BREAKING NEWS

7 Tempat Wisata di Indonesia yang Menjadi Habitat Satwa Langka


7 Tempat Wisata di Indonesia yang Menjadi Habitat Satwa Langka

Sebagai negara dengan iklim tropis, Indonesia menjadi habitat bagi jutaan spesies hewan yang tersebar di hutan hujan dari Sabang hingga Merauke. Sayangnya, beberapa spesies hewan tersebut telah dikategorikan sebagai hewan langka yang berada diambang kepunahan akibat perburuan liar, perubahan ekosistem, dan aktivitas manusia lainnya.
Terdapat tempat wisata di Indonesia yang memungkinkan wisatawan untuk mengenal lebih dekat bahkan bermain bersama hewan-hewan langka asli Indonesia. Berikut adalah ulasannya.

1. Taman Nasional Lorentz – Kanguru Pohon

Kanguru Pohon Wondiwoi, Kangurunya Indonesia yang berada di hutan Papua. (genpi.co)

Banyak yang menyangka hanya negara Australia saja yang memiliki kanguru. Nyatanya, hewan yang memiliki kantung di perutnya ini (Marsupialia), hidup juga di Indonesia, lebih tepatnya di tanah Papua.

Di Taman Nasional Lorentz Terdapat enam spesies Kangguru Pohon yang hidup di Indonesia, di antaranya adalah Kangguru Pohon Ndomea (Dendrolagus dorianus), Kangguru Pohon Hias (Dendrolagus goodfellowi), Kangguru Pohon Wakera (Dendrolagus inustus), Kangguru Pohon Mbaiso (Dendrolagus mbaiso), Kangguru Seri (Dendrolagus stellarum) dan Kangguru Pohon Nemena (Dendrolagus ursinus). Semua spesies Kangguru Pohon ini dapat ditemukan di hutan Papua. Salah satu spesies yang paling terancam di Indonesia adalah Kangguru Pohon Mbaiso (mantel Emas), spesies ini diklasifikasikan ke dalam spesies Terancam Punah (Endangered/EN) dalam Daftar Merah IUCN.

Spesies ini memiliki rambut-rambut halus pendek berwarna coklat muda. Leher, pipi dan kakinya berwarna kekuningan. Sisi bawah perut berwarna lebih pucat dengan dua garis keemasan dipunggungnya. Ekor panjang dan tidak prehensil dengan lingkaran-lingkaran terang. Kanguru pohon mantel emas memiliki warna muka lebih terang atau merah muda, pundak keemasan, telinga putih dan berukuran lebih kecil daripada jenis kanguru pohon Hias.

Sayangnya, kanguru pohon mantel emas merupakan salah satu jenis kanguru pohon yang paling terancam kepunahan diantara semua kanguru pohon. Spesies ini telah punah di sebagian besar daerah habitat aslinya. Berdasarkan data IUCN Redlist status populasi kanguru pohon mantel emas di alam adalah satwa yang mengalami ancaman kritis (Critically Endangered), satu status mendekati punah di alam (extinct in the wild) sebelum akhirnya punah (extinct).

2. Sungai Mahakam – Pesut

Pesut Mahakam

Sungai Mahakam merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Provinsi Kalimantan Timur dan menjadi habitat dari pesut (Orcaella brevirostris). Pesut mahakam juga dikenal dengan istilah ‘irrawaddy dolphin’. Tidak seperti mamalia air lain seperti lumba-lumba dan ikan paus yang hidup di laut, pesut mahakam hidup di sungai-sungai daerah tropis.

Populasi satwa yang berstatus ‘Rentan’ bahkan tergolong kritis ini hanya terdapat di tiga sungai besar, yakni Sungai Irrawaddy di Myanmar, Sungai Mekong di Kamboja dan Laos, dan area Delta Mahakam di Indonesia. Hingga saat ini masih banyak orang awam yang salah menafsirkan antara pesut mahakam dengan ikan. Terkadang satwa ini sering disebut ‘ikan pesut’ padahal pesut mahakam termasuk lumba-lumba, dan golongan lumba-lumba adalah mamalia, bukan ikan.

Kelompok yang hidup di Sungai Mahakam adalah satu-satunya kelompok lumba-lumba air tawar yang ada di Indonesia hingga saat ini.Berdasarkan sumber yang didapat dari kajian ilmiah, pesut mahakam termasuk mamalia yang hidup berkelompok antara 3-7 ekor. Setiap satu atau dua menit mereka akan muncul ke permukaan untuk bernapas. Selain itu, aktivitasnya adalah bermain dan makan. Perilaku makan pesut mahakam adalah dengan menyemprotkan air dari dalam mulutnya, yang berguna untuk melemaskan ikan sebagai mangsanya.
Pesut mahakam ditetapkan sebagai Spesies Prioritas untuk kelompok mamalia di Indonesia, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 57 Tahun 2008 tentang Arahan Strategis Konservasi Spesies Nasional 2008-2018 (Kemenhut, 2008).

3.Taman Nasional Teluk Cenderawasih – Hiu Paus

Kunjungan Kerja Menhut di Kawasan Taman Nasional Teluk Cendrawasih (ppid.menlhk.go.id )

Sebagai kawasan konservasi laut terluas di Indonesia, Taman Nasional Teluk Cenderawasih di Papua Barat memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, habitat terumbu karang, dan beragam spesies laut langka. Salah satu spesies unik yang terdapat di wilayah ini adalah hiu paus, spesies ikan terbesar di dunia. Di Teluk Cenderawasih, ikan raksasa ini dapat dengan mudah dijumpai.

Hiu Paus (Rhincodon typus) kerap kali menampakkan dirinya di permukaan air. Umumnya mereka muncul di sekitar bagan (rumah terapung tempat menangkap ikan) yang banyak ditemukan di sepanjang perairan Kwatisore. Sekumpulan ikan puri (ikan-ikan kecil) yang terkumpul di jaring-jaring nelayan tersebut menjadi magnet bagi sekawanan hiu paus tersebut.

Fenomena itulah yang menjadikan kawasan perairan Indonesia timur ini memiliki potensi yang besar untuk pengembangan industri ekowisata, jelas Dr. Brent Steward, Peneliti senior lembaga penelitian non profit berbasis di California

Pada laporan teknis yang ditulisnya, Brent juga memaparkan keunikan lainnya dari hiu paus di Kwatisore. Para nelayan lokal di sekitar bagan biasa memanggil hiu paus dengan menepuk-nepuk permukaan air seraya melempar segenggam ikan puri. Tidak lama kemudian, gerombolan satwa langka ini pun berenang mendekati bagan, membuka mulutnya yang lebar, dan melahap ikan puri. Pada masa-masa inilah, interaksi dengan hiu paus dapat dengan mudah dilakukan. Mereka umumnya berenang-renang di sekitar bagan dalam waktu yang lama, bahkan seringkali muncul di permukaan. Pemandangan langka yang tidak didapatkan di lokasi agregasi hiu paus lainnya.

Untuk pertama kalinya, para ilmuwan bersama pakar dari Amerika Serikat berhasil melaksanakan pemeriksaan kesehatan dari populasi hiu paus –yang sejak tahun 2016 termasuk dalam status "Terancam Punah" (Endangered) dalam Daftar Merah Spesies Terancam Punah.

4. Taman Nasional Komodo – Komodo

Komodo di Taman Nasional Komodo. | duchy /Shutterstock

Taman Nasional Komodo didirikan pada tahun 1980, kawasan ini punya luas mencapai 173.300 hektar. Selain menjadi tempat tinggal komodo yang terancam punah, Taman Nasional Komodo juga menjadi rumah bagi aneka satwa lain, seperti rusa, anjing hutan, monyet ekor panjang, dan berbagai jenis burung.
Di sana, ragam flora dan faunanya begitu unik dan eksotis.

Komodo atau yang dikenal dengan nama Komodo Dragon, mulai dikenal oleh kalangan biologis pada tahun 1911, setelah adanya laporan penemuan satwa ini dari Perwira Pemerintah Hindia Belanda J.K.H. Van Steyn kepada kurator museum zoologi Bogor, Peter Ouwens.

Kemudian, satwa ini pun diberi nama Varanus Komodensis Ouwens dalam tulisan Pieter Antonie Ouwens tahun 1912. Menurut penelitian Universitas Melbourne, komodo merupakan spesies yang sudah lama hidup di Australia. Namun mereka bermigrasi pada 900 ribu tahun yang lalu, hingga akhirnya menetap di Kepulauan Sunda Kecil.

Komodo tidak dalam bahaya kepunahan, Namun, mereka telah terdaftar sebagai salah satu spesies hewan endemik Taman Nasional Komodo yang berada dalam kondisi rentan.

Ancaman yang menempatkan komodo dalam keadaan rentan terkait dengan perburuan liar dan hilangnya habitatnya yang disebabkan oleh pemukiman manusia.

Pada tahun 1986, Taman Nasional Komodo dinobatkan sebagai salah satu World Heritage Site dan Man and Biosphere Reserve oleh UNESCO karena keunikan yang dimilikinya. Tak hanya itu, kawasan Taman Nasional Komodo pun dijadikan kandidat dalam daftar tujuh keajaiban alam dunia terbaru, hingga akhirnya menjadi salah satu dari tujuh keajaiban alam dunia terbaru pada tahun 2013 silam. Membanggakan, bukan?

Naga Komodo yang mengesankan berada dalam kondisi rentan. Beberapa orang percaya bahwa kadal terbesar di dunia tidak perlu khawatir tentang keselamatan mereka.

Namun, sebuah studi perkiraan populasi komodo di Taman Nasional Komodo menunjukkan bahwa saat ini hanya 2.400 hingga 3.000 individu yang selamat..
Di pulau Flores, di pinggiran Taman Nasional Komodo, diperkirakan bahwa jumlah naga adalah antara 300 dan 500 individu.

Perdagangan komodo dilarang di bawah CITES (Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah). Dengan cara ini, perburuan spesies diatur dan jalur orang ke berbagai sektor Pulau Komodo dikendalikan.

5. Bukit Lawang – Orang Utan Sumatera


Orang Utan Sumatera ( Sumber Gambar : mongabay.co.id )
Orangutan, sang pemelihara hutan, adalah satwa asli Indonesia. Orangutan Sumatera (Pongo abelii) adalah jenis orangutan yang paling terancam di antara dua spesies orangutan yang ada di Indonesia. Dibandingkan dengan 'saudaranya' di Borneo dan orang utan tapanuli di Batang Toru , Orangutan Sumatera mempunyai perbedaan dalam hal fisik maupun perilaku. Spesies yang saat ini hanya bisa ditemukan di provinsi-provinsi bagian utara terutama di taman nasional gunung leuser dan tepatnya di bukit lawang dan tengah Sumatera ini kehilangan habitat alaminya dengan cepat karena pembukaan hutan untuk perkebunan dan pemukiman serta pembalakan liar.

Terdapat 13 kantong populasi orangutan di Pulau Sumatera. Dari jumlah tersebut, kemungkinan hanya tiga kantong populasi yang memiliki sekitar 500 individu dan tujuh kantong populasi terdiri dari 250 lebih individu. Enam dari tujuh populasi tersebut diperkirakan akan kehilangan 10-15% habitat mereka akibat penebangan hutan sehingga populasi ini akan berkurang dengan cepat. Menurut IUCN, selama 75 tahun terakhir, populasi Orangutan Sumatera telah mengalami penurunan sebanyak 80%. Dalam IUCN Red List, Orangutan Sumatera dikategorikan Kritis (Critically Endangered).

Orangutan Sumatera mempunyai kantung pipi yang panjang pada orangutan jantan. Panjang tubuhnya sekitar 1,25 meter sampai 1,5 meter. Berat orangutan dewasa betina sekitar 30-50 kilogram, sedangkan yang jantan sekitar 50-90 kilogram. Bulu-bulunya berwarna coklat kemerahan.

6.Taman Nasional Way Kambas – Gajah Sumatera

 Kawanan gajah di Way Kambas, Lampung. (Foto courtesy: Vesswic/dok).

Taman Nasional Way Kambas adalah taman nasional perlindungan gajah yang terletak di daerah Lampung tepatnya di Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur, Indonesia.

Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang hidup di kawasan ini semakin berkurang jumlahnya. Taman Nasional Way Kambas berdiri pada tahun 1985 merupakan sekolah gajah pertama di Indonesia. Dengan nama awal Pusat Latihan Gajah (PLG) namun semenjak beberapa tahun terakhir ini namanya berubah menjadi Pusat Konservasi Gajah (PKG) yang diharapkan mampu menjadi pusat konservasi gajah dalam penjinakan, pelatihan, perkembangbiakan dan konservasi. Hingga sekarang PKG ini telah melatih sekitar 300 ekor gajah yang sudah disebar ke seluruh penjuru Tanah Air.

Di tempat ini, Anda dapat melihat gajah yang awalnya liar sedang dilatih di tempat ini. Beberapa diantaranya juga diajak melakukan pertunjukan sirkus yang sederhana dan melakukan berbagai atraksi untuk menghibur para wisatawan yang datang, seperti berenang, bermain sepak bola, dan sebagainya.
Taman Nasional Way Kambas ini memang identik dengan gajah Sumatera. Di taman nasional tersebut, juga ada beberapa satwa langka lain seperti harimau Sumatera, badak, dan beberapa satwa langka yang lain. Tempat konservasi gajah ini juga sudah terkenal ke berbagai negara.

Beberapa peneliti dari luar negeri juga melakukan penelitian tentang satwa Sumatera yang semakin langka di tempat wisata ini. Tak heran jika pusat pelatihan ini menjadi perwakilan ekosistem hutan dataran rendah yang punya semak belukar, rawa air tawar, dan hutan pantai di Sumatera. Hutan di tempat ini memanglah hutan tropis yang sangat lengkap.

Salah satu hal yang paling populer di tempat ini adalah atraksi gajah yang terlath. Atraksi sederhana gajah ini bisa melakukan dengan berbagai gaya, seperti sepak bola gajah, atraksi gajah menari, gajah berenang, berjabat tangan, dan mengalungkan bunga.

7.Taman Nasional Ujung kulon – Badak Bercula Satu

Taman Nasional Ujung Kulon | UJUNGKULON.INDONESIA-TOURISM.COM

Taman Nasional Ujung Kulon terletak di bagian paling barat Pulau Jawa, Indonesia. Kawasan taman nasional ini pada mulanya meliputi wilayah Krakatau dan beberapa pulau kecil di sekitarnya seperti Pulau Handeuleum dan Pulau Peucang dan Pulau Panaitan. Kawasan taman nasional ini mempunyai luas sekitar 122.956 Ha; (443 km² di antaranya adalah laut), yang dimulai dari Semenanjung Ujung Kulon sampai dengan Samudera Hindia.

Ujung Kulon merupakan taman nasional tertua di Indonesia yang sudah diresmikan sebagai salah satu Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO pada tahun 1991, karena wilayahnya mencakupi hutan lindung yang sangat luas. Sampai saat ini kurang lebih 50 sampai dengan 60 badak hidup di habitat ini.

Spesies ini di seluruh dunia jumlahnya tidak lebih dari 70 ekor, dengan 60 ekornya berada di Taman Nasional Ujung Kulon. Badak bercula satu adalah hewan endemik yang hanya ada di daerah Ujung Kulon.

Badak bercula satu atau di Indonesia lebih dikenal sebagai Badak Jawa memiliki nama latin Rhinoceros sondaicus. Rhino berarti hidung dan ceros berarti tanduk, sedangkan sondaicus diambil dari kata Sunda yang merupakan suku dimana hidupnya badak bercula satu ini.

Hewan yang sangat membutuhkan pertolongan ini berstatus IUCN Critically Endangered, artinya tinggal satu langkah lagi menemui kepunahan. Saat ini saja populasi Badak Jawa hanya tinggal 63 ekor saja dan hanya ada di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, Indonesia sehingga badak bercula satu ini merupakan ikon yang sangat penting bagi Taman Nasional ujung Kulon (TNUK).

Kehidupan satwa liar telah di ambang kepunahan apabila usaha perlindungan dan pelestariannya tidak segera dilakukan secara maksimal dengan dukungan dari seluruh pihak yang berkepentingan. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki daftar terpanjang spesies yang terancam punah,  di antaranya 140 jenis burung, 77 jenis mamalia, 21 jenis reptil, 65 jenis ikan tawar, dan 281 jenis tumbuhan. Terlebih, 72% hutan yang menjadi habitat satwa liar di Indonesia telah hilang.

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg