BREAKING NEWS

5 Tempat Wisata di Indonesia yang Rusak Setelah Viral di Media Sosial


5 Tempat Wisata di Indonesia yang Rusak Setelah Viral di Media Sosial ( Image Source : Tribunnews.com )

Seiring dengan perkembangan teknologi digital yang pesat membuat penyebaran arus informasi begitu pesat. Saat terdapat tempat wisata baru di Indonesia, dapat dengan mudah menjadi viral dan mendadak diserbu oleh wisatawan dari berbagai daerah. 

Wisatawan datang didorong rasa penasaran akan keindahan yang ditampilkan di media sosial. Sayangnya, viralnya suatu tempat wisata di Indonesia tidak selalu memberi dampak positif. Terkadang beberapa tempat wisata justru rusak setelah viral karena perilaku wisatawan yang tidak bertanggungjawab. Berikut ini diantaranya. 

 1. Ranu Manduro, Mojokerto 

  
Logo Baru kemenkraf
Images Source : ( instagram.com/liberte_beribe & instagram.com/rizky_ardhy )

Ranu Manduro merupakan bekas area tambang pasir tipe C yang terletak di Mojokerto, Jawa Timur. 

Pada Jumat (28/2) yang lalu, Ranu Manduro sempat ramai di media sosial karena disebut memiliki keindahan yang menyaingi padang rumput di Selandia Baru, dengan pemandangan latar belakang Gunung Penanggungan yang mempesona. Tidak lama setelah viral di media sosial, Ranu Manduro ditutup oleh pihak pengelola, yakni PT Wira Bumi. 

Alasan penutupan dikarenakan banyaknya jumlah wisatawan yang berkunjung menjejali Ranu Manduro. Dari video yang beredar di media sosial terlihat antrean kendaraan yang begitu dahsyat hingga tidak bisa bergerak sama sekali. 

 2. Amaryllis Garden, Yogyakarta 


Logo Baru kemenkraf
Images Source : ( caping.co.id )

Amaryllis Garden merupakan taman bunga yang dipenuhi oleh bunga lili hujan yang hanya mekar sekali dalam setahun saat awal musim penghujan. Beberapa tahun lalu, taman bunga ini sempat viral karena keindahannya menyerupai taman bunga Keukenhof di Belanda. 

Setelah viral, banyak wisatawan yang datang berkunjung. Sungguh disayangkan, setelah viral semua bunga yang ada di Amaryllis Garden ini mati terinjak-injak atau diduduki saat wisatawan lewat atau berpose untuk mengambil gambar di tengah tanaman. Kejadian ini sempat menghebohkan publik saat itu, tidak sedikit warga net yang geram dan memberikan kecaman.  

Sayangnya, banyak pengunjung yang tidak bertanggung jawab, mereka photo selfie sambil menginjak-injak tanaman tersebut. 

Nampak dari photo-photo yang beredar, mereka juga duduk dan berbaring di atasnya.Padahal bunga-bunga indah tersebut hanya mekar setahun sekali, di awal musim hujan. Ketika mekar mereka akan bertahan selama ± 10 hari saja.



3. Gili Lawa, NTT 

Images Source : ( inilah.com )

Gililawa merupakan sebuah pulau padang rumput yang masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Tahun 2018 lalu, pulau ini terbakar dan menghanguskan sekitar 10 Ha lahan setelah 9 jam dilalap api. 

Keindahan Gililawa menjadi hilang setelah insiden kebakaran tersebut. Rumput-rumput kering menjadi hitam karena hangus. Menurut beberapa sumber, kebakaran di Gililawa dipicu oleh puntung rokok milik wisatawan yang dibuang sembarangan. 

 4. Gunung Rinjani, NTB


Images Source : ( trubus.id )

Gunung Rinjani merupakan gunung tertinggi di NTB yang dikenal karena keindahannya. Pada tahun 2016 lalu, sekitar 1.5 ton sampah telah berhasil diangkut dari Gunung Rinjani. Sampah tersebut berasal di sepanjang jalur pendakian Desa Sembalun yakni 947 kg dan Desa Senaru yakni 527,2 kg. 

Sampah ini berasal dari para pendaki yang terdiri atas sampah organik dan non-organik, namun sebagian besar didominasi sampah organik. 

5. Negeri di Atas Awan, Banten 


Images Source : ( regional.kompas.com )


Negeri di Atas Awan merupakan kawasan wisata yang berlokasi di Gunung Luhur, Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten. Tempat ini viral karena keindahannya yang sangat memukau. 

Namun tidak lama setelah viral, Negeri di Atas Awan di tutup sementara karena jumlah pengunjung membludak hingga menimbulkan kemacetan parah. Tidak kurang dari 30.000 memadati Negeri di Atas Awan Gunung Luhur dengan kendaraan bermotor. 

Jalanan yang belum selesai membuat debu bertebaran di seluruh jalur menuju Gunung Luhur. Sekitar tiga bulan lamanya, tempat ini ditutup untuk umum agar memberikan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan jalan yang belum selesai.

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg