BREAKING NEWS

Dataran Tinggi Dieng : Menggapai Indahnya Negeri Diatas Awan


Dataran Tinggi Dieng - Wonosobo - Dataran Tinggi Dieng merupakan objek pembahasan NusaPedia magazine pada kesempatan ini.Dataran Tinggi Dieng yang dimana Nama Dieng berasal dari gabungan dua kata Bahasa Kawi: "di" yang berarti "tempat" atau "gunung" dan "Hyang" yang bermakna (Dewa).Dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. 

Dataran Tinggi Dieng

Dataran Tinggi Dieng

berasal dari bahasa Sunda karena diperkirakan pada masa pra-Medang sekitar tahun 600 Masehi, daerah itu berada dalam pengaruh politik Kerajaan Galuh.'Surga Dieng' yang pada masa kerajaan Chandra Gupta Sidhapala, oleh umat Hindu, diyakini sebagai poros dunia. Ketika itu, Sang Hyang Jagadnata memindahkan 'gunung kosmik' Meru dari India ke Gunung Dieng. Sebagai ibukota kerajaan, ketika itu, Dieng (surga para hyang) tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tapi juga pusat spiritualitas dan peradaban.

Dulu diperkirakan ada 200 candi di seputar Dieng. Tapi karena bencana alam tinggal 8 yang tersisa. Candi-candi ini didirikan oleh Kerajaan Kalingga dari dinasti Sanjaya. Dalam kitab Raja Sanjaya ada disebut-sebut kata ‘Dieng’ yang dikatakan merupakan tempat paling baik untuk memuja Dewa Siwa. Jadi candi-candi itu dibuat untuk memuja Dewa Siwa. Siwa adalah dewa perusak. Dipuja agar ia tidak merusak kehidupan manusia.Ditengah-tengah Dataran Tinggi Dieng dahulu terdapat tempat pemujaan dan asrama pendidikan Hindu tertua di Indonesia.Sebagai bangunan suci tersebut sampai sekarang dapat kita saksikan dengan adanya candi beserta puing-puing bekas Vihara.

Geologi

Dataran Tinggi Dieng
Dataran Tinggi Dieng merupakan sebuah plateu yang terjadi karena letusan dasyat sebuah gunung berapi. Dengan demikian kondisi geologisnya samapai sekarang masih relative labil bahkan sering terjadi gerakan-geraka tanah.Beberapa bukti menunjukan hal tsb adalah, peristiwa hilangnya Desa Legetang, terpotongnya jalan antara Banjarnegara Karangkobar dan Sukoharjo Ngadirejo maupun retakan-retakan tanah yang mengeluarkan gas beracun seperti peristiwa Sinila.Dataran Tinggi Dieng (DTD) adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, seperti Yellowstone ataupun Dataran Tinggi Tengger. 

Sesungguhnya ia adalah kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya. Terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya.Keadaan ini sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah itu, terbukti dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979.Tidak hanya gas beracun, tetapi juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi, letusan lumpur, tanah longsor dan banjir.

Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan. Secara biologi,aktivitas vulkanik di Dieng menarik karena ditemukan di air-air panas di dekat kawah beberapa spesies bakteri termofilik ("suka panas") yang dapat dipakai untuk menyingkap kehidupan awal di bumi.

Geografis

Dataran Tinggi Dieng
Dataran Tinggi Dieng merupakan dataran tinggi yang tertinggi kedua didunia setelah Tibet / Nepal, dan yang terluas di Pulau Jawa.Dieng terletak pada posisi geografis 7’ 12’ Lintang Selatan dan 109 ‘ 54’ Bujur Timur, berada pada ketinggian 6.802 kaki atau 2.093 m dpl.Secara administratif, Dieng mencakup Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara. Dan Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Hingga tahun 1990-an wilayah ini tidak terjangkau listrik dan merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah.Letaknya yang juga berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. 

Dieng adalah wilayah vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa. Kawah-kawah kepundan banyak dijumpai di sana. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000m di atas permukaan laut.Suhu di Dieng sejuk mendekati dingin, berkisar 15—20 °C di siang hari dan 10 °C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.

Kawasan Dataran Tinggi Dieng merupakan sebuah kompleks gunung berapi dengan kerucut-kerucutnya terdiri dari :Bisma, Seroja, Binem, Pangonan Merdada, Pagerkandang, Telogo Dringo, Pakuwaja, Kendil Sikuunir dan Prambanan.Lapangan fumarola terdiri atas Kawah Sikidang, kawah Kumbang, kawah Sibanteng, Kawah Upas, Telogo Terus, Kawah Pagerkandang, Kawah Sipandu, Kawah Siglagah dan Kawah Sileri.

Mengapa Anda Harus Kesana..??

Dataran Tinggi Dieng
Dataran Tinggi Dieng terletak 30 km dari kota Wonosobo, tepatnya di perbatasan Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Dataran Tinggi Dieng memiliki banyak candi-candi kecil kuno yang indah terhampar di kawasan dataran tinggi gunung api.Di tempat ini Anda dapat melihat candi bercorak Hindu dengan arsitektur yang indah dan unik. Selain itu daerah wisata ini juga memiliki Dieng Plateau Theater yang menyediakan informasi keajadian alam di sekitar Dieng. Bioskop ini mampu menampung 100 kursi, memiliki taman yang asri dan sangat nyaman untuk Anda bersantai sambil dimanjakan dengan panorama indah dari rangkaian pegunungan sekitarnya.

Dataran tinggi Dieng terletak 30 km dari kota Wonosobo, tepatnya di perbatasan Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Dataran Tinggi Dieng memiliki banyak candi-candi kecil kuno yang indah terhampar di kawasan dataran tinggi gunung api. 

Dataran Tinggi Dieng
Di tempat ini Anda dapat melihat candi bercorak Hindu dengan arsitektur yang indah dan unik. Selain itu daerah wisata ini juga memiliki Dieng Plateau Theater yang menyediakan informasi keajadian alam di sekitar Dieng. Bioskop ini mampu menampung 100 kursi, memiliki taman yang asri dan sangat nyaman untuk Anda bersantai sambil dimanjakan dengan panorama indah dari rangkaian pegunungan sekitarnya.

Nama ‘Dieng’ sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu  “Di”  yang berarti tempat yang tinggi dan ”Hyang” yang artinya tempat para dewa dewi. Diartikan kemudian sebagai tempat kediaman para dewa dan dewi. Ada juga yang mengartikannya dari bahasa Jawa yaitu “adi” berarti indah, berpadu dengan kata “aeng” yang artinya aneh. Penduduk setempat kadang mengartikannya sebagai tempat yang indah penuh dengan suasana spiritual.

Dataran tinggi Dieng bagaikan negeri di atas awan. Terhampar di ketinggian 2.000 m di atas permukaan laut membuat udaranya sejuk dan menyegarkan serta ditutupi kabut tebal. Karena keindahannya yang menakjubkan inilah diyakini bahwa Dieng dipilih sebagai tempat yang sakral dan tempat bersemayamnya dewa dewi.

Dataran Tinggi DiengAnda akan melihat lumpur mendidih yang mengeluarkan gelembung, danau belerang berwarna cerah, dan kabut tebal yang menyelimuti Dataran Tinggi Dieng. Melihat, merasakan, dan membayangkan tempat ini secara langsung akan membuat Anda memahami mengapa masyarakat Jawa menganggap Dieng sebagai tempat yang memiliki kekuatan supernatural. Saat terpesona dengan keindahan alam Dieng maka Anda sekaligus juga merasakan getaran misterius di tempat ini.

Kawasan Dieng memiliki banyak candi-candi  kecil yang dinamai tokoh-tokoh cerita epik Mahabrata seperti Bima, Gatot kaca, Arjuna dan Srikandi. Diyakini bahwa candi-candi ini dulu digunakan sebagai tempat tinggal para pendeta yang menyebarkan ajaran Hindu.

Dataran Tinggi Dieng terletak 30 km dari kota Wonosobo, tepatnya di perbatasan Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Dataran tinggi Dieng memiliki banyak candi-candi kecil kuno yang indah terhampar di kawasan dataran tinggi gunung api.

Di tempat ini Anda dapat melihat candi bercorak Hindu dengan arsitektur yang indah dan unik. Selain itu daerah wisata ini juga memiliki Dieng Plateau Theater yang menyediakan informasi keajadian alam di sekitar Dieng. Bioskop ini mampu menampung 100 kursi, memiliki taman yang asri dan sangat nyaman untuk Anda bersantai sambil dimanjakan dengan panorama indah dari rangkaian pegunungan sekitarnya.

Nama ‘Dieng’ sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu  “Di”  yang berarti tempat yang tinggi dan ”Hyang” yang artinya tempat para dewa dewi. Diartikan kemudian sebagai tempat kediaman para dewa dan dewi. Ada juga yang mengartikannya dari bahasa Jawa yaitu “adi” berarti indah, berpadu dengan kata “aeng” yang artinya aneh. Penduduk setempat kadang mengartikannya sebagai tempat yang indah penuh dengan suasana spiritual.

Dataran Tinggi Dieng
Dataran tinggi Dieng bagaikan negeri di atas awan. Terhampar di ketinggian 2.000 m di atas permukaan laut membuat udaranya sejuk dan menyegarkan serta ditutupi kabut tebal. Karena keindahannya yang menakjubkan inilah diyakini bahwa Dieng dipilih sebagai tempat yang sakral dan tempat bersemayamnya dewa dewi.

Anda akan melihat lumpur mendidih yang mengeluarkan gelembung, danau belerang berwarna cerah, dan kabut tebal yang menyelimuti dataran tinggi Dieng. Melihat, merasakan, dan membayangkan tempat ini secara langsung akan membuat Anda memahami mengapa masyarakat Jawa menganggap Dieng sebagai tempat yang memiliki kekuatan supernatural. Saat terpesona dengan keindahan alam Dieng maka Anda sekaligus juga merasakan getaran misterius di tempat ini.

Kawasan Dieng memiliki banyak candi-candi  kecil yang dinamai tokoh-tokoh cerita epik Mahabrata seperti Bima, Gatot kaca, Arjuna dan Srikandi. Diyakini bahwa candi-candi ini dulu digunakan sebagai tempat tinggal para pendeta yang menyebarkan ajaran Hindu.

Dataran Tinggi Dieng
Keindahan pemandangan alam kawasan Dieng telah banyak memukau wisatawan yang datang dan memberi kesan mendalam secara pribadi. Mulai dari danau-danau berwarna hijau dan kuning, airnya yang jernih dapat menjadi cermin, keindahan alam kawasan ini sungguh luar biasa.  Danau cermin ini merupakan fenomena keindahan dataran tinggi  Dieng yang sungguh mengagumkan.Jika Anda mendaki ke atas Dataran Tinggi Dieng maka seolah berada di puncak dunia. Anda akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa saat melihat pemandangan danau yang berwarna-warni dan berkabut tebal di sekelilingnya.

Bila itu belum cukup dan Anda ingin merasakan pengalaman yang lebih spektakuler maka datanglah ke dataran tinggi Dieng untuk melihat matahari saat terbit dan terbenam dengan warna keemasan dan keperakan yang luar biasa. Sunrise yang indah ini merupakan fenomena alam yang unik dan mengagumkan  apalagi bila Anda melihatnya dari atas candi.

Saat perjalanan menuju ke daratan tinggi Dieng ini Anda akan melewati perkebunan tembakau dan pemandangan gunung yang indah.

Menelisik fenomena anak gimbal atau penduduk setempat menyebut "anak gembel" yang tinggal di Dataran Tinggi Dieng merupakan pengalaman yang unik. Menurut kepercayaan warga setempat, anak gimbal merupakan anugerah dari para dewa sehingga fenomena ini patut disukuri. Biasanya jika rambut anak gimbal dipaksakan dipotong, maka si anak akan cenderung sakit-sakitan, dan anehnya rambut gimbal anak-anak gimbal tidak secara alami tumbuh ketika mereka dilahirkan, namun tumbuh saat usia mereka menginjak 1-2 tahun.

Bagaimana Cara Anda Kesana..??

Jalur Wonosobo Merupakan jalur favorit untuk menuju ke Dieng. Jika dibandingkan dengan jalur dari banjarnegara, jalur dari wonosobo relatif lebih pendek dan mudah untuk dijangkau serta jalan yang tidak terlalu berkelok. Dengan kondisi alam yang sedemikian rupa, satu-satunya jenis angkutan untuk menuju Wonosobo hanyalah angkutan darat. Dahulu pernah ada kereta api jurusan Purwokerto, sekarang hanya tinggal rel-nya.
Meskipun demikian, transportasi ke dan dari Wonosobo relatif ramai.Transporatsi dari luar kota dapat anda pilih, bis atau jenis travel.Namun banyak juga yang mencarter taxi dari Semarang atau Yogyakarta.
Dari Semarang (Ibu kota Provinsi)
Di terminal antar kota Terboyo banyak terdapat bis yang melayani trayek Semarang - Purwokerto melalui Wonosobo.Jaraknya sekitar 120 km dan waktu tempuh kira-kira 3.5 jam. Rutenya adalah :(Semarang-Ungaran-Bawen-Ambarawa) - (Secang-Temanggung-Parakan) - (Kertek-Wonosobo)
Dari Surakarta (Solo)
Walaupun tidak banyak bis langsung dari Solo ke Wonosobo namun ada beberapa perusahaan bis yang melayani trayek ini.Anda dapat mendapatkan bis tersebut di terminal Tirtonadi jurusan Solo-Purwokerto via Wonosobo.Jaraknya sekitar 180 km waktu tempuhnya kita-kira 6 jam. Jalurnya adalah :(Solo-Kartasura) - (Boyolali-Ampel) - (Salatiga-Bawen- Ambarawa) - (Secang-Temanggung-Parakan) - (Kertek-Wonosobo)
Dari Magelang
Jalur dari Magelang ini merupapakan jalur ke Wonosobo yang ramai.Kira-kira sepuluh menit sekali ada bis yang datang dan pergi.Bis terakhir kira-kira jam 19.00 berangkat dari terminal antar kota Magelang.Jaraknya sekitar 65 km dengan waktu tempuh kira-kira 2 jam. Jalurnya adalah :(Magelang-Secang) - (Temanggung-Parakan) - (Kertek-Wonosobo)Disamping itu, ada rute alternatif ke Wonosobo dari Magelang ini,terutama untuk mempersingkat jalan dari Borobudur-Wonosobo.Ada trayek micro bis langsung dari Magelang ke Wonosobo namun tidak sampai di kota Wonosobo,melainkan hanya sampai di Sapuran, salah satu Kecamatan di Wonosobo.
Dari Sapuran ke Wonosobo jaraknya 18 km dan banyak sekali angkutan yang siap melayani anda.Jalur Borobudur-Wonosobo ini sering dijadikan alternatif travel Borobudur - Wonosobo.
Dari Purworejo
Jalur dari purworejo tidak terlalu ramai, baik ramainya kendaraan maupun pemukiman.Jalannya cukup baik namun berbelak-belok cukup tajam dan menanjak.Tidak ada bis besar yang melayani trayek ini, tetapi banyak micro bis yang beroperasi.Sejak terminal Purworejo pindah ke terminal baru,bis jurusan Wonosobo tidak masuk di terminal antar kota Purworejo.
Micro bis jurusan Wonosobo biasanya mangkal di terminal lama atau di Purworejo Plaza.Jika anda dari arah Yogyakarta, silahkan turun di pertigaan Don Bosko,naik angkota dan turun di terminal lama atau di komplek Purworejo Plaza.Jarak Purworejo-Wonosobo sekitar 50 km dan waktu tempuh sekitar 2 jam. Jalurnya adalah :(Purworejo-Loano) - (Kepil-Sapuran-Kalikajar-Kertek-Wonosobo)Jika anda naik kendaraan pribadi, harap hati-hati sebab jalur ini walaupun agak sempit,banyak truk yang biasanya mengangkut kayu.
Dari Yogyakarta
Tidak ada trayek langsung dari Yogyakarta ke Wonosobo.Namun karena jalur Yogyakarta - Magelang - Semarang sangat ramai,dengan sendirinya dari Yogyakarta ke Wonosobo menjadi sangat mudah.Dari terminal Umbulharjo, atau dari terminal Jombor,naik bis jurusan Magelang dan turun di terminal antar kota Magelang, baru ke Wonosobo.Total jarak sekitar 120 km dan waktu tempuh kira-kira 3.5 jam. Jalurnya adalah :(Yogyakarta-Sleman-Tempel) - (Secang-Magelang) - (Temanggung-Parakan) (Kertek-Wonosobo)
Selanjutnya ikuti jalur dari Magelang.Dari Yogyakarta ke Wonosobo, disamping lewat Magelang,anda juga dapat lewat jalur Purworejo. Dari Terminal Umbulharjo atau Nggamping,naik bis jurusan Purworejo dan baru melanjutkan ke Wonosobo.Total jarak sekitar 120 km dengan waktu tempuh sekitar 3.5 jam. Rutenya adalah :(Yogyakarta-Sentolo-Wates) - (Purworejo). Selanjutnya ikuti jalur dari Purworejo.
Dari Purwokerto
Merupakan jalur yang ramai. Ada banyak bis yang melayani trayek ini.Untuk jalur ini, kira-kira setiap sepuluh menit ada bis yang datang dan pergi.Ada bis yang hanya melayani trayek Purwokerto-Wonosobo dan ada trayek Purwokerto-Semarang lewat Wonosobo.Anda bisa mendapatkan bis jurusan Wonosobo di terminal utama Purwokerto.Jaraknya sekitar 120 km dan waktu tempuh sekitar 3 jam. Jalurnya sebagai berikut:(Purwokerto-Sokaraja) - (Purbalingga-Bukateja) - (Klampok-Banjarnegara) - (Selomerto-Wonosobo).
Dari KebumenMeskipun masih langka, sebenarnya ada jalur langsung Wonosobo-Kebumen.Jalurnya berbelok-belok dan naik turun.Anda dapat mendapatkan bis jurusan Wonosobo-Kebumen di terminal antar kota Wonosobo namun hanya beberapa buah saja.Jaraknya sekitar 65 km dengan waktu tempuh sekitar 2.5 jam. Jalurnya sebagai berikut :(Kebumen) - (Wadaslintang-Kaliwiro-Selomerto-Wonosobo)
Dari Pekalongan / Banjarnegara 
Ke Dieng bisa diakses dari Banjarnegara dan juga Pekalongan. Kalau dari Pekalongan bisa ke arah selatan melalui linggo asri, paninggaran, kalibening, wonoyoso, batur, dan terakhir sampai dieng.dari Pekalongan naik bis kecil jurusan kalibening, turun di pertigaan wonoyoso. Dari wonoyoso ganti angkutan umum ke batur, turun di pasar batur ganti lagi bus kecil ke dieng.(Kajen - Linggo asri) - (Paninggaran - Kalibening - Wonoyoso) - (Batur - Dieng)
Dari Jabodetabek 
Trayek Jabotabek Wonosobo dilayani oleh banyak armada yang terdiri dari berbagai perusahaan oto bis.Anda bisa mendapatkan bis tersebut di terminal:Pulo Gadung, Kp Rambutan, Bekasi, Lebak Bulus, Cimone, Merak dan Bogor.Dengan jarak 520 km, dari sekitar wilayah Jakarta,bis biasanya berangkat sekitar pukul 17 wib dan sampai di Wonosobo menjelang fajar.

Bagaimana Dengan Akomodasinya..??

Banyak wisatawan yang tinggal di Wonosobo dan berjalan-jalan seharian di Dieng. Jika Anda ingin tinggal di desa sekitar Dieng, ada banyak losmen kecil dan hotel di sini. Anda juga dapat tinggal di rumah penduduk yang dapat disewa dengan harga relatif murah.

Kapan Sebaiknya Anda Kesana..??

Musim Kunjungan terbaik di mungkinkan sepanjang tahun

Know Before You Go..!!!

  • Karena udaranya yang sejuk dengan temperatur sekitar 15° Celcius sepanjang hari, maka jangan lupa untuk membawa baju hangat atau sweater.
  • Disarankan untuk meninggalkan kawasan Dieng sebelum malam hari karena Dieng mulai ditutupi kabut yang tebal sejak sore hari.
Bagaimana Sahabat NusaPedia,apakah anda tertarik untuk mengunjungi Dataran Tinggi Dieng tempatnya para dewa.Jika anda mengunjungi jawa tengah,sempatkanlah untuk mengunjungi Dataran Tinggi Dieng.Mari Kita dukung indonesia sebagai destinasi wisata dunia

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg