Dharanindra. 

Sementara itu pada Prasasti Ligor B yang memuat istilah “Sarwwarimadawimathana”, George Cœdès berpendapat bahwa prasasti tersebut dikeluar-kan oleh Sri Maharaja Wisnu, yang merupakan Raja Sriwijaya. George Cœdès beranggapan bahwa Prasasti Ligor B ini adalah lanjutan dari Prasasti Ligor A, yang berangka tahun 775 M. Namun Slamet Muljana berbeda pendapat mengenai hal tersebut, karena menurutnya hanya Prasasti Ligor A saja yang ditulis tahun 775 M, sedangkan Prasasti Ligor B ditulis sesudah Kerajaan Sriwijaya jatuh ke tangan Wangsa Sailendra. 

Berikut ini adalah beberapa point sumber sejarah yang memuat informasi tentang Rakai Panunggalan, Rakai Panaraban, dan Dharanindra, yaitu sebagai berikut:
Rakai Panunggalan

Beberapa Teori Mengenai Rakai Panunggalan

Mengenai Rakai Penunggalan, Rakai Panaraban, dan Dharanindra ini, terdapat beberapa teori dan pendapat yang dikemukakan oleh para arkeolog, yaitu sebagai berikut:

1.Teori Pertama: Dharanindra adalah tokoh yang berbeda dengan Rakai Panunggalan

Teori pertama ini di pelopori oleh Van Naerssen, yang dimana pada teori ini disebut-kan bahwa Dharanindra adalah seorang tokoh yang berbeda dengan Rakai Panunggalan, dan Dharanindra ini-lah yang merupakan atasan dari Rakai Panangkaran, penguasa Medang sebelum Rakai Panunggalan. Van Naerssen berpendapat bahwa Rakai Panangkaran merupakan putera Sanjaya dan juga termasuk kedalam Wangsa Sanjaya, namun Rakai Panangkaran ini kemudian berhasil dikalahkan oleh Wangsa Sailendra yang beragama Buddha. 

Rakai Panunggalan
Van Naerssen juga berpendapat bahwa pembangunan Candi Kalasan yang dilakukan Rakai Panangkaran tidak lain adalah merupakan perintah dari Raja Sailendra kepada Rakai Panangkaran yang telah menjadi raja bawahan, Van Naerssen memperkirakan Raja Sailendra yang menjadi atasan Rakai Panangkaran tersebut adalah Dharanindra, yang dimana namanya ditemukan didalam Prasasti Kelurak (782).

  1. Rakai Panunggalan sendiri adalah penerus Rakai Panangkaran yang juga merupakan bawahan dari Dharanindra. Berikut ini adalah beberapa point dari teori yang dikemukakan oleh Van Naerssen, yaitu sebagai berikut:
  2. Rakai Panangkaran adalah putera Sanjaya dan termasuk kedalam Wangsa Sanjaya
  3. Rakai Panangkaran ini kemudian dikalahkan oleh Wangsa Sailendra yang beragama Buddha
  4. Dalam Prasasti Kalasan disebutkan adanya dua orang raja, yaitu Śri Mahārāja Dyāh Pancapana Panamkarana dan Raja Śailendravamsatilaka (Permata Wangsa Śailendra)
  5. Pembangunan Candi Kalasan adalah perintah dari Raja Sailendra kepada Rakai Panangkaran yang telah menjadi raja bawahan dan
  6. Raja Sailendra yang menjadi atasan Rakai Panangkaran adalah Dharanindra.
  7. Dharanindra menjadi atasan dari Rakai Panunggalan yang merupakan pengganti Rakai Panangkaran

2. Teori Kedua: Dharanindra nama lain dari Rakai Panangkaran

Teori kedua ini di pelopori oleh Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosutanto, yang dimana pada teori ini menyebutkan bahwa Rakai Panangkaran adalah putera Sanjaya, dan keduanya juga sama-sama berasal dari Wangsa Sailendra. Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosutanto menolak tentang adanya Wangsa Sanjaya, karena menurutnya Wangsa Sanjaya tersebut tidak pernah ada, dan Sanjaya sendiri adalah merupakan anggota dari Wangsa Sailendra. 

Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosutanto menolak tentang adanya Wangsa Sanjaya, karena istilah Wangsa Sanjaya sendiri tidak pernah dijumpai didalam prasasti manapun, berbeda dengan Wangsa Sailendra yang termuat didalam beberapa prasasti. Teori ini beranggapan bahwa Rakai Panangkaran adalah anggota Wangsa Sailendra, karena Rakai Panangkaran pada Prasasti Kalasan (778) dipuji sebagai Sailendrawangsatilaka. 

Rakai Panunggalan
Selain itu Prasasti Kalasan dan Prasasti Kelurak yang dengan jelas menyebutkan nama Dharanindra, dibuat hanya berselisih 4 tahun, sehingga kemungkinan besar kedua prasasti tersebut dikeluarkan oleh raja yang sama. Oleh sebab itulah Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosutanto menarik kesimpulan bahwa Dharanindra adalah nama asli dari Rakai Panangkaran. Berikut ini adalah beberapa point dari teori yang dikemukakan oleh Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosutanto, yaitu sebagai berikut:
  1. Dalam Prasasti Kalasan hanya adanya satu orang raja, yaitu Śri Mahārāja Dyāh Pancapana Panamkarana Sang Śailendravamsatilaka (Permata Wangsa Śailendra)
  2. Rakai Panangkaran adalah putera Sanjaya dan sama-sama termasuk anggota Wangsa Sailendra. Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosutanto juga menolak adanya Wangsa Sanjaya.
  3. Śri Mahārāja Dyāh Pancapana Panamkarana identik dengan Dharanindra

3. Teori Ketiga: Dharanindra adalah nama asli dari Rakai Panunggalan


Teori ketiga ini di pelopori oleh Slamet Muljana, yang dimana pada teori ini disebutkan bahwa Dharanindra adalah nama asli dari Rakai Panunggalan, yaitu raja ketiga Kerajaan Medang yang namanya disebut setelah Rakai Panangkaran pada Prasasti Mantyasih. Teori ini muncul setelah Slamet Muljana membandingkan tahun pembuatan Prasasti Kelurak dengan Prasasti Matyasih serta Prasasti Wanua Tengah III. 

Rakai Panunggalan
Dari perbandingan tersebut dapat diketahui bahwa Prasasti Kelurak dikeluarkan pada masa pemerintahan Rakai Panaraban yang identik dengan Rakai Panunggalan, sehingga Slamet Muljana menyimpulkan bahwa Dharanindra yang mengeluarkan Prasasti Kelurak juga identik dengan Rakai Panunggalan yang telah disebutkan oleh Prasasti Matyasih dan Rakai Panaraban yang telah disebutkan oleh Prasasti Wanua Tengah III. Tokoh yang bernama Dharanindra ini-lah yang oleh Slamet Muljana diyakini telah berhasil melebarkan wilayah kekuasaan Wangsa Sailendra sampai ke Semenanjung Malaya dan daratan Indocina.

Slamet Muljana telah memadukan Prasasti Ligor A dan Ligor B dengan isi berita yang terdapat dalam Prasasti Po Ngar, yang menyebutkan bahwa Jawa pernah menjajah Kamboja (Chen-La) sampai tahun 802 M, selain itu Jawa juga pernah menyerang Campa pada tahun 787 M. Jadi menurut teori Slamet Muljana, Dharanindra sebagai Raja Jawa telah berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya, termasuk daerah bawahannya di Semenanjung Malaya, yaitu Ligor. 

Rakai Panunggalan
Prasasti Ligor B kemudian ditulis oleh Dharanindra sebagai pertanda bahwa Wangsa Sailendra telah berkuasa atas Sriwijaya, Prasasti Ligor B sendiri berisi tentang puji-pujian untuk dirinya yang dianggap sebagai penjelmaan Wisnu. Daerah Ligor ini kemudian dijadikan Dharanindra sebagai pangkalan militer untuk menyerang Campa pada tahun 787 M dan juga Kamboja. Penaklukan Dharanindra terhadap Sriwijaya, Ligor, Campa, dan Kamboja ini sesuai dengan julukan Dharanindra, yaitu "Penumpas Musuh-Musuh Perwira".

Namun Kamboja sendiri kemudian akhirnya berhasil merdeka di bawah pimpinan Jayawarman II pada tahun 802 M, yang dimana pada saat itu kemungkinan Dharanindra telah meninggal dunia. Namun berbeda dengan Slamet Muljana yang menganggap Wisnu sebagai Dharanindra karena kemiripan julukan serta kemiripan arti nama (Wisnu dan Dharanindra menurut Slamet Muljana sama-sama berarti “Pelindung Jagad”), George Coedes justru menganggap bahwa Maharaja Wisnu adalah merupakan ayah dari Dharanindra. 

George Coedes menganggap bahwa terdapat 2 raja yang disebutkan dalam Prasasti Ligor, yaitu Wisnu dan Sri Maharaja yang George Coedes anggap sebagai putera dari Wisnu. Sri Maharaja sendiri dianggap George Coedes sama dengan Dharanindra, seorang penguasa Jawa yang telah mengeluarkan Prasasti Kelurak yang telah menaklukkan Rakai Panangkaran, putera Sanjaya.Spoiler for

4. Teori Penulis mengenai Rakai Panunggalan

Berdasarkan ketiga teori yang berkembang mengenai Rakai Panunggalan seperti yang telah disebutkan diatas, serta berdasarkan bukti-bukti sejarah yang otentik, penulis mendukung teori Slamet Muljana yang menyebutkan bahwa Dharanindra adalah Rakai Panunggalan

Rakai Panunggalan
Penulis sendiri telah mencoba membandingkan Prasasti Ligor A dan B, Prasasti Matyasih, Prasasti Kelurak, Prasasti Wanua Tengah III dan Prasasti Po Ngar, sehingga menghasilkan kesimpulan bahwa Rakai Panunggalan (Prasasti Mantyasih) atau yang disebut juga Rakai Panaraban (Prasasti Wanua Tengah III) adalah merupakan tokoh yang sama dengan Dharanindra. Pada Prasasti Wanua Tengah III, disebutkan bahwa Rakai Panaraban memerintah pada tahun 784 M - 803 M. 

Sementara itu, Dharanindra memerintahkan pembangunan Manjusrigrha pada tahan 782 M (Prasasti Kelurak) kemudian menyerang Champa pada tahun 787 M dan menjajah Kamboja Selatan (Chen-La) dari tahun 790 M hingga sampai dengan tahun 802 M. Dari perbandingan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Dharanindra sejaman dengan Rakai Panunggalan atau bisa disebut juga merupakan tokoh yang sama.

Rekonstruksi Sejarah Rakai Panunggalan

Dari pendapat yang telah penulis jabarkan diatas, penulis kemudian mencoba melakukan rekonstruksi sejarah mengenai Rakai Panunggalan atau Dharanindra ini, dengan mengumpulkan berbagai macam sumber lainnya, yaitu sebagai berikut:

Rakai Panunggalan
Pada tahun 668 Çaka, bulan Asuji, tanggal 15 Paroterang, hari Salasa Pahing Paningron (4 Oktober 746 M), Rakai Panangkaran naik tahta menggantikan Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, yang meninggal akibat menjalani ritual yang sangat berat atas saran Sang Guru, Resi Brahmana pemuja Siwa. 

Akibat kematian Sanjaya inilah kemudian Rakai Panangkaran berpindah keyakinan menjadi penganut agama Buddha Mahayana dan memindahkan pusat kerajaannya ke arah timur.Peristiwa tersebut kemudian diabadikan oleh Rakai Panangkaran dengan membuat Prasasti Raja Sankhara (778). 

Setelah naik tahta, Rakai Panangkaran kemudian mengangkat sang putera mahkota yang bernama Indra atau Dharanindra, menjadi raja muda di daerah Panunggalan, sehingga disebut dengan nama Rakai Panunggalan. Pada tahun 750 M, seorang pemuka agama yang bernama Bhanu, atas persetujuan dari Siddhdewi yang penulis anggap sebagai permaisuri dari Rakai Panangkaran, telah memberikan anugerah sima kepada Desa Hampran. Rakai Panangkaran sendiri kemudian menganugerahkan sawah milik kerajaan (sawah haji lān) di Wanua Tengah, Watak Pikatan kepada bihāra di Pikatan. 

Luas sawah tersebut sisi utara memanjang ke timur 182 dpa sihwā, sisi selatan memanjang ke timur 162 dpa sihwā, sisi timur memanjang ke utara 160 dpa sihwā, sisi timur memanjang ke utara 160 dpa sihwā, sisi barat memanjang ke selatan 162 dpa sihwā, dan benihnya 3 tū.Pada periode tahun 750 - 770 M, pengaruh Kerajaan Sriwijaya yang berkuasa dan menguasai Swarnadwipa dan Jawadwipa sudah mulai kehilangan pengaruhnya akibat konflik perebutan kekuasaan yang terjadi di internal kerajaan. 

Rakai PanunggalanMelihat kondisi Kerajaan Sriwijaya yang sudah melemah akibat kudeta yang dilakukan Rudra Vikrama terhadap Indrawarnam, Rakai Panangkaran kemudian memerintahkan putera mahkotanya, Dharanindra yang berkedudukan di panunggalan untuk berangkat menuju Swarnadwipa untuk menaklukkan Kerajaan Sriwijaya dan memperluas pengaruh Medang hingga ke wilayah Kamboja. 

Sekitar tahun 750 - 775 M, Dharanindra telah berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya, dan terus menaklukkan wilayah-wilayah lainnya di Swarnadwipa hingga kemudian mencapai Ligor. Pada tahun 775 M, Ligor berhasil ditaklukkan oleh Dharanindra, dan kemudian di buatlah Prasasti Ligor A (775) sebagai tanda penguasaan Kerajaan Medang terhadap Ligor.

Pada saat menguasai Ligor, Dharanindra ini masih berstatus sebagai raja bawahan sekaligus putera mahkota Kerajaan Medang, oleh sebab itulah di Prasasti Ligor A ini, Dharanindra hanya menyebutkan dirinya sebagai Raja Swarnadwipa (karena sebelumnya telah menaklukan sriwijaya dan wilayah Swarnadwipa lainnya), bukan Sri Maharaja. Setelah menguasai Ligor, Dharanindra ini kemungkinan besar memerintah di Kerajaan Sriwijaya. 

Rakai Panunggalan3 tahun setelah penaklukan Ligor, tepatnya pada tahun 778 M, Dharanindra yang masih berada di Swarnadwipa mengutus guru-guru agamanya untuk menghadap Sri Maharaja Rakai Panangkaran untuk meminta dan membujuk Sri Maharaja untuk mendirikan bangunan bagi Dewi Tara. Berita ini tercantum pada Prasasti Kalasan, dan pada prasasti tersebut Dharanindra disebut sebagai Śailendravamsatilaka (Permata Wangsa Śailendra). Setelah menyetujui permohonan tersebut, Rakai Panangkaran kemudian mengeluarkan Prasasti Raja Sankara untuk mengenang alm, ayahnya (Sanjaya) dan proses perpindahkeyakinannya dari Siwa ke Buddha. 

Berselang 4 tahun setelah permohonan tersebut, pada tahun 782 M, Dharanindra dipanggil kembali ke Jawadwipa untuk mempersiapkan dirinya menaiki tahta kerajaan. Setelah kembali ke Jawadwipa, Dharanindra kemudian memerintahakan Pendeta Kumaragosha untuk mendirikan bangunan suci untuk Arca Manjusri dan memerintahkan Sri Dharmasetu untuk menjaga bangunan suci tersebut. 

Rakai PanunggalanBerita ini tercantum pada Prasasti Kelurak, dan pada prasasti tersebut Dharanindra disebut sebagai Wairiwarawiramardana (Penumpas Musuh-Musuh Perwira).Pada tahun 784 M, Sri Maharaja Rakai Panangkaran turun tahta untuk menjadi pendeta (Lengser keprabon, madeg pandito) dan kemudian digantikan anaknya Dharanindra dengan gelar abhisekanya Sri Maharaja Rakai Panunggalan

Setelah Dharanindra naik tahta, ekspansi Kerajaan Medang tidak berhenti di Ligor namun terus bergerak kearah utara sehingga pada tahun 787 M, ekspansi Medang di bawah pemerintahan Dharanindra berhasil menguasai Kamboja serta berhasil menahan Jayawarman II yang kemudian dibawa ke Istana Medang di Jawa. 

Rakai Panunggalan
Setelah berhasil menaklukkan Kamboja, Dharanindra menambahkan tulisan di sisi lain Prasasti Ligor A, yang disebut Prasasti Ligor B. Pada Prasasti Ligor B ini, Dharanindra menyebutkan dirinya sebagai Wisnu yang bergelar Sri Maharaja.Namun penguasaan Medang terhadap Kamboja tidak berlangsung lama, karena pada tahun 802 M, Kamboja dapat melepaskan diri dari kekuasaan Medang, dan kemudian mendirikan kerajaan yang merdeka, yaitu Kerajaan Khamer dengan rajanya yang bernama Jayawarman II. Pada tahun 792 M. 

Rakai Panangkaran yang telah menjadi pandito mendirikan bangunan suci untuk Avalokiteśvara (Prasasti Abhayagiri Wihara), dan kemudian meninggal ditahun yang sama. Pada Prasasti Manjusrigrha (792), disebutkan bahwa adanya penyempurnaan Prasada yang bernama Wajrasana Manjusrigrha oleh Māyaka Diraṇḍalūrawaŋ untuk dipersembahkan kepada Sri Nareswara (raja), yang telah menjelma ke alam kedewataan (meninggal dunia). 

Kemungkinan besar penyempurnaan Prasada yang bernama Wajrasana Manjusrigrha ini dilakukan atas perintah Dharanindra untuk alm. Ayahnya, Rakai Panangkaran. Penulis sendiri memperkirakan bahwa Rakai Panunggalan ini meninggal pada tahun 803 M, karena pada tahun tersebut Rakai Warak dyah Manara telah menaiki tahta Kerajaan Medang.

Sumber dan Referensi:

  1. Nastiti, Titi Surti, Yusmaini Eriawati, Frandus, dan Nico Alamsyah. 2015. “Eksplorasi Peninggalan Kerajaan Matarām Kuna di Jawa Timur (Abad ke-10-11 Masehi) di Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur”, Laporan Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
  2. Sumadio, Bambang. 2008. Zaman Kuna. Jilid II dari Sejarah Nasional Indonesia. Edisi pemutakhiran. Disunting oleh Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosusanto.Jakarta: Balai Pustaka
  3. Ayatrohaedi 1986 “Hubungan Keluarga antara Sanjayawangsa dan Sailendrawangsa”. Dalam Romantika Arkheologia, hal. 4-7. Jakarta: Keluarga Mahasiwa Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
  4. Boechari 1966 “Peminary Report on the Discovery of Old Malay Incription at Sojomerto”. Dalam MISI 3 Hlm. 2–3; 241-251.
  5. Bosch, 1925 “Een oorkonde van het groot kloster van Nalanda”. Dalam TBG 65 : 509-588.
  6. Bosch, 1928 “De Inscriptie van Kelurak”. Dalam TBG 68: 1-64. 1975 Crivijaya, Cailendra dan Sanjayavamca, (seri terjemahan no.50). Jakarta : Bhratara
  7. Coedes, G. 1918 “Le Royaume de Crivijaya”, BEFEO 18: 1-36. 1934 “The Origin of the Cailendra of Indonesia”. JGIS I: 66-70.
  8. Damais, L.C. 1970 Repertoire onomastique de l’epigrphi Javanaise. Paris : Ecole Francaise d’extreme-Orient.
Sumber Artikel : https://www.kaskus.co.id/thread/59e1903cddd7703a248b4567/sri-maharaja-rakai-panunggalan-sang-dharanindra-sri-sanggramadhananjaya/?ref=homelanding&med=hot_thread

Kete Kesu : Menjelajahi Potret Kebudayaan Megalitik Tanah Toraja

Kete Kesu - NusaPedia - Kete Kesu - Membicarakan keunikan kebudayaan indonesia tidak akan ada habisnya,mulai dari sabang hingga marauke tentunya memiliki keanekaragaman budayanya masing-masing.Berbicara mengenai Kete Kesu dan Suku Toraja tentu dalam benak kita terbayang sebuah etnik suku yang memiliki rumah panggung besar dengan atap menyerupai moncong perahu dan upacara adatnya yang melibatkan banyak orang untuk terlibat dan reputasinya pada hari ini telah mengarungi banyak negara. 

Kete Kesu
Daya tarik yang berasal dari khasanah kebudayaannya, arsitektur tradisional yang inspiratif serta kaya makna, dan keagungan prosesi adatnya menjadikan Tana Toraja memiliki nilai-nilai tersendiri yang pada hari ini banyak diminati oleh wisatawan untuk mengunjungi daerah tersebut. Hal ini diperkuat dengan kearifan lokal yang nilai-nilainya masih dijalankan oleh masyarakat sekitar Tana Toraja. Suku Tana Toraja yang pada hari ini masih mendiami daerah pegunungan masih mempertahankan gaya hidup Austronesia yang asli dan cenderung memiliki kemiripan dengan budaya yang ada di Nias.

Pada hari ini diperkirakan populasi masyarakat suku toraja telah mencapai sekitar satu juta jiwa. Sekitar 50% dari total jumlah masyarakat Suku Toraja masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja dan kabupaten tetangga seperti Kabupaten Toraja Utara dan Kabupaten Mamasa sisanya banyak masyarakat yang berasal dari Suku Toraja yang kini telah menetap di kota-kota lainnya di Sulawesi dan tidak sedikit juga yang merantau keluar Sulawesi. Kepercayaan yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Toraja adalah Kristen. Sementara sebagian ada yang menganut agama Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal dengan Aluk To Dolo.

Mengenal Budaya Kete Kesu

Kete Kesu
Kete Kesu merupakan wisata pavorit terletak di provinsi Sulawesi Selatan kawasan kabupaten Toraja. Kelompok 1 memfokuskan penelitian di kampung Kete’ Kesu yaitu: Upacara pemakaman (rante), area kuburan, area pemukiman yang terdiri dari rumah Tongkonan (rumah adat suku Toraja), ekonomi, persepsi dan perilaku masyrakat setempat serta agama yang berperan di Toraja.

Kete’ Kesu adalah suatu desa wisata di kawasan Tana Toraja yang dikenal karena adat dan kehidupan tradisional masyarakat dapat ditemukan di kawasan ini.Di dalam Kete Kesu terdapat peninggalan purbakala berupa kuburan batu yang diperkirakan berusia 500 tahun lebih. Di dalam kubur batu yang menyerupai sampan atau perahu tersebut, tersimpan sisa-sisa tengkorak dan tulang manusia. 

Hampir semua kubur batu diletakkan menggantung di tebing atau gua. Selain itu, di beberapa tempat juga terlihat kuburan megah milik bangsawan yang telah meninggal dunia.Terletak 4 km di bagian tenggara Rantepao, Kete Kesu terdiri dari padang rumput dan padi yang mengelilingi rumah adat Tana Toraja, yaitu Tongkonan. Sebagian rumah adat yang terletak di desa ini diperkirakan berumur sekitar 300 tahun dan letakknya berhadapan dengan lumbung padi kecil.

Kete Kesu
Tidak hanya terdiri dari 6 Tongkonan dan 12 lumbung padi, Kete Kesu juga memiliki tanah seremonial yang dihiasi oleh 20 menhir. Di dalam salah satu Tongkonan terdapat museum yang berisi koleksi benda adat kuno Toraja, mulai dari ukiran, senjata tajam, keramik, patung, kain dari Cina, dan bendera Merah Putih yang konon disebutkan merupakan bendera pertama yang dikibarkan di Toraja. Selain itu, di dalam museum ini juga terdapat pusat pelatihan pembuatan kerajinan dari bambu.

Desa Kete Kesu merupakan kawasan cagar budaya dan pusat berbagai upacara adat Toraja yang meliputi pemakaman adat yang dirayakan dengan meriah (Rambu Solo), upacara memasuki rumah adat baru (Rambu Tuka), serta berbagai ritual adat lainnya. Pada bulan Juni - Desember, berbagai upacara dan perayaat adat umumnya dilakukan oleh masyarakat sekita di lokasi ini. Beberapa makam adat di Kete Kesu telah ditutup dengan jeruji besi untuk mencegah pencurian patung jenazah adat (tau-tau). 

Kete Kesu
Beberapa jenazah dapat dilihat jelas dari luar bersama dengan harta yang dikuburkan di dalamnya. Peti mati tradisional (erong) yang terdapat di desa ini tidak hanya berbentuk seperti perahu, namun juga ada yang berbentuk kerbau dan babi dengan pahatan atau ukiran yang menghiasi. 

Kete Kesu memang unik. Begitu memasuki perkampungan, berderet tongkonan dan alang sura yang saling berhadapan. Tongkonan adalah rumah adat Toraja, sedangkan alang sura merupakan lumbung padi. Tongkonan-tongkonan di Kete Kesu memiliki ukiran yang indah. Tanduk kerbau berderet di depannya, menandakan tingginya status sosial si pemilik rumah.Tongkonan dan alang sura dimiliki secara turun temurun. 

Tongkonan-tongkonan di Kete Kesu sudah tua, bahkan ada yang diperkirakan berumur sekitar 300 tahun. Atapnya yang terbuat dari susunan bambu sudah ditumbuhi rumput liar. Namun, pemiliknya sengaja tidak membersihkannya. Rumput ini bisa berguna untuk mencegah kebocoran dari air hujan.Selain deretan tongkonan dan alang sura, kita juga bisa melihat ukiran dan pahatan patung di Kete Kesu. Beberapa penduduk desa memang ahli mengukir dan memahat patung. 

Kete Kesu
Mereka juga terbiasa membuat tau-tau , patung yang digunakan untuk upacara pemakaman dalam adat Toraja. Mereka juga sering menggunakan keahlian untuk mengukir peti mati dan rumah adat. Di belakang deretan tongkonan, ada kompleks pemakaman yang berdinding batu kapur. Konon, makam-makam tua di sini berumur hingga 700 tahun. 

Tulang-tulang dan tengkorak berserakan di dalam gua dan di sekitar pemakaman. Peti-peti mati atau erong dipahat menyerupai bentuk perahu, kerbau, dan babi. Ada juga patene atau makam modern yang berbentuk rumah-rumahan. Puluhan tau-tau yang membisu, terkunci di dalam sebuah ruangan khusus. Kalau tidak dikunci, ada saja orang yang berniat jahat dan mencuri tau-tau itu.Kete Kesu memang salah satu warisan Toraja yang istimewa. Kete Kesu telah menyimpan banyak cerita tentang budaya Toraja.

Uniknya Budaya Toraja

Kete Kesu
Toraja ditetapkan sebagai cagar budaya oleh UNESCO. Mengapa bisa ditetapkan sebagai cagar budaya? Tentu karena Kete’ Kesu mempunyai keunikan budaya yang tak dimiliki tempat lain dan wajib dilestarikan.

Suku Toraja (Kete’ Kesu) melakukan tarian dalam beberapa acara, kebanyakan dalam upacara penguburan. Mereka menari untuk menunjukkan rasa duka cita, dan untuk menghormati sekaligus menyemangati arwah almarhum karena sang arwah akan menjalani perjalanan panjang menuju akhirat.

Secara sadar atau tidak sadar, masyarakat toraja hidup dan tumbuh dalam sebuah tatanan masyarakat yang menganut filosofi tau. Filosofi tau dibutuhkan sebagai pegangan dan arah menjadi manusia (manusia="tau" dalam bahasa toraja) sesungguhnya dalam konteks masyarakat toraja. Filosofi tau memiliki empat pilar utama yang mengharuskan setiap masyarakat toraja untuk menggapainya, antara lain: - Sugi' (Kaya) - Barani (Berani) - Manarang (Pintar) - Kinawa (memiliki nilai-nilai luhur, agamis, bijaksana) Keempat pilar di atas tidak dapat di tafsirkan secara bebas karena memiliki makna yang lebih dalam daripada pemahaman kata secara bebas. 

Seorang toraja menjadi manusia yang sesungguhnya ketika dia telah memiliki dan hidup sebagai Tau.Masyarakat suku Toraja memiliki sedikit gagasan secara jelas mengenai diri mereka sebagai sebuah kelompok etnis sebelum abad ke-20. Sebelum penjajahan Belanda dan masa pengkristenan, suku Toraja, yang tinggal di daerah dataran tinggi, dikenali berdasarkan desa mereka, dan tidak beranggapan sebagai kelompok yang sama. 

Meskipun ritual-ritual menciptakan hubungan di antara desa-desa, ada banyak keragaman dalam dialek, hierarki sosial, dan berbagai praktik ritual di kawasan dataran tinggi Sulawesi. "Toraja" (dari bahasa pesisir to, yang berarti orang, dan Riaja, dataran tinggi) pertama kali digunakan sebagai sebutan penduduk dataran rendah untuk penduduk dataran tinggi. Akibatnya, pada awalnya "Toraja" lebih banyak memiliki hubungan perdagangan dengan orang luar, seperti suku Bugis dan suku Makassar, dan suku Mandar yang menghuni sebagian besar dataran rendah di Sulawesi daripada dengan sesama suku di dataran tinggi.
Kete Kesu
Kehadiran misionaris Belanda di dataran tinggi Toraja memunculkan kesadaran etnis Toraja di wilayah Sa'dan Toraja, dan identitas bersama ini tumbuh dengan bangkitnya pariwisata di Tana Toraja. Sejak itu, Sulawesi Selatan memiliki empat kelompok etnis utama suku Bugis (meliputi pembuat kapal dan pelaut), suku Makassar (pedagang dan pelaut), suku Mandar (pedagang, pembuat kapal dan pelaut), dan suku Toraja (petani di dataran tinggi).

Suku Toraja percaya bahwa ritual kematian akan menghancurkan jenazah jika pelaksanaannya digabung dengan ritual kehidupan. Kedua ritual tersebut sama pentingnya. Ketika ada para misionaris dari Belanda, orang Kristen Toraja tidak diperbolehkan menghadiri atau menjalankan ritual kehidupan, tetapi diizinkan melakukan ritual kematian. Akibatnya, ritual kematian masih sering dilakukan hingga saat ini, tetapi ritual kehidupan sudah mulai jarang dilaksanakan.

Bagaimana Cara Anda Kesana..??

Kete Kesu
Bandara Internasional Sultan Hasanuddin terletak 17km sebelah timur laut dari Makassar, ibukota Sulawesi Selatan dan kota terbesar di pulau Sulawesi. Penerbangan internasional tersedia dari Singapura dan Kuala Lumpur masing-masing pada Garuda dan Air Asia, dan dalam negeri dari Jakarta, Surabaya, Bali, Yogyakarta, Balikpapan dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia.
Satu-satunya perjalanan ke Toraja dari bandara Makassar melalui darat. Tidak ada penerbangan antara Makassar dan Toraja.

• Tersedia ke Rantepao yang berangkat dari Makassar setiap hari. Perjalanan memakan waktu sekitar 8 jam termasuk berhenti untuk makan. Tiket harus dibeli di kota, berangkat dari terminal bus DAYA, 20 menit dari kota oleh bemo. Bus ini biasanya pergi di pagi hari (jam 7 pagi) dan di malam hari (pukul 7 malam).

• Beberapa perusahaan di Rantepao menjalankan bus kembali ke Makassar. Jumlah bus setiap hari tergantung pada jumlah penumpang.
• Cara yang terbaik dan termudah adalah menghubungi agen perjalanan yang berpengalaman untuk mengatur dan mengurus jadwal lengkap Anda ke dataran tinggi Toraja.

Setelah di Toraja, ke Kete Kesu ' sekitar setengah jam perjalanan dari Rantepao, pusat pariwisata Toraja. Banyak pihak hotel mengatur paket wisata atau penyewaan mobil, tetapi kota ini juga dapat dieksplorasi melalui taksi, atau transportasi lokal umum seperti Bemo, (mini-van) atau ojek).

Kapan Sebaiknya Anda Harus Kesana...??

Kete Kesu
Waktu terbaik untuk mengunjungi, dan menikmati "wisata budaya penuh" dari Kete Kesu 'dari bulan Juni sampai Desember. "Rambo Solo" biasanya diadakan selama bulan-bulan ini, dan bisa bertahan hingga seminggu. Rambo Solok adalah pemakaman tradisional yang rumit dan upacara yang paling penting di Toraja.

Puluhan hingga ratusan kerbau dipotong selama upacara, seperti Suku Toraja percaya bahwa roh-roh hewan adalah sarana bagi jiwa untuk mencapai Nirvana. Kerbau yang juga merupakan simbol kekayaan dan kekuasaan; jumlah hewan kurban melambangkan status individu. Untuk kelas menengah, 8 kerbau dan 50 ekor babi yang diperlukan untuk upacara, sementara bangsawan mungkin memerlukan hingga 100 kerbau. Tanduk kerbau dan rahang yang terakumulasi selama beberapa generasi, dan digunakan untuk menghias Tongkonan, bermegah atas jumlah hewan kurban di pemakaman.

Kete Kesu
Rambo Solo adalah upacara yang sangat mahal dan dapat ditunda selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, dalam rangka memenuhi aturan rinci dan persiapan yang panjang. Selama waktu ini, mayat disimpan dalam ruang di rumah, dan tidak boleh dikubur di atas bukit.

Menurut tradisi, mereka yang dimakamkan secara rahasia tanpa upacara dan pengorbanan, akan membawa malu kepada nenek moyang mereka di surga serta keturunan mereka di bumi. Tadibaa Bongi adalah istilah bagi mereka yang kematiannya tidak dirayakan, dan digunakan untuk mengekspresikan sikap pengecut dan aib bagi keluarga.

Setelah penyembelihan binatang, upacara terakhir diadakan di gereja, sebagian besar masyarakat Suku Toraja Kristen. Kemudian peti mati dibawa dalam prosesi ke situs pemakaman. Massa mengikuti jejak di belakang, bertepuk tangan, tertawa dan bersorak-sorai, seperti kebiasaan untuk menakut-nakuti roh-roh jahat. Susah payah orang-orang membawa sebuah peti mati, melalui tangga bambu panjang, dan ke kuburan yang ditentukan. Akhirnya, peti mati diposisikan di tempat peristirahatan terakhir, dan orang-orang mengucapkan selamat tinggal terakhir mereka.

Sebenarnya Indonesia memiliki ragam kebudayaan dan suku-suku di dalamnya, tetapi banyak masyarakat yang tidak mengenal kebudayaan apa saja yang ada dinegerinya. Salah satu contohnya adalah Toraja dan Kete Kesu, suku yang berdiam di provinsi Sulawesi Selatan ini memiliki banyak kebudayaan-kebudayaan yang unik. Dari mulai suku-suku, bahasa, adat perkawinan, upacara adat kematian, makanan khas, dan objek wisata yang beragam dan unik.