BREAKING NEWS

Long Weekend di Medan, Ini Pilihan Destinasinya


Sahabat NusaPedia Akhir pekan yang panjang sudah di depan mata. Bagi kamu yang sedang berencana berakhir pekan di medan atau sekedar berkeliling di kota medan atau ada diatanra Traveler yang mau liburan ke Medan, berikut aneka rekomendasi tempat wisata keren.

Wisata Kota Medan
Medan Sumatera menjadi tempat yang strategis sebab berada di jalur pelayaran Selat Malaka. Dengan demikian, kota ini menjadi pintu gerbang kegiatan ekonomi domestik dan mancanegara yang melalui Selat Malaka. Selain itu, Medan juga berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan juga beberapa daerah kaya sumber daya alam, mempengaruhi kemampuan Medan dalam hal ekonomi sehingga memiliki hubungan kerjasama yang saling memperkuat dengan daerah sekitarnya.

Luas Kota Medan adalah sekitar 26.510 hektar atau setara dengan 265,10 km². Dengan kata lain, Kota Medan memiliki wilayah 3,6% dari keseluruhan Sumatera Utara. Kota Medan jika diperlihatkan secara topografinya cenderung miring ke utara. Kota ini berada pada 2,5 hingga 3,5 meter di atas permukaan laut.

Beberapa Sungai yang mengaliri Kota Medan adalah Sungai Belawan, Sungai Badera, Sungai Sikambing, Sungai Putih, Sungai Babura, Sungai Deli, Sungai Sulang-Saling, Sungai Kera, dan Sungai Tuntungan. Pemerintah juga telah membuat kanal besar dengan nama Medan Kanal Timur agar dapat mencegah banjir di beberapa wilayah Kota Medan. 
Wisata di Medan pastinya bakalan menyenangkan. Mulai dari wisata sejarah, religi hingga kuliner bisa dilakukan di sini. Berbagai sisi destinasi wisatanya pun cantik buat foto-foto.

1.Istana Maimun

Wisata Di Medan
Sejak tahun 1946, Istana ini dihuni oleh para ahli waris Kesultanan Deli. Dalam waktu-waktu tertentu, di istana ini sering diadakan pertunjukan musik tradisional Melayu. Biasanya, pertunjukan-pertunjukan tersebut dihelat dalam rangka memeriahkan pesta perkawinan dan kegiatan sukacita lainnya. Selain itu, dua kali dalam setahun, Sultan Deli biasanya mengadakan acara silaturahmi antar keluarga besar istana. Pada setiap malam Jumat, para keluarga sultan mengadakan acara rawatib adat (semacam wiridan keluarga). 

Bagi para pengunjung yang datang ke istana, mereka masih bisa melihat-lihat koleksi yang dipajang di ruang pertemuan, seperti foto-foto keluarga sultan, perabot rumah tangga Belanda kuno, dan berbagai jenis senjata. Di sini, juga terdapat meriam buntung yang memiliki legenda tersendiri. Orang Medan menyebut meriam ini dengan sebutan meriam puntung.

Istana Maimun adalah sebuah bangunan peninggalan sejarah masa kerajaan melayu Sultan Deli ke- IX yaitu Sultan Ma”moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah, bangunan ini mulai dibangun pada 26 Agustus 1888 dan selesai selama 3 tahun yang sekaligus diresmikan pada tanggal 18 Mei tahun 1891. Bangunan begitu kokoh dan megah hingga saat ini didesain oleh arsitektur asal Italia yang bernama Ferari.

Wisata di Medan
Pembangunan ini menghabiskan dana setara satu juta gulden jika dikurskan dengan mata uang Belanda, konsep arsitekturnya unik, cantik, dan memiliki karakter unsur tradisiononal yang khas Indonesia dengan sentuhan Melayu, baik bentuk maupun ornamennya dipengaruhi oleh berbagai kebudayaan, antara lain Melayu, Islam, Spanyol, china, India dan Itali. Bangunan ini juga didominasi dengan warna kuning keemasan yang identik dengan etnis Melayu.
Istana ini terletak di Kelurahan Sukaraja kecamatan Medan Maimun jalan Brigjen Katamso

Kota Medan Sumatera Utara. Secara geografis kota Medan terletak pada koordinat 3° 30′ – 3° 43′ Lintang Utara dan 98° 35′ – 98° 44′ Bujur Timur. topografi kota Medan cenderung miring ke utara dan berada pada ketinggian 2,5 – 37,5 meter di atas permukaan laut.

Bangunan yang didirikan diatas tanah seluas 2.772 m2. Persegi ini dengan dua lantai yang memiliki luasnya 772 m2 dan mempunyai 30 bilik (kamar)yang didalamnya terdapat berbagai macam perabotan dengan gaya Eropa, seperti lemari, kursi dan lampu-lampu Kristal.
Bangunan dua lantai ini dibagi menjadi tiga bagian ruangan.: Ruang Utama, sayap kanan  dan sayap kiri. Ruangan Utama atau ruangan induk disebut dengan Balairung Sri yang luasnya 412 m2 ruangan ini biasanya digunakan untuk acara-acara adat kerajaan, menerima tamu ataupun acara penobatan Sultan Deli, ruangan ini dihiasi dengan koleksi peninggalan-peninggalan jaman dahulu seperti senjata tua dan foto-foto keluarga, selain itu pada bagian belakang ada dapur, gudang dan ruangan penjara.
Keunikan perpaduan tradisi Melayu dengan kebudayaan Eropa pada bangunan interiornya. Sedangkan influence Islam dapat terlihat dari bentuk kurva di beberapa bagian atap istana. Kurva yang berbentuk seperti kapal terbalik atau yang kerap dikenal dengan Persia Curve yang sering dijumpai pada bangunan di kawasan Timur Tengah, India, atau Turki.

2.Gereja Graha Maria Annai Velangkanni

Wisata di Medan
Gereja Grha Maria Annai Velangkanni ini terbuka bagi siapapun, bahkan bagi para wisatawan yang hanya ingin melihat arsitek bangunan dan interior gereja. Lokasinya pun strategis, sehingga memudahkan akses transportasi. Dan yang lebih penting tidak ada biaya apapun di sini. Para wisatawan juga dapat mengambil foto di bagian manapun, termasuk di tempat sembahyang. Tidak tanggung-tanggung, dana yang dihabiskan untuk pembangunan gereja ini mencapai empat miliar rupiah, wooow…. eits, tapi dana tersebut bukan dari Pastor James sendiri, dana tersebut berasal dari sumbangan-sumbangan para jemaat dan beberapa negara, termasuk Singapura dan India.

Sebuah bangunan kuno di medan yang dijadikan tempat beribadah bagi umat katolik, sekaligus objek wisata adalah Gereja Grha Maria Annai Velangkani. Gereja ini terletak di Kecamatan Tuntungan, Kelurahan Tanjung Selamat, di Jalan Sakura III, dekat Perumahan Taman Sakura Indah. Dilihat sepintas, bangunan gereja ini tidak mirip dengan gereja, justru mirip dengan kuil yang ada di India. Ya, pantas saja. Karena memang pendiri gereja ini terinspirasi dari kuil di India.

Wisata di Medan
Orang yang membangun gereja ini adalah Pastor James Bharataputra. Selain bangunan ini dari luar nampak seperti kuil, di dalamnya pun ternyata terdapat relief-relief dan patung yang mirip dengan patung yang ada di kuil India.Pada dinding-dinding gereja, terdapat relief-relief yang menceritakan peristiwa penyaliban Yesus Kristus. Bangunan ini terdiri dari dua tingkat, tingkat pertama adalah aula, tempat untuk beribadah, dan di tingkat kedua, terdapat patung Annai Velangkanni dan puteranya, yang didatangkan langsung dari India.

Uniknya, tersedia juga komplek graha untuk menginap bagi pengunjung yang rumahnya jauh. Penginapan ini gratis lhoo.., ada juga tempat di dekat gereja yang disediakan untuk bermain anak-anak. Area parkirnya pun luas dan bersih, sehingga terkesan nyaman.Saat anda memasuki gereja ini, suasana tenang pun langsung terasa, sehingga anda dapat berdoa dengan hikmat. Tidak sampai disitu, sebuah keajaiban terjadi beberapa hari setelah gereja itu didirikan. Tepat di bawah telapak kaki Bunda Maria, muncul sebuah mata air.

Air ini dipercaya oleh masyarakat setempat dapat menyembuhkan penyakit. Anda penasaran dengan mata air ini? Jika anda sedang berjalan-jalan di kota Medan, mampirlah sejenak untuk melihat keajaiban ini. 

Cara menuju Gereja : naik kenderaan umum jalur apa pun yang menuju arah Terminal Pinang Baris. Lalu turun di depan terminal, dan naik angkot ke Asam Kumbang. Atau anda juga dapat menggunakan betor, dengan tarif Rp. 20.000 hingga Rp. 30.000.

3.Mesjid Raya Al-Mashun

Wisata di Medan
Masjid Raya Medan atau Masjid Raya Al Mashun merupakan sebuah masjid yang terletak di Medan, Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 1906 dan selesai pada tahun 1909. Pada awal pendiriannya, masjid ini menyatu dengan kompleks istana.Mesjid Raya Medan yang berdiri kokoh tak jauh dari Istana Maimun adalah bangunan yang juga menjadi jejak kejayaan Deli. Dibangun pada tahun 1906, semasa pemerintahan Sultan Makmun Al Rasyid, mesjid ini masih berfungsi seperti semula, yaitu melayani umat muslim di Medan yang ingin beribadah.Kubahnya yang pipih dan berhiaskan bulan sabit di bagian puncak, menandakan gaya Moor yang dianutnya. Seperti mesjid lainnya, sebuah menara yang menjulang tinggi terlihat menambah kemegahan dan religiusnya mesjid ini. Aplikasi lukisan cat minyak berupa bunga-bunga dan tumbuhan yang berkelok-kelok di dinding, plafon dan tiang-tiang kokoh di bagian dalam mesjid ini, semakin menunjukkan tingginya nilai seni mesjid ini.

Masjid Raya Al Mashun atau Masjid Raya Medan atau kadang juga disebut Masjid Raya Deli, merupakan salah satu dari dua masjid yang pernah menjadi Masjid resmi kesultanan Deli pada masa jayanya. Masjid Raya Al Mashun juga merupakan masjid tertua ke tiga di kota Medan setelah Masjid Al Osmani di Labuan Deli yang juga merupakan masjid kesultanan Deli yang pertama dan Masjid Lama Gang Bengkok di Jalan Masjid Kesawan.

Al-Mashun yang berarti ‘dipelihara’, sesuai namanya hingga kini masih terpelihara dan terawat dengan baik. Tidak heran, karena masjid ini di masa silam merupakan Masjid Negara pada masa jayanya Kesultanan Melayu Deli, lokasinya berdiri hanya terpaut sekitar 200 meter dari Istana Maimun yang merupakan Istana kesultanan Deli. Pembangunan Masjid Raya Al Mashun dimulai pada tahun 1906, dan selesai pada tahun 1909. Secara keseluruhan biaya pembangunan masjid ditanggung sendiri oleh Sultan Maamun Al-Rasyid Perkasa Alamsjah, menghabiskan dana sebesar satu juta gulden Belanda.
Sisi timurMasjid Raya Al Mashun menghadap ke Jalan Sisingamangaraja sedangkan sisi utaranya menghadap ke Jalan Masjid Raya. Letaknya yang demikian membuat beberapa orang menulis alamat masjid ini berada di Jl. Sisingamangaraja yang lain nya menuliskannya berada di Jl. Masjid Raya. Namun yang pasti Masjid Raya Al Mashun ini berada di pusat kota Medan, tak jauh dari Istana Maimun yang sama sama peninggalan Kesultanan Melayu Deli.

4.Merdeka Walk

Wisata di Medan
Tak asik rasanya kalo liburan tanpa wisata kuliner. Jika kalian sedang singgah di Medan, coba deh menikmati suasana malam di Merdeka Walk Medan. Obyek wisata ini menjadi salah satu daftar wajib yang harus dikunjungi saat ke Medan. Apa yang menarik dari tempat ini, berikut sedikit info yang akan menambah wawasan Anda.

Di tempat wisata kuliner di medan ini selain terdapat berbagai macam hiburan juga tersedia food court pinggir jalan. Terdapat berbagai macam makanan yang disajikan di tempat ini. Berbagai makanan mulai dari masakan khas Medan sampai Western Food dan Asian Food ada disini. Menu yang ditawarkan di sini memang beragam jenis. Contohnya steak yang variatif jenis dan sajiannya, sushi, seafood dan sup tomyam, hingga berbagai jenis minuman impor. Sedangkan untuk menu lokal malahan lebih beragam lagi, mulai lontong sayur, soto medan, sup buntut, sate padang, nasi gurih atau nasi lemak, dan tentu saja menu andalan lidah orang Indonesia ada yaitu nasi goreng, mie pangsit, bakso hingga empek empek.

Wisata di Medan
Kafe dan restoran yang sudah terkenal pun sudah ada disini, sebut saja Pizza Hut, McDonald, Coffee Bean Cafe, Oh Lala Cafe, New Zeland Juice, Nelayan Restoran, Pearl Terrace, Dupendys. Jadi kalian tidak usah bingung memilih makanan enak disini
Harga menu menu yang ditawarkan disini bervariatif mulai dari 15 ribu rupiah saja. Namun jika dibandingkan dengan harga di warung sebelah rumah, tentu harga makanan yang di tawarkan di kawasan Merdeka Walk Medan lebih mahal. Dari sisi harga, bisa dikatakan harganya untuk kalangan menengah ke atas. Beberapa harga yang standar seperti di luaran hanyalah di restoran fast food seperti yang disebutkan diatas.

Alamat tempat wisata ini berada di lapangan Merdeka yang persis di jantung kota Medan yaitu berada dekat dengan Gedung Balai Kota dan Kantor Pos Medan. Dengan lokasi yang strategis ini, Merdeka Walk Medan ini menjadi daya tarik sendiri bagi kawula muda yang ingin sekedar ngumpul atau hangout dan juga bagi keluarga maupun sekedar refreshing dari rutinitas sehari hari.

Merdeka Walk Medan ini buka dari jam 11 pagi sampai tengah malam pada hari Minggu – Jumat. Sedangkan untuk hari sabtu / malam minggu akan buka dari jam 11 pagi sampai jam 2 dini hari. Namun geliat penuhnya pengunjung mulai dari sore hingga malam hari. Apalagi pada malam minggu akan banyak muda mudi sedang makan bersama.

5.Museum Sumatera Utara

Wisata di Medan
Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara diresmikan tanggal 19 April 1982 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr.Daoed Yoesoef, namun peletakan koleksi pertama dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno, tahun 1954 berupa makara. Oleh karena itu museum ini terkenal dengan nama Gedung Arca. Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara terletak di Jalan H.M.Joni no. 15, Medan. Jarak dari bandara udara Polonia sekitar 3 km, dan dari pelabuhan laut Belawan sekitar 25 km. Sedangkan dari pusat pemerintahan kantor Gubernur Sumatera Utara berkisar 3 km.

Bangunan museum berdiri di atas lahan seluas 10.468 meter persegi, terdiri dari bangunan induk dua lantai yang difungsikan sebagai ruang pameran tetap, ruang pameran temporer, ruang audio-visual/ceramah, ruang Kepala Museum, tata usaha, ruang seksi bimbingan, perpustakaan, ruang mikro film, ruang komputer, serta gudang. Secara arsitektur, bentuk bangunan induk museum ini menggambarkan rumah tradisional daerah Sumatera Utara. Pada bagian atap depan dipenuhi dengan ornamen dari etnis Melayu, Batak Toba, Simalungun, Karo, Mandailing, Pakpak, dan Nias.

Berdasarkan koleksi yang dimiliki, Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara dikategorikan sebagai museum umum. Sebagian besar koleksinya berasal dari daerah Sumatera Utara berupa benda-benda peninggalan sejarah budaya mulai dari masa prasejarah, klasik pengaruh Hindu-Buddha, Islam, hingga sejarah perjuangan masa kini. Sebagian lainnya berasal dari beberapa daerah lain di Indonesia dan dari negara lain seperti Thailand. Hingga tahun 2005 Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara menyimpan kurang lebih 6.799 koleksi. Berikut akan diuraikan koleksi museum ini.

MASA PRASEJARAH
Pada ruang pertama ini ditampilkan sejarah geologi mulai terbentuknya alam semesta, pergeseran benua, dan Pulau Sumatera. Sejarah alam mengenai migrasi manusia, sebaran flora dan fauna, juga mengenai kehidupan prasejarah. Koleksi yang ditampilkan meliputi replika hewan khas Sumatera, replika fosil manusia purba, diorama kehidupan prasejarah, serta beragam perkakas prasejarah.


KEBUDAYAAN SUMATERA UTARA KUNO 
Menampilkan jejak dari peradaban awal masyarakat Sumatera Utara, mulai dari masa megalitik tua hingga masa perundagian. Koleksi yang ditampilkan meliputi temuan budaya megalit seperti peti mati dari batu (sarkofagus), benda-benda religi berupa patung batu dan kayu, tongkat perdukunan, wadah obat dari gading, serta koleksi naskah Batak Kuno yang ditulis pada kulit kayu yang disebut Pustaha Laklak.
Wisata di Medan
MASA KERAJAAN HINDU-BUDDHA
Peradaban Hindu dan Buddha menyebar ke wilayah Indonesia seiring dengan berkembangnya perniagaan Asia sekitar abad ke-2 Masehi. Ruang ini menampilkan koleksi peninggalan agama Hindu-Buddha yang ditemukan di daerah Sumatera Utara, diantaranya temuan arkeologi dari situs Percandian Padang Lawas dan situs Kota Cina. Benda koleksi meliputi arca batu, perunggu, pecahan keramik, dan mata uang kuno, juga sebuah replika candi induk dari Candi Bahal I.

MASA KERAJAAN ISLAM
Ruang Islam menampilkan berbagai artefak peninggalan masa Islam seperti replika berbagai batu nisan dari makam Islam yang ditemukan di daerah Barus, Sumatera Utara. Serta nisan peninggalan Islam yang bercorak khas Batak, beberapa Al Qur'an, dan naskah Islam tua yang ditulis dengan tangan. Serta sebuah replika Masjid Azizi di Medan (note: tepatnya di Tanjung Pura, Langkat; negeri kelahiran Amir Hamzah).

KOLONIALISME DI SUMATERA UTARA
Sebelum Pemerintah Hindia Belanda masuk dan memerintah di wilayah Sumatera, para pengusaha dari Eropa khususnya Jerman telah datang dan membuka perkebunan di Sumatera. Koleksi masa kolonial membawa kita kembali pada masa-masa tersebut, ketika kemajuan usaha perkebunan telah melahirkan Medan sebagai kota multikultur yang kaya, unik, dan menarik. Koleksi yang ditampilkan meliputi komoditas perdagangan kolonial, alat-alat, dan mata uang perkebunan, foto-foto bersejarah yang langka, model figur kolonial, serta replika dari kehidupan kota Medan tempo dulu.

Wisata di MedanPERJUANGAN RAKYAT SUMATERA UTARA
Seperti halnya daerah lain di Indonesia, di Sumatera Utara telah tumbuh benih-benih perlawanan terhadap penjajah jauh sebelum kemerdekaan. Ruang perjuangan menceritakan sejarah perjuangan masyarakat Sumatera Utara sejak sebelum 1908 sampai masa revolusi fisik 1945-1949, juga ditampilkan sejarah perjuangan pers di Sumatera Utara. Benda koleksi meliputi senjata tradisional dan modern, obat-obatan tradisional, peralatan komunikasi yang digunakan melawan penjajah. Juga ditampilkan lukisan kepahlawanan dan poster propaganda masa perang.

GUBERNUR & PAHLAWAN SUMATERA UTARA
Ruang ini menampilkan para pahlawan nasional yang berasal dari provinsi Sumatera Utara, juga para mantan gubernur yang telah berjasa membangun dan memajukan provinsi Sumatera Utara. Koleksi berupa foto-foto serta lukisan dari para pahlawan dan mantan gubernur Sumatera Utara.
 

6.Taman Buaya Asam Kumbang

Wisata di Medan
Taman Penangkaran Buaya Asam Kumbang yang ada di Jalan Bunga Raya 2 No 54 Medan hingga saat ini keadaannya masihlah tampak simpel. Meski sekian, Taman Penangkaran Buaya Asam Kumbang yang didirikan oleh Lo Tham Muk ini keseharian sangat banyak dikunjungi beberapa pelancong (traveler) dari beragam penjuru. Terlebih-lebih pada akhir minggu serta musim berlibur.

Taman Buaya Asam Kumbang adalah taman reptil paling besar di Indonesia. Ditempat ini ada 3000an ekor buaya dari yang kecil sampai yang besar. Penangkaran Buaya ini diawali mulai sejak th. 1959, didirikan oleh seorang yang bernama Lo Than Mok. Penangkaran ini di bangun diatas tanah seluas 2 Hektar. Penangkaran ini sudah membuahkan beberapa ribu ekor budaya yang siap reproduksi. Untuk makanan Buaya ini saya dapat menghasiskan 1 ton lebih daging sebagai mengkonsumsi hariannya.
Taman buaya ini adalah Ikon Kota Medan yang cukup khas serta unik. Di mana lagi dapat saksikan beberapa ribu buaya dengan di Dominasi oleh type Buaya Muara. Terkecuali buaya, anda dapat lihat juga kebun binatang mini, yang ditempati sebagian hewan yang cukup menarik yakni Monyet, Ular Phyton serta Cobra, Penyu serta kura-kura, dan tak ketinggal beberapa ratus bangau putih yang terbang ke sana kemari di atas Kolam besar penangkaran buaya itu.
Taman Buaya ini di buka sehari-hari dari jam 09. 00-18. 00 Wib serta Anda bakal dipakai ticket masuk sebesar Rp. 5000, -/orang (Dewasa) serta Rp 3000, -/orang (anak-anak).

7.Maha Vihara Maitreya

Wisata di Medan
Maha Vihara Maitreya didirikan sejak tahun 1991 di tanah seluas 4,5 hektar yang berada di komplek Cemara Asri, Jalan Boulevard Utara, Medan. Meski didirikannya sudah lama, tetapi baru diresmikan pada tahun 2008.Nama Maha Maitreya dalam vihara diambil dari nama Budha Maitreya yang ditinggikan karena ajarannya tentang cinta kasih semesta kepada umat Budha.

Tempat ibadah ini sangat ramai dikunjungi. Suasana di sana sangat tenang dan damai. Ini membuat suasana beribadah menjadi lebih khusyuk.
Desain dan penataan vihara ini terlihat sederhana dengan beberapa sudut tempat yang menarik bagi yang hobi foto-foto.

Vihara ini dapat menjadi bukti tentang kemakmuran masyarakat di Medan sekaligus menjadi bukti yang menyatakan bahwa tingginya toleransi umat beragama di sana.Tujuan utama pembangunan Maha Vihara Maitreya pastinya adalah sebagai tempat peribadatan umat Buddha di Medan secara khususnya dan Sumatera Utara secara umum. 

Wisata di Medan
Di sisi kiri dari vihara ada sebuah patung Dewi Kuan Yim dengan air kolam berisi ikan koi yang dipercaya dapat membawa keberuntungan. Selain itu, ada dua buah patung naga yang berhadapan mengarah ke patung Dewi Kuan Yim.
Di Maha Vihara Maitreya ini juga memiliki taman burung yang berisi berbagai jenis burung. Ini membuat pengunjung yang datang menjadi betah dan lupa waktu.

Pengambilan nama Maha Vihara Maitreya tak lepas dari sosok Buddha Maitreya. Maitreya merupakan bahasa Sanskerta yang berasal dari kata “metta” atau cinta kasih. Dalam bahasa Pali, Maitreya sering juga disebut dengan Metteya.

Buddha Maitreya ini merupakan Buddha masa depan yang sangat dinantikan kehadirannya oleh umat Buddha. Namun hingga kini memang belum dilahirkan. Dan dalam Dharma, saat ini Buddha Maitreya merupakan seorang Bodhisattva. Sosok ini biasanya digambarkan atau diukir dalam mahkota dan permata karena memang belum melepaskan kehidupan duniawinya.

Meski berstatus sebagai tempat ibadah, Maha Vihara Maitreya juga sering dijadikan untuk tempat wisata. Banyak wisatawan yang sekadar ingin melihat lebih dekat kemegahan vihara terbesar se-Indonesia, dan tak lupa juga berfoto.

Ada beberapa spot menarik yang bisa pengunjung coba saat sedang berada di Maha Vihara Maitreya ini. Misalnya di halaman utama dengan latar kemegahan Vihara Maitreya. Ada juga Genta dengan ukuran 3,3 meter untuk tingginya dan berat 7 ton yang diukir dengan kalimat Dharma Hati Maitreya yang bisa Kamu jadikan objek untuk berfoto. Genta ini konon merupakan Genta Kebahagiaan, jadi siapa tahu Kamu akan mendapatkan kebahagiaan juga di sini.

Kamu juga bisa mengeksplor lebih banyak spot, misalnya masuk ke dalam area vihara dan mengambil foto Patung Sang Buddha, Dewi Kwan Im dan Hakim Bao.

8.Museum Bukit Barisan

Wisata di Medan
Sejarah heroik yang dimiliki bangsa Indonesia dalam memperjuangkan
kemerdekaan merupakan kebanggaan tersendiri bagi para generasi penerus. Untuk itulah, keberadaan museum sanggup memotret kisah-kisah heroik tersebut untuk diberikan sebagai warisan bagi para “pejuang” muda. Ketika Anda berada di Medan, sempatkanlah untuk berkunjung ke Museum Perjuangan ‘45 TNI yang kerap dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menengok sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang merangkum perjungan Tentara Nasional Indonesia menghalau para penjajah sekaligus memuliakan sejarah yang turut membangun citra bangsa Indonesia. Museum ini juga dikenal dengan nama Museum Bukit Barisan.

Menurut sejarahnya, bangunan museum ini didirikan pada tahun 1928. Sebelum menjadi museum, bangunan ini merupakan kantor Perusahaan Asuransi Belanda. Kemudian pada tahun 1942, ketika Jepang berhasil menguasai Indonesia, bangunan ini kemudian menjadi Markas Kementai Jepang. Pada tahun 1950, bangunan ini menjadi Markas Komando Teritorium I. Tidak berselang lama, pada tahun 1959 hingga 1971, bangunan ini dialihfungsikan sebagai Kantor Kodam I/BB. Sejak 1971 hingga sekarang, bangunan ini kemudian difungsikan sebagai Museum Perjuangan ’45 TNI.

Wisata di Medan
Museum Perjuangan ‘45 TNI memamerkan kisah perjuangan tentara beserta peralatan perangnya. Terdapat sedikitnya 555 koleksi benda-benda bersejarah terkait dengan perjuangan revolusi fisik tahun 1945 hingga 1948. Uniknya, senjata-senjata yang dipamerkan di museum ini rata-rata merupakan senjata rampasan yang diambil dari tangan penjajah. Senjata yang diunggulkan sebagai koleksi dari museum ini antara lain SMR Medzen No. 1463 buatan Swedia, Brengun MK-1 (White Barrel) No.K-4057 buatan Inggris, Laras Meriam Kanon/Tank No. 52170 buatan USA, SMB No.6888, dan SP Bazoka 5 Inchi M20 A1 B1, No.7140681.

Sedangkan senjata asli buatan Indonesia hanya sedikit bila dibandingkan dengan senjata-senjata rampasan tersebut. Salah satu senjata asli buatan Indonesia yang menjadi koleksi berharga dari museum ini adalah senapan locok atau disebut juga senjata “tunggu dulu”. Senjata “tunggu dulu” ini dibuat di Bandung dan digunakan oleh tentara beserta laskar rakyat Sumatera Utara untuk menghadapi Agresi Militer Belanda I dan II di Medan Area dan pada perang gerilya tahun 1945 hingga 1949.

Selain senapan locok atau senjata”tunggu dulu” tersebut, terdapat pula koleksi lainnya berupa meriam tomong, yaitu meriam yang dibuat di Brayan, dibuat dari tiang listrik yang ada ketika itu. Dari senjata-senjata asli buatan rakyat Indonesia tersebut menggambarkan betapa bangsa Indonesia berjuang dengan kesederhanaannya. Senjata ala kadarnya tidak membuat gentar para pejuang kala itu untuk terus berjuang merebut hak kemerdekaan bangsanya. Uniknya lagi, senjata merupakan suatu prestasi tersendiri di massanya.

Museum ini terletak di Jln. Zainul Arifin No. 8 Kelurahan Petisah, Kecamatan Petisah, Kota Medan, Sumatera Utara. Lokasi museum ini cukup dekat dari Bandara Polonia, yaitu kurang dari 4 km atau sekitar 10 – 15 menit berkendara. Jika Anda ingin mengunjungi museum ini, ada waktu kunjung yang perlu diperhatikan. Musuem ini dibuka untuk umum pada hari Senin – Jumat pukul 07.00 – 15.00.

Museum ini telah menjadi daya tarik tersendiri bagi kota Medan. Maka dari itu, walaupun dimiliki oleh TNI, namun museum ini juga dibuka sebagai objek wisata untuk umum karena museum ini dapat memberikan nilai pengetahuan sejarah yang tinggi tentang perjuangan rakyat dan TNI di Sumatera Utara. Tidak diharuskan membayar tiket masuk untuk berkunjung ke Museum Perjuangan ’45 TNI. Namun pengunjung dapat memberikan sumbangan yang bersifat sukarela yang nantinya akan digunakan untuk membantu mendanai biaya perawatan dan pemeliharaan museum ini.

9.Taman Sudirman

Wisata di Medan
Taman Beringin atau Taman Sudirman adalah hutan kota dan sebagai fasilitas umum bagi masyarakat Medan untuk tempat bersantai dan mengajak anak-anak bermain. Taman ini berfungsi sebagai salah satu Ruang Terbuka Hijau Kota Medan dan simbol persahabatan Medan dan Amerika Serikat.

Tempat ini di kelola Pemerintah Kota Medan sebagai Hutan Kota untuk Ruang Terbuka Hijau. RTH adalah untuk menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen dari hasil fotosintetis tanaman yang sengaja di tanam atau tumbuh secara alamiah dan sumber resapan air hujan.

Ketika melintas di jalan Sudirman dan Imam Bonjol atau jalan Cik Di Tiro, taman ini akan menarik perhatian orang yang melintas, taman yang rimbun bak hutan dan kolam air mancur yang berada di tengah kota. Anda akan tertarik untuk singgah ke taman ini. Di taman ini terdapat 20 jenis tanaman dengan luas 12.219 meter persegi dan pohon beringin di setiap sudut taman.

aman kota dengan hutan mini, kolam air pancur, permainan anak di bawah rindangnya pepohonan dan adanya musholla membuat suasana seakan bukan berada di tengah kota dan aliran sungai babura membuat taman semakin tampak alami. Musholla Nurul Huda berada di sebelah kanan taman untuk mempermudah masyarakat yang berkunjung ke taman untuk beribadah.

Taman Beringin sebagai simbol persahabatan antara Medan dan Amerika Serikat dengan adanya prasasti di tengah taman yang di tanda tangani oleh Wali Kota Medan Dzulmi Eldin dan Kapten Kapal USS Davis Todd E. Walen.

Taman ini bisa menjadi pilihan alternatif anda untuk rekreasi dan bersantai bersama keluarga. Taman ini perlu di jaga kelestariannya dan mari sama-sama kita menjaga taman ini agar tidak berubah fungsi.Taman Beringin Medan Taman beringin banyak di kunjungi warga seputar kota Medan pada saat hari libur. Di taman terdapat penjual makanan dan minuman ringan dan berbagai macam permainan anak-anak yang tersedia secara gratis.

10.Taman Cadika Pramuka

Wisata di Medan
Taman Cadika Pramuka atau dikenal juga dengan sebutan Bumi Perkemahan Cadika. Taman ini terletak di kawasan Medan Johor dan dikelola oleh Pemko Medan. Taman ini menjadi salah satu tempat wisata sekaligus kegiatan outbond di Kota Medan. Alamat Taman Cadika Pramuka berada di Jl. Karya Wisata, Pangkalan Masyhur, Medan Johor, Kota Medan, Sumatera Utara.

Taman ini bisa menjadi pilihan anda untuk bersantai bersama keluarga atau sekedar untuk berolahraga pada hari libur. Untuk masuk ke taman ini tidak di kenai biaya masuk dan bebas untuk umum. Kenderaan dilarang masuk ke dalam areal taman, parkir kenderaan di tempat yang telah di sediakan.

Di dalam taman ini terdapat kolam atau danau yang luas dengan jembatan gantung untuk kita menyeberangi danau tersebut, dan bunga-bunga sepanjang jalan melintasi taman menambah keindahannya.

Taman ini di lengkapi berbagai fasilitas sebagai taman kota, seperti tempat bermain anak-anak, aula, toilet, bangku taman dan musholla. Jika anda gemar olahraga paintball, tersedia fasilitas lapangan paintball.

Untuk fasilitas permainan anak bisa di bilang lengkap dan semua permainan dapat di gunakan, seperti ayuanan, enjot-enjotan dan play ground (rumah-rumahan), dan lain-lain. Di sekitar permainan anak terdapat bangku taman untuk para orangtua duduk sambil mengawasi anak-anak bermain.

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg