BREAKING NEWS

Candi Gunung Kawi : Napak Tilas Kedigjayaan Dinasti Udayana


Candi Gunung Kawi - Nusapedia - Candi Gunung Kawi - Sahabat Nusapedia,membahas wisata pulau bali memang tiada habisnya,mengapa tidak?,Bali kini telah menjadi destinasi wisata wajib bila mengunjungi indonesia.Pada kesempatan ini,Nusapedia akan mengajak anda untuk mengenang kembali masa-masa kidigjayaan Dinasti Udayana.
Candi Gunung Kawi

Candi Gunung Kawi

terletak di Sungai Pakerisan, Dusun penaka, desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kab. Gianyar-Bali-Indonesia.Tampaksiring adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Gianyar, Bali, Indonesia seluas 42,63 kilometer persegi. Pada masa lalu, Tampaksiring adalah pusat pemerintahan kerajaan di Bali. Di Tampaksiring terdapat istana kepresidenan, yang dibangun antara 1957-1960 atas titah Presiden Soekarno dan sebuah candi bernama Candi Gunung Kawi.

Kompleks Candi Gunung Kawi ini sangat strategis karena lokasinya yang tak seberapa jauh dari Kota Denpasar. Dari Kota Denpasar, bisa berkendaraan sekira 40 km jauhnya menuju ke Tampaksiring yang terletak di Kabupaten Gianyar, Bali, yang merupakan lokasi Candi Gunung Kawi. Kompleks candi sendiri sudah bisa dilihat dan dinikmati setelah melewati gapura dan 315 anak tangga di pinggir Sungai Pakerisan  yang terletak di candi tersebut.Berbeda dengan candi-candi lainnya, di Kabupaten Gianyar, Bali sebuah candi tidak dibuat dari susunan batu layaknya candi pada umumnya. Candi yang bernama Candi Gunung Kawi atau Candi Tebing Kawi ini terdapat di dinding batu padas di tepi sungai sebagai rumah ibadat masyarakat Hindu.

Tak ada yang tahu pasti mengenai asal mula kata “Gunung Kawi”. Namun, berdasarkan tinjauan etimologi, Gunung Kawi berasal dari dua gabungan kata yakni “Gunung” dan “Kawi”. Gunung berarti daerah yang berumpak-umpak dan memiliki puncak diatasnya (pegunungan), dan Kawi bermakna pahatan. Maka, maksud dari kata “Gunung Kawi” adalah pahatan-pahatan yang terdapat di pegunungan atau padas pahatan.

Mengapa Anda Harus Kesana..??

Candi Gunung Kawi
Candi Gunung Kawi memang memiliki pesonanya tersendiri. Dari tubir Sungai Pakerisan disekitaran candi, pengunjung harus menuruni sejumlah anak tangga yang berjumlah 300-an. Jalan tersebut diselimuti dengan suasana asri yang nampak dari pepohonan rimbun di tepi sungai. Selain itu, gemericik air sungai seolah menyambut pengunjung menuju ke Candi Gunung Kawi ini.

Candi Tebing Gunung Kawi diperkirakan telah dibangun sejak pertengahan abad ke-11 Masehi, pada masa dinasti Udayana (Warmadewa). Pembangunan candi ini diperkirakan dimulai pada masa pemerintahan Raja Sri Haji Paduka Dharmawangsa Marakata Pangkaja Stanattunggadewa (944-948 Saka/1025-1049 M) dan berakhir pada pemerintahan Raja Anak Wungsu (971-999 Saka/1049-1080 M).

Candi Gunung KawiDalam Prasasti Tengkulak yang berangka tahun 945 Saka (1023 Masehi), terdapat keterangan di tepi Sungai Pakerisan terdapat sebuah kompleks pertapaan (kantyangan) bernama Amarawati. Para arkeolog berpendapat, Amarawati mengacu pada kawasan tempat Candi Tebing Gunung Kawi ini berada. Secara tata letak, kesepuluh candi tersebar di tiga titik. Lima di antaranya berada di sisi timur Sungai Tukad Pakerisan, sementara sisanya tersebar di dua titik di sisi barat sungai. Lima candi yang berada di sisi timur sungai dianggap sebagai bagian utama dari kompleks Candi Tebing Gunung Kawi.
Terdapat dua komplek percandian yang dipisahkan oleh aliran Sungai Pakerisan. Komplek candi pertama terletak di sebelah barat sungai yang menghadap ke timur. Komplek ini memiliki empat buah candi. Sementara komplek candi kedua berada di sebelah timur sungai dan menghadap ke barat. Komplek candi kedua memiliki 5 buah candi yang dilengkapi dengan kolam pemandian serta pancuran air.Terdapat pemandangan yang membuat takjub yaitu dinding-dinding batu cadas yang terpahat rapi membentuk candi-candi yang unik.

Candi Gunung Kawi
Beragam ruang serta lengkungan tertata rapi di dinding batu seolah menjadi bukti kepiawaian para leluhur.Keunikan juga terdapat di komplek candi sebelah barat. Terdapat semacam ruangan pertapaan yang dipahat di dalam tebing kokoh. Di dalamnya juga dilengkapi dengan pelataran, ruangan kecil seperti kamar serta jendela dan lubang sirkulasi udara dan sinar matahari. Hal ini membuktikan betapa para leluhur telah memiliki pemikiran dan kemampuan yang luar biasa.

Ruangan-ruangan tersebut seringkali digunakan untuk meditasi para pendeta dan tokoh kerajaan.Selain sebagai tempat peribadatan, komplek Candi Gunung Kawi juga dibuat sebagai tempat persemayaman Raja Udayana dan anak-anaknya. Namun dalam hal ini makna persemayaman hanya berarti simbolis karena makan Raja Udayana dan anak-anaknya tidak benar-benar ada di komplek candi ini. Tidak heran jika suasana candi begitu hening dan hikmat serta sejuk. Hal ini dimaksudkan agar para pengunjung mendapatkan ketenangan batin yang mendalam.

Candi Gunung KawiDi antara kesepuluh candi di kawasan ini, diperkirakan bangunan pertama yang dibangun adalah candi yang posisinya paling utara dari rangkaian lima candi di timur sungai. Hal ini didasari atas tulisan “Haji Lumah Ing Jalu” beraksara kadiri kwadrat pada bagian atas gerbang candi.

Tulisan ini bermakna 'sang raja dimakamkan di jalu (Sungai Tukad Pakerisan)' yang mengindikasikan candi inilah yang dibangun sebagai tempat pemujaan arwah Raja Udayana. Keempat candi lainnya di rangkaian ini diduga kuat dibangun untuk permaisuri dan anak-anak Raja Udayana.

Sementara, empat candi yang berada di sisi barat, menurut arkeolog Dr. R. Goris, kemungkinan merupakan kuil (padharman) yang didedikasikan bagi keempat selir dari Raja Udayana. Sedangkan, satu candi lainnya yang posisinya lebih ke selatan diduga dibangun untuk salah seorang pejabat tinggi kerajaan setingkat perdana menteri atau penasihat raja.

Candi Gunung KawiDari beberapa referensi sejarah pada zaman tersebut, keberadaan candi ini dapat dikaitkan dengan sosok Empu Kuturan. Empu Kuturan adalah utusan Raja Airlangga untuk adiknya, Raja Anak Wungsu. Di kemudian hari, Empu Kuturan diangkat menjadi penasihat utama raja dan memiliki peran penting dalam perkembangan Kerajaan Bedahulu.

Keseluruhan kompleks candi ini difungsikan sebagai pura, sarana peribadatan keluarga kerajaan oleh Raja Anak Wungsu. Yang menarik, di sekitar candi Hindu ini terdapat sejumlah ceruk yang diidentifikasi oleh para arkeolog sebagai tempat meditasi umat Buddha/vihara.

Ceruk-ceruk ini dipahat pada dinding tebing, sama seperti candi-candi Hindu di sekitarnya. Keberadaan kompleks candi Hindu yang berdampingan dengan pertapaan Buddha ini menunjukkan Kerajaan Bedahulu ketika itu telah menerapkan toleransi dan harmoni dalam kehidupan beragama.

Bagaimana Cara Anda Kesana..??

Candi Gunung Kawi
Kompleks candi ini termasuk objek wisata yang sangat strategis karena lokasinya yang tak seberapa jauh dari Kota Denpasar. Dari Kota Denpasar, Anda bisa berkendaraan sekitar 40 km jauhnya menuju ke Tampaksiring yang terletak di Kabupaten Gianyar, Bali, yang merupakan lokasi Candi Gunung Kawi. Kompleks candi sendiri sudah bisa dilihat dan dinikmati setelah melewati gapura dan 315 anak tangga di pinggir Sungai Pakerisan  yang terletak di candi tersebut.

Jalur menuju Candi Gunung Kawi merupakan jalur yang sama menuju Istana Tampak Siring. Lokasi candi terletak sekitar 40 kilometer dari Kota Denpasar dengan perjalanan sekitar 1 jam menggunakan mobil atau motor. Sementara dari Kota Gianyar berjarak sekitar 21 kilometer atau sekitar setengah jam perjalanan.

Untuk sarana transportasi ke lokasi tempat wisata Candi Gunung Kawi di sarankan untuk memakai kendaraan sendiri, karena di kawasan objek wisata di Ubud ini akan mengalami kesulitan untuk menemukan transportasi umum karena lokasinya berada di pinggir sungai Pakerisan. Anda tidak perlu khawatir tersesat di jalan apabila anda memakai kendaraan sendiri, karena di sepanjang jalan ini terdapat penunjuk arah menuju ke Candi Gunung Kawi

Bagaimana Dengan Akomodasinya..??

Bila Anda datang melalui jalur udara, maka bisa menggunakan banyak rute penerbangan dari berbagai kota di Indonesia. Untuk kebutuhan akomodasi, Anda tidak perlu khawatir karena kawasan Gianyar terdapat banyak hotel nyaman dengan fasilitas memadai.

Know Before You Go..!! 

  • Selain candi tebing ini, terdapat dua kelompok kawasan suci di Bali, yakni miniatur candi yang terbuat dari batu padas berukuran kecil yang dilengkapi tiga bagian candi (kepala, tubuh dan kaki). Yang lain adalah kelompok candi monumental atau dikenal juga dengan candi 3 dimensi yang terbuat dari batu padas yang dibangun dengan cara menyusunnya.
  • Wisatawan yang berdatangan biasanya juga ingin merasakan meditasi di kawasan candi tersebut. Mereka ingin mengosongkan pikiran sesaat, sehingga bisa mencapai nilai spiritualitas tinggi. Aktivitas ini sangat didukung dengan kondisi alam yang tenang di sekelilingnya. 
  • Tempat Wisata Candi Gunung Kawi, Bali akan membuka cakrawala pengetahuan bagi kita tentang sejarah dari dunia arkelogi dan sejarah. Namun, terlepas dari pada itu semua kawasan ini merupakan salah satu kawasan wisata yang dapat dinikmati namun harus tetap di hormati sebagai salah satu rumah ibdah umat Hindu-Bali. Jadi gunakanlah pakaian yang sopan dan jaga prilaku serta ucapan pada saat kita mengunjungi tempa wisata Candi Gunung Kawi di Gianyar, Bali
Kompleks Candi Gunung Kawi di bagi menjadi empat kompleks yaitu :
  • Di sisi timur sungai, berdiri 5 pahatan candi yang merupakan tempat pemujaan Roh Suci Raja Udayana beserta permaisuri dan anaknya.
  • Di sisi barat sungai, berdiri 4 pahatan candi yang berfungsi sebagai tempat pemujaan empat permaisuri Raja Udayana
  • Di sebelah selatan dari pahatan candi sisi timur sungai terdapat pahatan berupa biara dan ceruk
  • Dan yang keempat ialah bangunan berupa candi dan ceruk sebagai tempat bertapa.
Bagaimana Sahabat Nusapedia,apakah anda ingin Napak Tilas Kedigjayaan Dinasti Udayana.Jika Anda mengunjungi Bali belum lengkap rasanya sebelum mengunjungi Candi Gunung Kawi.mari Kita dukung Indonesia sebagai destinasi wisata Dunia

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg