BREAKING NEWS

Rakai Panunggalan : Mengenal Kerajaan Medang I Bhumi Mataram


Rakai Panunggalan- Kontributor NusaPediaRakai Panunggalan - Sri Maharaja Rakai Panunggalan adalah raja ketiga Kerajaan Medang I Bhumi Mataram menurut Prasasti Matyasih (907). Berbeda dengan Prasasti Wanua Tengah III (908), yang menyebutkan bahwa raja ketiga Kerajaan Medang I Bhumi Mataram adalah Rakai Panaraban, yang naik tahta pada tahun 706 Çaka, bulan Cetra, tanggal 10 Paroterang, hari Sabtu Kliwon Paningron (6 Maret 784 M).
Rakai Panunggalan

Rakai Panunggalan

Sri Maharaja Rakai Panunggalan Sang Dharanindra Sri Sanggramadhananjaya Prasasti KalasanSumber sejarah yang memuat nama Rakai Panunggalan hanya dapat ditemui pada Prasasti Matyasih, yang menyebutkan nama Çri Mahǎrǎja Rakai Panunggalan pada urutan ketiga penguasa Kerajaan Medang. 

Namun pada Prasasti Wanua Tengah III, yang berada pada urutan ke-3 adalah Rakai Panaraban yang memerintah pada tahun 784 – 803 M. Selain itu pada rentang tahun masa kekuasan Rakai Panaraban, terdapat tokoh lain yang juga diidentifikasikan sebagai Rakai Panunggalan/Rakai Panaraban, yaitu Dharanindra. Nama Dharanindra dapat ditemukan didalam Prasasti Kelurak (782), yang dimana dalam Prasasti Kelurak ini Dharanindra dipuji sebagai “Wairiwarawiramardana” (Penumpas Musuh-Musuh Perwira). 

Julukan tersebut mirip dengan yang disebutkan oleh Prasasti Nalanda, yaitu “Sri Wirawairimathana” (pembunuh pahlawan musuh), serta Prasasti Ligor B, yaitu “Sarwwarimadawimathana” (pembunuh musuh-musuh yang sombong).Slamet Muljana menganggap ketiga julukan tersebut adalah merupakan sebutan untuk orang yang sama, yaitu Dharanindra. Didalam Prasasti Nalanda, disebutkan bahwa “Wirawairimathana” memiliki putera yang bernama Samaragrawira, ayah dari Balaputradewa yang merupakan raja dari Kerajaan Sriwijaya. Sehingga dengan kata lain Balaputradewa adalah merupakan cucu dari Dharanindra. 

Sementara itu pada Prasasti Ligor B yang memuat istilah “Sarwwarimadawimathana”, George Cœdès berpendapat bahwa prasasti tersebut dikeluar-kan oleh Sri Maharaja Wisnu, yang merupakan Raja Sriwijaya. George Cœdès beranggapan bahwa Prasasti Ligor B ini adalah lanjutan dari Prasasti Ligor A, yang berangka tahun 775 M. Namun Slamet Muljana berbeda pendapat mengenai hal tersebut, karena menurutnya hanya Prasasti Ligor A saja yang ditulis tahun 775 M, sedangkan Prasasti Ligor B ditulis sesudah Kerajaan Sriwijaya jatuh ke tangan Wangsa Sailendra. 

Berikut ini adalah beberapa point sumber sejarah yang memuat informasi tentang Rakai Panunggalan, Rakai Panaraban, dan Dharanindra, yaitu sebagai berikut:
Rakai Panunggalan

Beberapa Teori Mengenai Rakai Panunggalan

Mengenai Rakai Penunggalan, Rakai Panaraban, dan Dharanindra ini, terdapat beberapa teori dan pendapat yang dikemukakan oleh para arkeolog, yaitu sebagai berikut:

1.Teori Pertama: Dharanindra adalah tokoh yang berbeda dengan Rakai Panunggalan

Teori pertama ini di pelopori oleh Van Naerssen, yang dimana pada teori ini disebut-kan bahwa Dharanindra adalah seorang tokoh yang berbeda dengan Rakai Panunggalan, dan Dharanindra ini-lah yang merupakan atasan dari Rakai Panangkaran, penguasa Medang sebelum Rakai Panunggalan. Van Naerssen berpendapat bahwa Rakai Panangkaran merupakan putera Sanjaya dan juga termasuk kedalam Wangsa Sanjaya, namun Rakai Panangkaran ini kemudian berhasil dikalahkan oleh Wangsa Sailendra yang beragama Buddha. 

Rakai Panunggalan
Van Naerssen juga berpendapat bahwa pembangunan Candi Kalasan yang dilakukan Rakai Panangkaran tidak lain adalah merupakan perintah dari Raja Sailendra kepada Rakai Panangkaran yang telah menjadi raja bawahan, Van Naerssen memperkirakan Raja Sailendra yang menjadi atasan Rakai Panangkaran tersebut adalah Dharanindra, yang dimana namanya ditemukan didalam Prasasti Kelurak (782).

  1. Rakai Panunggalan sendiri adalah penerus Rakai Panangkaran yang juga merupakan bawahan dari Dharanindra. Berikut ini adalah beberapa point dari teori yang dikemukakan oleh Van Naerssen, yaitu sebagai berikut:
  2. Rakai Panangkaran adalah putera Sanjaya dan termasuk kedalam Wangsa Sanjaya
  3. Rakai Panangkaran ini kemudian dikalahkan oleh Wangsa Sailendra yang beragama Buddha
  4. Dalam Prasasti Kalasan disebutkan adanya dua orang raja, yaitu Śri Mahārāja Dyāh Pancapana Panamkarana dan Raja Śailendravamsatilaka (Permata Wangsa Śailendra)
  5. Pembangunan Candi Kalasan adalah perintah dari Raja Sailendra kepada Rakai Panangkaran yang telah menjadi raja bawahan dan
  6. Raja Sailendra yang menjadi atasan Rakai Panangkaran adalah Dharanindra.
  7. Dharanindra menjadi atasan dari Rakai Panunggalan yang merupakan pengganti Rakai Panangkaran

2. Teori Kedua: Dharanindra nama lain dari Rakai Panangkaran

Teori kedua ini di pelopori oleh Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosutanto, yang dimana pada teori ini menyebutkan bahwa Rakai Panangkaran adalah putera Sanjaya, dan keduanya juga sama-sama berasal dari Wangsa Sailendra. Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosutanto menolak tentang adanya Wangsa Sanjaya, karena menurutnya Wangsa Sanjaya tersebut tidak pernah ada, dan Sanjaya sendiri adalah merupakan anggota dari Wangsa Sailendra. 

Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosutanto menolak tentang adanya Wangsa Sanjaya, karena istilah Wangsa Sanjaya sendiri tidak pernah dijumpai didalam prasasti manapun, berbeda dengan Wangsa Sailendra yang termuat didalam beberapa prasasti. Teori ini beranggapan bahwa Rakai Panangkaran adalah anggota Wangsa Sailendra, karena Rakai Panangkaran pada Prasasti Kalasan (778) dipuji sebagai Sailendrawangsatilaka. 

Rakai Panunggalan
Selain itu Prasasti Kalasan dan Prasasti Kelurak yang dengan jelas menyebutkan nama Dharanindra, dibuat hanya berselisih 4 tahun, sehingga kemungkinan besar kedua prasasti tersebut dikeluarkan oleh raja yang sama. Oleh sebab itulah Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosutanto menarik kesimpulan bahwa Dharanindra adalah nama asli dari Rakai Panangkaran. Berikut ini adalah beberapa point dari teori yang dikemukakan oleh Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosutanto, yaitu sebagai berikut:
  1. Dalam Prasasti Kalasan hanya adanya satu orang raja, yaitu Śri Mahārāja Dyāh Pancapana Panamkarana Sang Śailendravamsatilaka (Permata Wangsa Śailendra)
  2. Rakai Panangkaran adalah putera Sanjaya dan sama-sama termasuk anggota Wangsa Sailendra. Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosutanto juga menolak adanya Wangsa Sanjaya.
  3. Śri Mahārāja Dyāh Pancapana Panamkarana identik dengan Dharanindra

3. Teori Ketiga: Dharanindra adalah nama asli dari Rakai Panunggalan


Teori ketiga ini di pelopori oleh Slamet Muljana, yang dimana pada teori ini disebutkan bahwa Dharanindra adalah nama asli dari Rakai Panunggalan, yaitu raja ketiga Kerajaan Medang yang namanya disebut setelah Rakai Panangkaran pada Prasasti Mantyasih. Teori ini muncul setelah Slamet Muljana membandingkan tahun pembuatan Prasasti Kelurak dengan Prasasti Matyasih serta Prasasti Wanua Tengah III. 

Rakai Panunggalan
Dari perbandingan tersebut dapat diketahui bahwa Prasasti Kelurak dikeluarkan pada masa pemerintahan Rakai Panaraban yang identik dengan Rakai Panunggalan, sehingga Slamet Muljana menyimpulkan bahwa Dharanindra yang mengeluarkan Prasasti Kelurak juga identik dengan Rakai Panunggalan yang telah disebutkan oleh Prasasti Matyasih dan Rakai Panaraban yang telah disebutkan oleh Prasasti Wanua Tengah III. Tokoh yang bernama Dharanindra ini-lah yang oleh Slamet Muljana diyakini telah berhasil melebarkan wilayah kekuasaan Wangsa Sailendra sampai ke Semenanjung Malaya dan daratan Indocina.

Slamet Muljana telah memadukan Prasasti Ligor A dan Ligor B dengan isi berita yang terdapat dalam Prasasti Po Ngar, yang menyebutkan bahwa Jawa pernah menjajah Kamboja (Chen-La) sampai tahun 802 M, selain itu Jawa juga pernah menyerang Campa pada tahun 787 M. Jadi menurut teori Slamet Muljana, Dharanindra sebagai Raja Jawa telah berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya, termasuk daerah bawahannya di Semenanjung Malaya, yaitu Ligor. 

Rakai Panunggalan
Prasasti Ligor B kemudian ditulis oleh Dharanindra sebagai pertanda bahwa Wangsa Sailendra telah berkuasa atas Sriwijaya, Prasasti Ligor B sendiri berisi tentang puji-pujian untuk dirinya yang dianggap sebagai penjelmaan Wisnu. Daerah Ligor ini kemudian dijadikan Dharanindra sebagai pangkalan militer untuk menyerang Campa pada tahun 787 M dan juga Kamboja. Penaklukan Dharanindra terhadap Sriwijaya, Ligor, Campa, dan Kamboja ini sesuai dengan julukan Dharanindra, yaitu "Penumpas Musuh-Musuh Perwira".

Namun Kamboja sendiri kemudian akhirnya berhasil merdeka di bawah pimpinan Jayawarman II pada tahun 802 M, yang dimana pada saat itu kemungkinan Dharanindra telah meninggal dunia. Namun berbeda dengan Slamet Muljana yang menganggap Wisnu sebagai Dharanindra karena kemiripan julukan serta kemiripan arti nama (Wisnu dan Dharanindra menurut Slamet Muljana sama-sama berarti “Pelindung Jagad”), George Coedes justru menganggap bahwa Maharaja Wisnu adalah merupakan ayah dari Dharanindra. 

George Coedes menganggap bahwa terdapat 2 raja yang disebutkan dalam Prasasti Ligor, yaitu Wisnu dan Sri Maharaja yang George Coedes anggap sebagai putera dari Wisnu. Sri Maharaja sendiri dianggap George Coedes sama dengan Dharanindra, seorang penguasa Jawa yang telah mengeluarkan Prasasti Kelurak yang telah menaklukkan Rakai Panangkaran, putera Sanjaya.Spoiler for

4. Teori Penulis mengenai Rakai Panunggalan

Berdasarkan ketiga teori yang berkembang mengenai Rakai Panunggalan seperti yang telah disebutkan diatas, serta berdasarkan bukti-bukti sejarah yang otentik, penulis mendukung teori Slamet Muljana yang menyebutkan bahwa Dharanindra adalah Rakai Panunggalan

Rakai Panunggalan
Penulis sendiri telah mencoba membandingkan Prasasti Ligor A dan B, Prasasti Matyasih, Prasasti Kelurak, Prasasti Wanua Tengah III dan Prasasti Po Ngar, sehingga menghasilkan kesimpulan bahwa Rakai Panunggalan (Prasasti Mantyasih) atau yang disebut juga Rakai Panaraban (Prasasti Wanua Tengah III) adalah merupakan tokoh yang sama dengan Dharanindra. Pada Prasasti Wanua Tengah III, disebutkan bahwa Rakai Panaraban memerintah pada tahun 784 M - 803 M. 

Sementara itu, Dharanindra memerintahkan pembangunan Manjusrigrha pada tahan 782 M (Prasasti Kelurak) kemudian menyerang Champa pada tahun 787 M dan menjajah Kamboja Selatan (Chen-La) dari tahun 790 M hingga sampai dengan tahun 802 M. Dari perbandingan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Dharanindra sejaman dengan Rakai Panunggalan atau bisa disebut juga merupakan tokoh yang sama.

Rekonstruksi Sejarah Rakai Panunggalan

Dari pendapat yang telah penulis jabarkan diatas, penulis kemudian mencoba melakukan rekonstruksi sejarah mengenai Rakai Panunggalan atau Dharanindra ini, dengan mengumpulkan berbagai macam sumber lainnya, yaitu sebagai berikut:

Rakai Panunggalan
Pada tahun 668 Çaka, bulan Asuji, tanggal 15 Paroterang, hari Salasa Pahing Paningron (4 Oktober 746 M), Rakai Panangkaran naik tahta menggantikan Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, yang meninggal akibat menjalani ritual yang sangat berat atas saran Sang Guru, Resi Brahmana pemuja Siwa. 

Akibat kematian Sanjaya inilah kemudian Rakai Panangkaran berpindah keyakinan menjadi penganut agama Buddha Mahayana dan memindahkan pusat kerajaannya ke arah timur.Peristiwa tersebut kemudian diabadikan oleh Rakai Panangkaran dengan membuat Prasasti Raja Sankhara (778). 

Setelah naik tahta, Rakai Panangkaran kemudian mengangkat sang putera mahkota yang bernama Indra atau Dharanindra, menjadi raja muda di daerah Panunggalan, sehingga disebut dengan nama Rakai Panunggalan. Pada tahun 750 M, seorang pemuka agama yang bernama Bhanu, atas persetujuan dari Siddhdewi yang penulis anggap sebagai permaisuri dari Rakai Panangkaran, telah memberikan anugerah sima kepada Desa Hampran. Rakai Panangkaran sendiri kemudian menganugerahkan sawah milik kerajaan (sawah haji lān) di Wanua Tengah, Watak Pikatan kepada bihāra di Pikatan. 

Luas sawah tersebut sisi utara memanjang ke timur 182 dpa sihwā, sisi selatan memanjang ke timur 162 dpa sihwā, sisi timur memanjang ke utara 160 dpa sihwā, sisi timur memanjang ke utara 160 dpa sihwā, sisi barat memanjang ke selatan 162 dpa sihwā, dan benihnya 3 tū.Pada periode tahun 750 - 770 M, pengaruh Kerajaan Sriwijaya yang berkuasa dan menguasai Swarnadwipa dan Jawadwipa sudah mulai kehilangan pengaruhnya akibat konflik perebutan kekuasaan yang terjadi di internal kerajaan. 

Rakai PanunggalanMelihat kondisi Kerajaan Sriwijaya yang sudah melemah akibat kudeta yang dilakukan Rudra Vikrama terhadap Indrawarnam, Rakai Panangkaran kemudian memerintahkan putera mahkotanya, Dharanindra yang berkedudukan di panunggalan untuk berangkat menuju Swarnadwipa untuk menaklukkan Kerajaan Sriwijaya dan memperluas pengaruh Medang hingga ke wilayah Kamboja. 

Sekitar tahun 750 - 775 M, Dharanindra telah berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya, dan terus menaklukkan wilayah-wilayah lainnya di Swarnadwipa hingga kemudian mencapai Ligor. Pada tahun 775 M, Ligor berhasil ditaklukkan oleh Dharanindra, dan kemudian di buatlah Prasasti Ligor A (775) sebagai tanda penguasaan Kerajaan Medang terhadap Ligor.

Pada saat menguasai Ligor, Dharanindra ini masih berstatus sebagai raja bawahan sekaligus putera mahkota Kerajaan Medang, oleh sebab itulah di Prasasti Ligor A ini, Dharanindra hanya menyebutkan dirinya sebagai Raja Swarnadwipa (karena sebelumnya telah menaklukan sriwijaya dan wilayah Swarnadwipa lainnya), bukan Sri Maharaja. Setelah menguasai Ligor, Dharanindra ini kemungkinan besar memerintah di Kerajaan Sriwijaya. 

Rakai Panunggalan3 tahun setelah penaklukan Ligor, tepatnya pada tahun 778 M, Dharanindra yang masih berada di Swarnadwipa mengutus guru-guru agamanya untuk menghadap Sri Maharaja Rakai Panangkaran untuk meminta dan membujuk Sri Maharaja untuk mendirikan bangunan bagi Dewi Tara. Berita ini tercantum pada Prasasti Kalasan, dan pada prasasti tersebut Dharanindra disebut sebagai Śailendravamsatilaka (Permata Wangsa Śailendra). Setelah menyetujui permohonan tersebut, Rakai Panangkaran kemudian mengeluarkan Prasasti Raja Sankara untuk mengenang alm, ayahnya (Sanjaya) dan proses perpindahkeyakinannya dari Siwa ke Buddha. 

Berselang 4 tahun setelah permohonan tersebut, pada tahun 782 M, Dharanindra dipanggil kembali ke Jawadwipa untuk mempersiapkan dirinya menaiki tahta kerajaan. Setelah kembali ke Jawadwipa, Dharanindra kemudian memerintahakan Pendeta Kumaragosha untuk mendirikan bangunan suci untuk Arca Manjusri dan memerintahkan Sri Dharmasetu untuk menjaga bangunan suci tersebut. 

Rakai PanunggalanBerita ini tercantum pada Prasasti Kelurak, dan pada prasasti tersebut Dharanindra disebut sebagai Wairiwarawiramardana (Penumpas Musuh-Musuh Perwira).Pada tahun 784 M, Sri Maharaja Rakai Panangkaran turun tahta untuk menjadi pendeta (Lengser keprabon, madeg pandito) dan kemudian digantikan anaknya Dharanindra dengan gelar abhisekanya Sri Maharaja Rakai Panunggalan

Setelah Dharanindra naik tahta, ekspansi Kerajaan Medang tidak berhenti di Ligor namun terus bergerak kearah utara sehingga pada tahun 787 M, ekspansi Medang di bawah pemerintahan Dharanindra berhasil menguasai Kamboja serta berhasil menahan Jayawarman II yang kemudian dibawa ke Istana Medang di Jawa. 

Rakai Panunggalan
Setelah berhasil menaklukkan Kamboja, Dharanindra menambahkan tulisan di sisi lain Prasasti Ligor A, yang disebut Prasasti Ligor B. Pada Prasasti Ligor B ini, Dharanindra menyebutkan dirinya sebagai Wisnu yang bergelar Sri Maharaja.Namun penguasaan Medang terhadap Kamboja tidak berlangsung lama, karena pada tahun 802 M, Kamboja dapat melepaskan diri dari kekuasaan Medang, dan kemudian mendirikan kerajaan yang merdeka, yaitu Kerajaan Khamer dengan rajanya yang bernama Jayawarman II. Pada tahun 792 M. 

Rakai Panangkaran yang telah menjadi pandito mendirikan bangunan suci untuk Avalokiteśvara (Prasasti Abhayagiri Wihara), dan kemudian meninggal ditahun yang sama. Pada Prasasti Manjusrigrha (792), disebutkan bahwa adanya penyempurnaan Prasada yang bernama Wajrasana Manjusrigrha oleh Māyaka Diraṇḍalūrawaŋ untuk dipersembahkan kepada Sri Nareswara (raja), yang telah menjelma ke alam kedewataan (meninggal dunia). 

Kemungkinan besar penyempurnaan Prasada yang bernama Wajrasana Manjusrigrha ini dilakukan atas perintah Dharanindra untuk alm. Ayahnya, Rakai Panangkaran. Penulis sendiri memperkirakan bahwa Rakai Panunggalan ini meninggal pada tahun 803 M, karena pada tahun tersebut Rakai Warak dyah Manara telah menaiki tahta Kerajaan Medang.

Sumber dan Referensi:

  1. Nastiti, Titi Surti, Yusmaini Eriawati, Frandus, dan Nico Alamsyah. 2015. “Eksplorasi Peninggalan Kerajaan Matarām Kuna di Jawa Timur (Abad ke-10-11 Masehi) di Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur”, Laporan Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
  2. Sumadio, Bambang. 2008. Zaman Kuna. Jilid II dari Sejarah Nasional Indonesia. Edisi pemutakhiran. Disunting oleh Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosusanto.Jakarta: Balai Pustaka
  3. Ayatrohaedi 1986 “Hubungan Keluarga antara Sanjayawangsa dan Sailendrawangsa”. Dalam Romantika Arkheologia, hal. 4-7. Jakarta: Keluarga Mahasiwa Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
  4. Boechari 1966 “Peminary Report on the Discovery of Old Malay Incription at Sojomerto”. Dalam MISI 3 Hlm. 2–3; 241-251.
  5. Bosch, 1925 “Een oorkonde van het groot kloster van Nalanda”. Dalam TBG 65 : 509-588.
  6. Bosch, 1928 “De Inscriptie van Kelurak”. Dalam TBG 68: 1-64. 1975 Crivijaya, Cailendra dan Sanjayavamca, (seri terjemahan no.50). Jakarta : Bhratara
  7. Coedes, G. 1918 “Le Royaume de Crivijaya”, BEFEO 18: 1-36. 1934 “The Origin of the Cailendra of Indonesia”. JGIS I: 66-70.
  8. Damais, L.C. 1970 Repertoire onomastique de l’epigrphi Javanaise. Paris : Ecole Francaise d’extreme-Orient.
Sumber Artikel : https://www.kaskus.co.id/thread/59e1903cddd7703a248b4567/sri-maharaja-rakai-panunggalan-sang-dharanindra-sri-sanggramadhananjaya/?ref=homelanding&med=hot_thread

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg