BREAKING NEWS

Desa Wae Rebo : Meniti Bumi Menuju Keindahan Negeri Diatas Awan


Desa Wae Rebo - NusaPedia - Desa Wae Rebo merupakan pembahasan TravelEsia magazine Pada kesempatan Ini.Desa Wae Rebo terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kecamatan Satarmese Barat. Gunung-gunung megah yang mengelilinginya membuat desa ini terisolasi. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakatnya harus berjalan kaki menembus hutan sepanjang 9 kilometer untuk sampai ke Denge, desa yang paling dekat dengan Desa Wae Rebo.
Desa Wae Rebo

Desa Wae Rebo

yang berpenghuni 112 Kepala Keluarga atau sekitar 625 jiwa penduduk (data 2012) ini semakin mencuri perhatian wisatawan, terutama wisatawan dari mancanegara. Tidak bisa dipungkiri bahwa selain faktor biaya yang relatif mahal untuk sampai ke tempat ini, perjalanannya sendiri pun memberikan pengalaman berpetualang dan tantangan tersendiri. Dari data yang diperoleh pada tahun 2011, total ada 313 turis dari 19 negara yang datang berkunjung ke kampung ini.

Penduduk Desa Wae Rebo sendiri bukannya tanpa usaha selain mendapat tambahan dari wisatawan yang berkunjung. Kopi dan kain cura adalah salah satu usaha yang menjadi penghasilan utama dari penduduk kampung Wae Rebo. Kopi yang dijadikan komoditi adalah jenis arabika. Sedangkan kain cura menjadi kerajinan kain tenun yang dilakukan oleh ibu-ibu di Desa Wae Rebo. Kain cura ini memiliki motif khas berwarna cerah. Untuk pejalan yang memang tertarik untuk mengoleksi kain tenun dari beberapa daerah di Indonesia, kain cura ini bisa menjadi pilihan tersendiri.

Mengapa Anda Harus Kesana..??

Desa wae rebo
Desa Wae Rebo memang indah dan menakjubkan, diselimuti oleh kabut tipis di seluruh perkampungan membuat Wae Rebo pantas mendapatkan julukan ‘kampung diatas awan’. Secara geografis kampung ini terletak diatas ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (m dpl). Wae Rebo merupakan bagian dari Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai Barat, Flores.Disini wisatawan mendapat kesempatan untuk melihat dan tinggal di Mbaru Niang, sebuah rumah tradisional Flores yang masih tersisa dan hanya ada di kampung Desa Wae Rebo

Pada tahun 2012 silam, Mbaru Niang mendapatkan penghargaan dari UNESCO. Pemandangan alam perbukitan dan hutan hijau yang masih asri, dengan diselimuti kabut yang kadang tersibak oleh hembusan angin sehingga memperlihatkan tujuh buah Mbaru Niang yang berdiri dengan anggunnya, merupakan sebuah pemandangan bak di negeri khayalan.

Desa wae rebo
suasana Desa Wae Rebo yang terisolir dari hiruk pikuk kota juga menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka. Kearifan lokal masyarakat pedalaman yang masih bergantung dari alam ini juga merupakan suguhan tersendiri ketika berkunjung ke kampung di atas awan ini. Salah satu kearifan lokal yang masih mereka pegang adalah menjaga kelestarian Mbaru Niang. Di Wae Rebo sendiri hanya boleh ada tujuh buah Mbaru Niang tidak kurang dan tidak lebih. Satu rumah Mbaru Niang bisa ditempati enam sampai delapan keluarga. 

Sisa masyarakat yang tidak tertampung di Desa Wae Rebo harus pindah ke kampung Kombo, sebuah kampung yang terletak kira-kira lima kilometer dari Wae Rebo yang kemudian mendapat julukan kampung kembaran Wae Rebo karena sebagian besar penduduk kampung Kombo berasal dari Wae Rebo. 

Wae Rebo terletak di Barat Daya kota Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Namun mengingat akses transportasi udara, akan lebih mudah jika perjalanan dimulai dari Labuan Bajo. Dari beberapa sumber, kebanyakan pengunjung mengambil rute memutar dari Ruteng sebelum menuju desa Denge yang merupakan desa terakhir sebelum menuju kampung Desa Wae Rebo. Selama perjalanan panjang menuju desa Denge kita akan disuguhkan pemandangan yang luar biasa, hamparan sawah dari tanah Flores yang subur, jalanan bukit yang menanjak dan pemandangan pesisir pantai yang menggoda.Denge merupakan desa pesisir yang berada di tepi pantai.

Desa wae rebo
Dari Denge kita bisa melihat pulau Mules dengan sebuah puncak yang terletak di tengah pulau tersebut. Denge berperan sebagai desa transit bagi para wisatawan sebelum melanjutkan perjalanan ke Wae Rebo. Disini sudah ada beberapa homestay yang dikelola oleh warga Denge maupun Wae Rebo yang ‘turun gunung’. Biasanya sebelum melanjutkan perjalanan ke Wae Rebo, para wisatawan akan beristirahat di Denge setelah perjalanan panjang dari Labuan Bajo atau Ruteng. Desa Denge adalah desa terakhir yang dilalui oleh kendaraan bermotor, baik itu motor maupun mobil. Untuk mencapai Desa Wae Rebo, wisatawan harus berjalan kaki. 

Untuk memudahkan para pengunjung, banyak pemuda desa Denge maupun Wae Rebo yang bersedia menjadi tenaga porter, membantu pengunjung membawa perlengkapan mereka pada saat trekking menuju Wae Rebo.Perjalanan akan dimulai dari Denge denga jarak tempuh ± 9 km yang bisa ditempuh dalam waktu 2 – 4 jam, sangat tergantung kondisi fisik masing-masing pengunjung. Karena letak desa Denge persis di tepi pantai, bisa dikatakan perjalanan ke Wae Rebo dimulai dari titik 0 m dpl dan mendaki pengunungan hingga ketinggian 1.200 m dpl. Rute awal merupakan jalanan tanah lebar yang sekiranya akan dibuat jalan aspal.Perjalanan akan melintasi kawasan hutan yang rimbun. 

Desa wae rebo
Pada saat memasuki hutan, pengunjung akan disambut oleh riuhnya suara kicauan burung. Hutan di wilayah ini merupakan area umum, yaitu sebuah lokasi yang menjadi tempat pertemuan setiap warga masyarakat. Tidak heran jika selama perjalanan melintasi hutan, kita akan sering bertemu dengan warga masyarakat yang sedang mengambil hasil hutan, mengantarkan pesan kepada keluarga di Kombo atau Denge, atau hanya sekedar berkunjung ke sanak keluarga, dan lain sebagainya.

Rute berikutnya adalah jalur memutar melewati perbukitan yang rawan longsor dan jalanan semakin menyempit. Jalur dengan variasi tingkat kesulitan ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pengunjung. Jalur terberat adalah jalur antara Denge hingga Wae Lumba. Jalur ini berkarakter bebatuan yang besar, kerap menanjak dan terkadang licin. Selain itu kita akan melewati sebuah sungai kecil sebelum tiba di Wae Lumba. Jalur Wae Lumba ke Poco Roko juga menegangkan, terutama untuk orang yang takut ketinggian. Pengunjung akan menyusuri jalur yang berada di bibir jurang. 

Poco Roko merupakan titik tertinggi dan lokasi dimana masyarakat bersentuhan dengan modernisasi, disini biasanya warga mencari sinyal telepon. Dengan adanya sinyal telepon berarti komunikasi dengan dunia luar bisa terjadi. Salah seorang pengunjung mengaku pernah melakukan update status di salah satu jejaring sosial pada saat berada di Poco Roko. Beberapa menit setelah melalui Poco Roko, kita akan sampai di Ponto Nao. Disini terdapat sebuah pos pemantau dengan atap yang terbuat dari ijuk, sama seperti bahan yang digunakan untuk membuat atap Mbaru Niang. Dari Ponto Nao ini kita bisa melihat di kejauhan sebuah dusun dengan bangunan-bangunan berbentuk kerucut yang mengepulkan asap. Itulah kampung diatas awan, Wae Rebo. 

Jalur perjalanan akan menurun dengan hamparan tanaman kopi di sepanjang jalan hingga tiba di gerbang kampung Wae Rebo.Merangkul Kearifan Lokal Desa Wae Rebo adalah kampung adat Manggarai Tua yang berusaha untuk melestarikan kearifan lokal sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia. Salah satu yang dilakukan adalah ritual Pa’u Wae Lu’u. Ritual ini dipimpin oleh salah satu tetua adat Wae Rebo yang bertujuan meminta ijin dan perlindungan kepada roh leluhur terhadap tamu yang berkunjung dan tinggal di Desa Wae Rebo hingga tamu tersebut meninggalkan kampung ini. Tidak hanya itu, ritual ini juga ditujukan kepada pengunjung ketika sudah sampai di tempat asal mereka. 

Desa wae rebo
Bagi masyarakat Wae Rebo, wisatawan yang datang dianggap sebagai saudara yang sedang pulang kampung. Sebelum selesai ritual ini, para tamu tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan apapun termasuk mengambil foto.Tetua adat Wae Rebo kemudian akan melakukan briefing kecil tentang beberapa hal yang tabu dilakukan selama para tamu berada di Wae Rebo. Beberapa hal tersebut antara lain adalah memakai pakaian sopan, artinya untuk para wanita tidak diperkenankan memakai tank top atau hot pants, selain karena udara dingin, hal ini akan membuat warga masyarakat menjadi risih. 

Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah tidak menunjukkan kemesraan, baik itu dengan lawan jenis maupun sejenis, seperti berpegangan tangan, berpelukan atau berciuman, bahkan untuk yang sudah berstatus suami istri. Hal lain yang perlu dihindari adalah mengumpat atau memaki selama berada di kampung ini. Pengunjung juga diharuskan melepaskan alas kaki ketika masuk ke dalam rumah.Kearifan lokal lain yang perlu mendapat perhatian adalah tentang penggunaan uang administrasi bagi wisatawan yang masuk ke kampung Wae Rebo. 

Memang ada kesan bahwa biaya administrasi selalu dikaitkan dengan komersialisasi budaya, uangnya dikemanakan, dan pertanyaan lainnya yang selalu dikaitkan dengan korupsi. Namun uang administrasi di Wae Rebo ini sudah diatur menurut kearifan lokal setempat. Pengelolaan uang ini dipercayakan kepada Lembaga Pariwisata Wae Rebo. Uang administrasi yang didapat dari wisatawan digunakan untuk keperluan biaya bahan makanan dan memasak makanan yang dibuat oleh para ibu, pemeliharaan infrastruktur kampung, bahan bakar generator set dan sumber air.Sehari-hari warga Wae Rebo merupakan petani kopi dan pengrajin kain tenun cura. Saat ini warga Wae Rebo sedang mengembangkan berkebun sayur mayur. 

Untuk wisatawan yang datang, bisa mengikuti kegiatan ini, seperti ikut menumbuk kopi dengan ibu-ibu, memetik kopi dari kebun kopi dengan para lelaki bahkan bisa melihat ibu-ibu menenun kerajinan kain cura yang biasanya dilakukan di depan rumah. Para wisatawan dapat terlibat langsung dalam kegiatan sehari-hari masyarakat Wae Rebo. Saat malam tiba pengunjung akan menginap di Mbaru Niang, rumah adat Wae Rebo yang namanya sudah mendunia. Dengan beralaskan tikar yang dianyam dari daun pandan, kita akan bercengkerama dan saling berbagi cerita tentang pengalaman hidup keluarga besar di Wae Rebo.

Bagaimana Cara Anda Kesana..??

Untuk menuju Denge menggunakan transportasi umum, kamu harus memulai perjalananmu dari Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai. Ada penerbangan langsung ke Ruteng dari Denpasar, hanya saja tidak setiap hari. Lebih mudah untuk ke Labuan Bajo terlebih dahulu baru sebelum melanjutkannya dengan bus atau travel menuju Ruteng.Transportasi dari Ruteng ke Denge atau Dintor (Dintor adalah desa di dekat Denge) tidaklah banyak. 

Terdapat bemo, semacam angkot, yang beroperasi tidak setiap hari. Yang setiap hari tersedia adalah oto kayu, truk yang bagian bak belakangnya disulap dengan papan-papan menjadi tempat duduk penumpang.Oto kayu ini pun hanya ada satu-dua yang beroperasi tiap hari. Mereka berangkat dari Terminal Mena di Ruteng sekitar jam 9 sampai 10 pagi. Sampai di Denge sekitar jam 2 siang. Mau waktu yang lebih fleksibel? Kamu bisa menggunakan ojek, namun harus siap terjaga selama perjalanan.

Bagaimana Dengan Akomodasinya..??

Di Desa Wae Rebo belum tersedia hotel namun yang hanya tersedia penginapan atau rumah masyarakat yang dapat di jadikan penginapan.

Know Before You Go..!! 

1. Ransel yang cukup kuat untuk trekking menuju Wae Rebo

Untuk perjalanan kali ini satu-satunya tas perjalanan yang cocok adalah tas ransel karena kita dipaksa untuk membawa semua barang menuju Wae Rebo dengan berjalan kaki selama 4 jam dengan medan yang tak bisa dibilang mudah.
Memang untuk menuju ke Desa Wae Rebo kita perlu menyewa pemandu warga lokal Manggarai sebagai penunjuk jalan dan bisa diminta tolong merangkap sebagai porter, tapi demi alasan kepraktisan dan kenyamanan perjalanan, ransel tetap menjadi satu-satunya pilihan tas perjalanan.
Saran saya jika tidak memungkinkan hanya membawa sebuah ransel karena akan melanjutkan perjalanan ke tempat lain (snorkeling di Pink Beach, misalnya) dapat menitipkan koper di penginapan di Denge atau Dintor. Saya memang memilih untuk bermalam di Dintor sebelum melanjutkan perjalanan ke Wae Rebo sehingga sisa bawaan saya yang tidak dibutuhkan di Wae Rebo saya titipkan disini dan diambil kembali ketika kembali dari Wae Rebo.

2. Sepatu hiking yang “menggigit”

Alas kaki yang tepat menjadi hal penting dalam perjalanan kali ini mengingat medan yang akan ditempuh. Tidak disarankan menggunakan sandal gunung, karena jika pada musim hujan jalanan menjadi becek dan itu membuat tidak nyaman jika air masuk kedalam sandal. Selain itu, ancaman lintah juga menghantui selama perjalanan. Saya yang menggunakan sepatu dan kaos kaki saja tidak luput dari serangan lintah. Sepatu juga sebaiknya dipilih yang memiliki sol yang “mengigit” tanah dengan baik karena di beberapa bagian terdapat medan berpasir yang cukup licin.

3. Jaket dan kaos kaki untuk tidur

Suhu di Wae Rebo pada malam hari cukup dingin karena letak geografis Wae Rebo yang berada di dataran tinggi. Meskipun untuk bermalam di Mbaru Niang Wae Rebo telah disiapkan alas tidur dan selimut tebal, namun percayalah, jaket dan kaos kaki bersih akan menjadi dewa penolongmu di malam hari.
Cukup bawa jaket hangat untuk malam hari saja, sedangkan jaket untuk trekking tidak terlalu diperlukan karena sepanjang perjalanan ke Wae Rebo kita terlindungi dari sinar matahari oleh rimbunnya pohon.

4. Ambil uang tunai di Labuan Bajo

Setelah meninggalkan Labuan Bajo sudah tidak ditemukan ATM, sehingga saran saya ambillah uang tunai secukupnya di Labuan Bajo untuk membayar penginapan, bensin mobil, sewa pemandu dan porter, serta uang lebih untuk membeli oleh-oleh khas Wae Rebo yang dijual oleh masyarakat di atas sana.

5. Buku Bacaan untuk anak-anak Wae Rebo

Selain buku bacaan untuk menemani selama perjalanan, jangan lupa juga membawa beberapa buku bacaan untuk anak Wae Rebo. Di sana, kemampuan anak-anak dalam berbahasa Indonesia masih terbatas, dalam sehari-hari mereka lebih banyak menggunakan bahasa Manggarai. Mereka baru akan meninggalkan kampung untuk bersekolah di Denge ketika sudah berusia sekolah dasar dan sebelum itu mereka kekurangan sarana belajar terutama dalam bahasa Indoensia. Di Wae Rebo terdapat satu perpustakaan yang dibangun untuk membantu masyarakat Wae Rebo untuk mendapat akses ilmu pengetahuan.
Bagi pengunjung yang datang, boleh menyumbangkan buku bacaan untuk perpusatakaan ini. Namun, sebaiknya buku-buku diserahkan langsung kepada bapak guru Wae Rebo atau orang dewasa lainnya bukan kepada anak-anak Wae Rebo.
Disini memang ada himbauan untuk tidak memberikan apapun ke anak-anak baik itu uang, permen, makanan kecil bahkan buku secara langsung kepada mereka untuk menghindari mental meminta-minta.

6. Baterai cadangan

Di Wae Rebo akses listrik sangat terbatas, listrik hanya menyala dari pukul 6 sore hingga 10 malam saja, sehingga untuk memenuhi hasrat menggunakan alat elektronik disarankan membawa baterai cadangan.
Sebenarnya untuk baterai handphone tidak terlalu dibutuhkan karena sejak dari desa Denge pun sudah tidak ada sinyal ponsel. Selain itu, alangkah lebih baik untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal daripada terus menerus menatap layar ponsel kan?

7. Persiapan fisik!

Terkesan sepele, namun ini sangat penting! Trekking panjang menuju Wae Rebo membutuhkan fisik yang baik, usahakan sebelum memulai perjalanan tubuh dalam keadaan fit dan sehat. Jalan menanjak menguras banyak tenaga dan membuat seluruh otot paha dan betis terasa terbakar saking lelahnya. Sepanjang 8-9 kilometer perjalanan terdapat 3 pos pemberhentian untuk beristirahat sejenak. Jangan lupa membawa persediaan air minum dan makanan kecil selama diperjalanan. Perjalanan saya kali ini membutuhkan persiapan fisik yang ekstra ditambah dengan serba minimnya fasilitas yang ada.
***
Orang bilang, dalam traveling, jika semakin sulit perjalanan mencapai suatu tempat maka akan semakin indah tempat tersebut. Bagi NusaPedia, Desa Wae Rebo tidak hanya indah namun memberikan suatu pandangan baru tentang hidup, budaya, dan nilai juang. Saya sangat berterima kasih pada masyarakat Desa Wae Rebo yang memberikan saya rasa kekeluargaan yang hangat disana.Bagaimana Sahabat NusaPedia.Apakah anda tertarik untuk Meniti Bumi Menuju Keindahan Negeri Diatas Awan yang bernama Desa Wae Rebo,Jika and berkunjung ke Nusa Tenggara Timur sempatkanlah untuk mengunjungi Desa Wae Rebo.Mari kita dukung Indonesia sebagai destinasi wisata dunia

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg