BREAKING NEWS

Uniknya masjid-masjid di Indonesia bertema "oriental"


Ternyata masih ada yang belum mengetahui bahwa etnis Tionghoa yang minoritas di Indonesia memiliki peran besar dalam penyebaran agama Islam di Indonesia. Orang-orang Arab Handramaut, Persia, dan Gujarat memang menyebarkan agama Islam di Indonesia, namun tidak hanya mereka, imigran etnis Tionghoa juga menyebarkan agama Islam di Indonesia. Berikut sejarah singkatnya.

Di masa lalu, China dan Arab telah memiliki hubungan dagang. Pedagang yang berasal dari Arab dan China saling menjajakan hasil negaranya untuk dijual ke negara lain melalui dua jalur perdagangan utama dunia waktu itu jalur sutera dan jalur keramik. Jalur sutera yaitu membawa barang dagangan melalui jalur darat. Disebut jalur sutera karena sebagian besar barang dagangan yang diangkut melalui jalur darat adalah kain sutera. Jalur keramik yaitu membawa barang dagangan melalui laut. Disebut dengan jalur keramik karena memang barang-barang yang diangkut sebagian besar berupa keramik.

Baca : Berwisata Saat Imlek : Ini 5 Ide Unik Rayakan Imlek di Indonesia

Sekitar abad ke 15 imigran China Muslim yang sebagian besar berasal dari Guang Dong dan Fujian, mendarat di Nusantara (Indonesia). Mereka tinggal di Indonesia dengan mata pencaharian pedagang, pertanian, dan pertukangan. Pada masa inilah para imigran China (Tionghoa) muslim menyebarkan ajaran agama Islam. Beberapa daerah tujuan imigran China (Tionghoa) muslim adalah Sambas, Lasem, Palembang, Banten, Jepara, Tuban, Gresik, dan Surabaya.

Pada tahun 1405 sampai 1433, rombongan muhibah Laksamana Cheng Ho yang beragama Islam beberapa kali singgah di Indonesia. Anak buah laksamana Cheng Ho terdiri atas berbagai pemeluk agama, termasuk agama Islam. Saat singgah di Indonesia terutama di Sumatera dan Jawa mereka juga menyebarkan ajaran agama Islam. Jadi nampak jelas peran etnis Tionghoa sebagai salah satu penyebar agama Islam di Indonesia.

Untuk melihat dan mengingat penyebaran agama islam oleh masyarakat tionghoa pada masa silam..ayo kita napak tilas melihat Uniknya masjid-masjid di Indonesia bertema "oriental" di indonesia

Masjid Masjid Cheng Ho Surabaya

Masjid Cheng Ho Surabaya adalah Masjid bernuansa Muslim Tionghoa yang berlokasi di Jalan Gading, Ketabang, Genteng, Surabaya atau 1.000 m utara Gedung Balaikota Surabaya. Masjid ini didirikan atas prakarsa para sespuh, penasehat, pengurus PITI, dan pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia Jawa Timur serta tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya. Pembangunan masjid ini diawali dengan peletakan batu pertama 15 Oktober 2001 bertepatan dengan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Sedangkan pembangunannya baru dilaksanakan 10 Maret 2002 dan baru diresmikan pada 13 Oktober 2002.

Masjid Cheng Ho, atau juga dikenal dengan nama Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya, ialah bangunan masjid yang menyerupai kelenteng (rumah ibadah umat Tri Dharma). Gedung ini terletak di areal komplek gedung serba guna PITI (Pembina Imam Tauhid Islam) Jawa Timur Jalan Gading No.2 (Belakang Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa), Surabaya. Masjid ini didominasi warna merah, hijau, dan kuning.


Ornamennya kental nuansa Tiongkok lama. Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda, terdapat juga relief naga dan patung singa dari lilin dengan lafaz Allah dalam huruf Arab di puncak pagoda. Di sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk sebagai pelengkap bangunan masjid. Selain Surabaya, di Palembang juga telah ada masjid serupa dengan nama Masjid Cheng Ho Palembang atau Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya Palembang dan di Banyuwangi dengan nama Masjid Muhammad Cheng Hoo Banyuwangi.

 Masjid Lautze di Jakarta

Berdiri di antara padatnya deretan ruko Jalan Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat, bangunan ini terbilang sangat eye catching. Siapa sangka, bangunan dengan dominasi warna merah dan kuning ini adalah sebuah masjid tanpa kubah.

Masjid Lautze memiliki keunikan tersendiri. Sekilas, bangunan ini memiliki karakteristik menyerupai klenteng. Lampion berukuran sedang menyambut mereka saat akan memasuki masjid yang diresmikian pada 1994 tersebut. 
Hiasan bergaya Tionghoa menjadi "teman" muslim yang beribadah di sini. Memasuki bagian dalam masjid, deretan kaligrafi Arab dan Tionghoa bersanding "akrab" di dinding.

Haji karim Oei, menjadi tokoh paling berpengaruh atas berdirinya Masjid Lautze pada 9 April 1991, dan diresmikan pada 4 Februari 1994 oleh Presiden BJ Habibie.



Asal kata "Lautze" sendiri adalah tokoh muslim Tionghoa yang memeluk Islam pada 1930an. Tak heran jika pada masjid ini dititipkan harapan sebagai tempat untuk syiar Islam warga keturunan Tionghoa.

 Masjid Lautze 2 di Bandung

Kota Bandung memiliki bangunan masjid berarsitektur khas Tionghoa, yakni Masjid Lautze II Bandung. Hadirnya masjid ini memberikan kontribusi yang besar terhadap warga sekitarnya, keberadaan masjid tersebut merupakan representasi dan bukti eksistensi warga muslim Tionghoa di kota Bandung. 

Pada awalnya mesjid ini didirikan seorang mualaf Tionghoa bernama Oei Tjeng Hien atau biasa dikenal dengan nama Haji Karim Oei mendirikan Lautze sebagai wadah informasi bagi etnis Tionghoa. Yayasan Karim Oei-lah mendirikan Masjid Lautze di daerah Pecinan Jakarta pada 1991. Sadar penyebaran informasi tak hanya bisa di satu tempat, dia pun mendirikan di kota lainnya yang tak lain adalah Bandung pada tahun 1997.

Masjid ini sempat  mengalami renovasi hasil tangan arsitek Institut Teknologi Bandung. Hasilnya yang sangat menarik dengan didominasi warna merah yang terdapat pada interior dan eksterior pada masjid yang kemudian dipadukan dengan beberapa ornamen seperti lampu, tangga, dan partisi yang diukir ala ornamen-ornamen Cina. Uniknya lagi masjid ini seperti sebuah bangunan toko berukuran 7 x 6 meter yang bergambar kubah layaknya masjid dengan tembok yang hampir seluruhnya berwarna merah. Itulah Masjid Lautze II Bandung, sebuah masjid yang dibangun pada 1997.


Mungkin jika kamu lihat  masjid ini cenderung tertutup karena situasinya yang berada di pinggir jalan utama. Jangan salah hal ini dilakukan untuk menghindari kebisingan dan debu yang mudah masuk, jadi pintunya ditutup.  Tapi jangan salah pikir ya! Ketika kamu masuk orang-orang yang berada disana sangat welcome kok!

 Masjid Jami' Tan Kok Liong bogor

Masjid Jami' Tan Kok Liong mulai dibangun pada 2005 dengan dana 2 Milyar Rupiah Ide awalnya muncul dalam kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Cina tahun 2004. Dalam kunjungan tersebut, Presiden Yudhoyono berusaha meyakinkan pengusaha Cina supaya bersedia menanamkan modalnya di Indonesia. Anton Medan, yang hanya melihat acara tersebut di televisi, tergerak untuk menunjukkan kepada pengusaha Cina bahwa komunitas Tionghoa di Indonesia diakui dan dilindungi pemerintah.

Bermodal keuntungan usaha percetakan dan sablon bagi peserta Pemilu 2004, Anton mulai mendesain bentuk masjid bergaya klenteng. Dia mendesain sendiri tanpa jasa arsitek atau desainer interior. Untuk mewujudkannya, Anton berburu VCD bentuk-bentuk istana di Cina ke Pluit. Dari berbagai bentuk itu akhirnya terpilih tiga istana: Istana Dinasti Ching, Ming, dan Han. Pilihan jatuh pada istana Dinasti Ching, yang mendekati kemiripan dengan desain masjid di Indonesia



Rancang bangun masjid Jami’ Tan Kok Liong ini di buat sendiri oleh pembangun dan pemiliknya, Anton Medan. Bangunan berlantai tiga berukuran 16 x 20m ini memang lebih menyerupai kelenteng dibandingkan sebuah masjid. Bangunan yang menjulang tinggi itu didominasi warna merah menyala. Ornamen naga menghiasi semua sudut atapnya yang berjenjang tiga. Lantai dasarnya digunakan untuk kantor pesantren, lantai satu dan dua untuk shalat. Kubah masjidnya berukuran kecil  berada di atap depan lantai dasar. Berbeda dengan masjid pada umumnya yang berkubah besar dan berada di puncak atap utama.

 Masjid KHM Bedjo Darmoleksono

MASJID KH. M. BEDJO DARMOLEKSONO adalah masjid yang cukup besar dengan kombinasi warna hijau dan merah, seperti bangunan-bangunan Tiongkok yang terletak persis di depan RS UMM. Ini juga merupakan salah satu fasilitas bangunan yang dimiliki Universitas Muhammadiyah Malang. Bangunan masjid bertingkat yang besar, menarik, dan dengan dilengkapi fasilitas berupa kamar mandi dan area parkir yang luas ini sangat nyaman sekali dan sejuk untuk menjalankan aktivitas keagamaan di sana.

Masjid bernuansa Tiongkok yang satu ini benar benar istimewa, karena dibangun bukan oleh komunitas Muslim Tionghoa Indonesia tapi justru dibangun oleh Universitas Muhammadiyah Malang. Ketika Universitas Muhammadiyah Malang berencana membangun sebuah Rumah Sakit lengkap dengan fasilitas Masjid, Rektorat UMM memutuskan untuk memprioritaskan pembangunan masjid agar segera dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, dan setelah beberapa kali berganti design ahirnya diputuskan untuk membangun sebuah masjid dengan arsitektur Tiongkok.

Rektor UMM Dr. Muhadjir Effendy, MAP memberi nama masjid itu dengan nama Masjid KH M. Bedjo Darmoleksono, Nama seorang tokoh pelopor Muhammadiyah di Malang. Pada saat artikel ini dibuat masjid ini belum genap berumur sebulan dan Lantai satu masjid ini sementara waktu masih digunakan sebagai kantor Pengelola Rumah Sakit. 


Dipilihnya arsitektur Tiongkok dengan tiga lapis atap masjid, menandakan bahwa UMM bersifat terbuka, plural dan bisa belajar dari mana saja, termasuk ke negeri China. Tiga lapis atap yang mirip masjid Muhammad Cheng Ho Pasuruan itu, menandakan kekuatan Iman, Islam dan Ihsan.Masjid Kyai Bedjo memiliki struktur bangunan yang khas. Gaya arsitekturnya meniru gaya Tionghoa, yang mengingatkan kita pada bentuk bangunan masjid Muhammad Cheng Ho di Pasuruan. Filosofi yang hendak dibangun dari bentuk bangunan itu, diambil dari anjuran Islam untuk mencari ilmu hingga ke negeri Cina. Dengan demikian, siapapun yang melihat dan berkunjung di masjid itu diharapkan bisa terinspirasi hadis nabi ‘tuntutan ilmu sampai ke Cina.

 Masjid Al Imtizaj Bandung

Al Imtizaj adalah masjid dengan arsitek budaya tionghoa sehingga dapat disebut Kelenteng Berkubah karena dalam bangunan gapura yang berbentuk kelenteng tetapi di atasnya dibuat kubah yang biasanya menjadi lambang atau icon dari bangunan-bangunan masjid di Indonesia pada umumnya. Setelah melewati gapura yang indah, pengunjung akan langsung menemukan pintu mesjid dengan menuruni anak tangga terlebih dahulu.

Kesejukan akan sangat terasa setelah berada didalam mesjid dan wangi cat kayu pun masih terasa karena bangunan lebih didominasi oleh bahan kayu, “maklumlah, kan mesjid ini masih baru jadi bau cat nya pun masih tercium” ujar irwan sembari tersenyum. Dua tiang besar berwarna merah, seakan menambah kesan kekokohan bangunan china di jaman dulu. Masjid Al-Imtizaj dibangun dimaksudkan untuk memperkaya seni masjid dengan budaya tiongkok dalam meningkatkan khasanah pembauran etnis tionghoa Islam dengan umat Islam lainnya. “Mesjid ini sangat terbuka untuk siapa saja, mau pribumi ataupun tionghoa kita sama muslim siapa saja bisa beribadah di mesjid ini” tandasnya.

Awal sejarah pembangunan masjid ini berawal dari keinginan Bapak HR. Nuriana (mantan gubernur jawa barat ) untuk membangun suatu Masjid bagi kaum saudara baru (muallaf) khususnya bagi saudara etnis tionghoa, karena perhatian serta pelayanan bagi saudara muda tersebut dirasa masih kurang. Rencana ini telah lama hingga beliau (HR. Nuriana) mencari tempat-tempat yang layak untuk dibangunkan sebuah masjid dengan budaya tionghoa tersebut. Dan setelah ditemukan gedung yang cocok untuk di bangun masjid, dilaksanakanlah Pertemuan dan survey awal dan itu dilakukan sampai  beberapa kali hingga disepakati suatu tempat bekas generator listrik. Mulailah survey oleh team arsitek/teknis untuk memastikan kelayakan serta draft desain dari masjid yang akan dibagun.



Tim arsitek tersebut dikomandani oleh Ir. Danny Swardhani MBA, yang merupakan arsitek dari banyak masjid termasuk Masjid Atta’awun Puncak Bogor yang merupakan salah satu Monumen Kebersamaan Masyarakat Jawa Barat. Dalam waktu yang cukup singkat, awal bulan puasa 1429 H draft desain masjid oleh tim Bapak Ir. Danny Swardhani, MBA telah selesai dengan thema masjid kelenteng berkubah. Setelah pembangunan selesai lalu masjid tersebut diresmikan pada hari jumat (6/8) oleh Bapak HR.Nuriana dengan nama Masjid AL Imtizaj.

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg