BREAKING NEWS

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango : Meneliti Laboratorium Alam Jawa Barat


Taman Nasional Gunung Gede Pangrango - Jawa Barat - Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Merupakan Pembahasan Team NusaPedia Magazine Kali Ini.Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Sangatlah Kaya Akan Keanekaragaman Flora Dan Faunanya.Keanekaragaman Ini Membuat Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Di Jadikan Sebagai Pusat Penelitian Atau Labolatorium Peneliti Khususnya Meneliti Mengenai Kelestarian Burung Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) inilah yang sering kali disebut sebagai burung rajawali.

Taman Nasional Gede Pangrango

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kalinya diumumkan di Indonesia pada tahun 1980. Keadaan alamnya yang khas dan unik, menjadikan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sebagai salah satu laboratorium alam.
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memiliki keanekaragaman ekosistem yang terdiri dari ekosistem sub-montana, montana, sub-alpin, danau, rawa, dan savana.Karena aksesnya yang mudah, taman nasional Gunung Gede-Pangrango dengan panorama yang spektakuler adalah sebuah tempat favorit bagi para pengunjung. 

Terletak di Provinsi Jawa Barat. Taman ini meliputi puncak Gunung Gede dan gunung Pangrango. Di sekitar puncak ini terdapat  perkebunan teh, taman rekreasi, air terjun, air panas, danau dan fasilitas akomodasi di dalam taman. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini ditetapkan sebagai kawasan konservasi alam pada tahun 1889, meskipun sebelumnya Kebun Raya Cibodas sudah didirikan di sini pada tahun 1830, di mana kina dan kopi pertama kali dibudidayakan dan menjadi bahan ekspor yang paling menonjol pada abad ke-19.

Mengapa Saya Harus Kesana ?

Taman Nasional Gunung Gede pangarango
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango terkenal kaya akan berbagai jenis burung yaitu sebanyak 251 jenis dari 450 jenis yang terdapat di Pulau Jawa. Beberapa jenis diantaranya burung langka yaitu elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan burung hantu (Otus angelinae).Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada tahun 1977, dan sebagai Sister Park dengan Taman Negara di Malaysia pada tahun 1995.

Hal yang paling menonjol dari Taman Gede-Pangrango adalah tiga ekosistemnya yang sangat berbeda antara lain: ekosistem sub-montana (1.000 m-1.500 m), ekosistem pegunungan (1.500 m - 2.900 m) ditandai dengan pohon-pohon tinggi dan besar, dan ekosistem sub-alpine  (2.400 m. dan lebih tinggi), ditandai dengan padang rumput di mana bunga Jawa edelweiss tumbuh berlimpah. Taman Ini juga memiliki savana serta ekosistem rawa.
Pada tahun 1977 UNESCO menyatakan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sebagai cagar alam Biosphere.

Saat ini Taman Nasional Gunung Gede Pangrango seluas 15.196 hektar yang mencakup Cibodas, Cimungkat, Cagar Alam Gunung Gede-Pangrango, wilayah rekreasi Situgunung, dan hutan di lereng Gunung Gede (2.958 m) dan Pangrango (3.019 m). Keduanya dihubungkan dengan sadel pada ketinggian 2.500 m di atas permukaan laut.

Taman Nasional Gunung Gede Pangarango
Ekosistem sub-montana dicirikan oleh banyaknya pohon-pohon yang besar dan tinggi seperti jamuju (Dacrycarpus imbricatus), dan puspa (Schima walliichii). Sedangkan ekosistem sub-alphin dicirikan oleh adanya dataran yang ditumbuhi rumput Isachne pangerangensis, bunga eidelweis (Anaphalis javanica), violet (Viola pilosa), dan cantigi (Vaccinium varingiaefolium). Satwa primata yang terancam punah dan terdapat di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yaitu owa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata comata), dan lutung budeng (Trachypithecus auratus auratus); dan satwa langka lainnya seperti macan tutul (Panthera pardus melas), landak Jawa (Hystrix brachyura brachyura), kijang (Muntiacus muntjak muntjak), dan musang tenggorokan kuning (Martes flavigula).

Di antara banyak tempat menarik di dalam taman, Pusat Pendidikan Konservasi Bodogol menawarkan berbagai kesempatan yang berharga dan menarik. Berada 25 meter di atas tanah, dengan jalan berkanopi yang merupakan salah satu daya tarik taman. Namun pada beberapa titik kondisi jalan telah rusak.

Taman Nasional Gunung Gede Pengarango
Karena curah hujan yang tinggi selama musim hujan, Taman akan ditutup antara bulan Desember sampai Maret karena kabut tebal dan awan menutupi puncak dan angin kencang selama bulan Februari dan Maret. Waktu terbaik untuk mengunjungi dan melakukan pendakian ke kawah adalah selama musim kemarau antara bulan Juni hingga September.

Suhu bervariasi rata-rata sekitar 18 ° C di Cibodas, yang paling dingin sampai 10 ° C di puncak gunung. Bila Anda berniat untuk mendaki ke puncak pastikan bahwa Anda memakai pakaian hangat dan sepatu yang tebal karena pada malam hari suhu bisa sangat dingin dan bisa membuat Anda membeku.

Tidak Hanya Itu,Bunga Edelweiss tumbuh di sebuah lapangan luas yang dikenal sebagai alun-alun Suryakencana, terletak di sebelah utara Gunung Gede. Diperlukan  hiking selama enam jam dari Cibodas untuk mencapai tempat ini. 

Taman Nasional Gunung Gede Pangarango
Pemandangan dari puncak dan kawah Gunung Gede sangat menakjubkan baik saat matahari terbit dan terbenam. Dari sini kita dapat melihat Gunung Krakatau dan Sumatra, dan di bagian bawah seperti kota Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Di sini terlektak tiga kawah aktif yaitu kawah Lanang, Ratu dan Wadon, semua menyatu dalam sebuah komplek pada ketinggian 2.958 m. Kawah-kawah ini dapat ditempuh sekitar lima jam dari Cibodas.

Ada empat jenis primata di taman ini, termasuk Gibbon Jawa yang merupakan endemik pulau Jawa, Surili yang hidup di sekitar air terjun Cibodas yang jarang terlihat, monyet ekor panjang dan lutung Jawa. Ada juga macan tutul, anjing liar dan babi liar.
Taman Nasional Gunung Gede Pangarango
Taman ini memiliki berbagai spesies burung, 251 dari 450 spesies di Jawa menghuni Taman ini, termasuk elang jawa dan burung hantu.Danau Biru, terletak di ketinggian 1.575 m, berjarak sekitar 1,5 km dari pintu masuk di Cibodas, danau ini merupakan tempat piknik favorit. Warna biru danau ini berasal dari ganggang biru yang berada di dalam danau.

Air Terjun Cibeureum dengan tinggi 50 m, berjarak 2,8 km. dari Cibodas. Di sini terdapat lumut merah yang merupakan endemik Jawa Barat. Anda bisa menyaksikan kupu-kupu Arjuna sedang mencicipi lumpur asin di tepi air.Jika Anda memiliki kesempatan, kunjungilah Mata air panas yang ditemukan sekitar dua jam dari Cibodas, sedangkan jika Anda ingin berkemah pergilah ke Gunung Putri dan Selabintana. 

Bagaimana Cara Saya Kesana ?

Taman NAsional Gunung Gede Pangarango
Pintu masuk utama Taman Nasional Gunung Gede Pangrango adalah melalui jalan setapak yang berada di sebelah gerbang utama taman Cibodas. Cibodas terletak tak jauh dari rute utama jalan Jakarta-Bandung melewati Puncak, di Cipanas, sekitar dua jam dari Jakarta, jika lalu lintas normal. Pada hari libur dan akhir pekan rute Bogor-Puncak akan macet dengan wisatawan Jakarta.

Jakarta-Bogor-Cibodas dengan waktu sekitar 2,5 jam (± 100 km) menggunakan mobil, atau Bandung-Cipanas-Cibodas dengan waktu 2 jam (± 89 km), dan Bogor-Selabintana dengan waktu 2 jam (52 km).

Jakarta - Bogor - Cibodas, ± 100 km (±; 2,5 jam)
Bandung - Cipanas - Cibodas, ± 89 km (± 3 jam)
Bogor - Selabintana/Situgunung, ± 60/75 km (± 2 jam)

Bagaimana Dengan Akomodasinya ?

Kantor, wisma tamu, pondok kerja, bumi perkemahan, shelter, dermaga, pusat informasi, wisma cinta alam, canopy trail (sedang dibangun), pemandu wisata dan lain-lain.

Kantor : Jl. Raya Cibodas PO Box 3 Sindanglaya
Cipanas 43253, Cianjur, Jawa Barat
Telp. (0263) 512776; Fax. (0263) 519415

Kapan Sebaiknya Saya Kesana ?

Musim kunjungan terbaik ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango: bulan Juni s/d September.

Know Before You Go...!!!! 

  • Topografi kawasan merupakan pegunungan dengan ketinggian antara 1.000 - 3.000 m dpl. Dengan puncak tertinggi G. Pangrango (± 3.019 m dpl.) dan G. Gede (± 2.958 m dpl). Suhu udara rata-rata di puncak gunung antara 10° -18° C pada siang hari dan pada malam hari 5° C. Musim hujan berlangsung pada bulan Oktober s/d Mei dengan curah hujan rata-rata per bulan 200 mm dan meningkat sampai 400 mm pada bulan Desember s/d Maret. 
  • Sejak abad ke-19, daerah Gede-Pangrango telah menjadi laboratorium hidup bagi para peneliti. Jejak di lereng paling tenggara ditemukan oleh Sir Thomas Raffles pada tahun 1811, meskipun pendakian paling awal Gunung Gede dilakukan oleh C.G.C Reinwardt tahun 1819.
  • Tercatat pada tahun 1819, C.G.C. Reinwardt sebagai orang yang pertama yang mendaki Gunung Gede, kemudian disusul oleh F.W. Junghuhn (1839-1861), J.E. Teysmann (1839), A.R. Wallace (1861), S.H. Koorders (1890), M. Treub (1891), W.M. van Leeuen (1911); dan C.G.G.J. van Steenis (1920-1952) telah membuat koleksi tumbuhan sebagai dasar penyusunan buku “THE MOUNTAIN FLORA OF JAVA” yang diterbitkan tahun 1972.  
Jadi bagaimana Sahabat NusaPedia Apakah Anda tertarik Untuk Meneliti Laboratorium Alam Jawa Barat,Jika Anda Berkunjung ke provinsi Jadikanlah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango , Pantai Cimaja , Sebagai Destinasi Wisata Anda.Mari Kita Dukung Indonesia Sebagai Destinasi Wisata Dunia

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg