BREAKING NEWS

Suku Dayak : Mengenal Lebih Dekat Suku Asli Tanah Borneo


Suku Dayak - NusaPedia - Suku Dayak merupakan suku Suku yang menjadi salah satu suku di Indonesia yang sangat dikenal di dunia. Namun tidak hanya di Indonesia saja tercipta mitos-mitos tentang Suku Dayak yang belum tentu kebenarannya, namun juga mitos-mitos lainnya bisa saja juga terjadi di luar Indonesia, khusunya negara-negara non asia. Ya, tentu saja ada kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Suku Dayak dan Indonesia karena salah satu Suku Dayak indonesia dapat dikenal oleh dunia dan tentunya hal itu berdampak positif bagi Indonesia terlebih mengenai tanah borneo.

Suku Dayak

Suku Dayak

adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal di pedalaman, di gunung, dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan. Orang-orang Dayak sendiri sebenarnya keberatan memakai nama Dayak, sebab lebih diartikan agak negatif. Padahal, semboyan orang Dayak adalah “Menteng Ueh Mamut”, yang berarti seseorang yang memiliki kekuatan gagah berani, serta tidak kenal menyerah atau pantang mundur.

SUKU BANGSA DAYAK

Suku Dayak
Dayak adalah nama yang oleh penduduk pesisir pulau Borneo diberi kepada  penghuni pedalaman yang mendiami Pulau Kalimantan. Budaya masyarakat Dayak adalah Budaya Maritim atau Bahari. Hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan "perhuluan" atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya.Semboyan orang Dayak adalah “Menteng Ueh Mamut”, yang berarti seseorangyang memiliki kekuatan gagah berani, serta tidak kenal menyerah atau pantang mundur. Berdasarkan pola menetap, Suku Dayak dibedakan menjadi:
  • Dayak Ngaju atau Ola Ngaju, tinggal di daerah Kalimantan Tenggara.
  • Dayak Kayan: tinggal di daerah Kalimantan Utara.
  • Dayak Maayan Siung: tinggal di daerah Kalimantan Selatan, sepanjang Sungai Siung, yakni anak Sungai Barito.
  • Dayak Kenyah, Iban, Ot Danum: tersebar di pedalaman Kalimantan.
  • Suku Bangsa Punan: suku bangsa terasing yang hidup di Kalimantan (tidak termasuk Suku Dayak)

Kepercayaan dan Religi

Suku Dayak
Masyarakat Dayak menganut agama leluhur yang diberi nama sebagai agamaKaharingan. Kepercayaan asli adalah animism yang disebutKaharingan.Kata ini diambil dari istilah DanumKaharingan yang berarti “air kehidupan”.Mereka percaya pada:
  • Ngajum ganan :makhluk halus dan roh yang tinggal di sekeliling manusia.
  • Ngaju liau:roh nenek moyang. Menurutnya jiwa orang yang mati (ngaju hambaruan), tinggal di sekeliling manusia sebagailiau. Liau akan kembali kepada dewa tertinggi yang disebut Ranying.
Upacara-upacara yang ada:
  • Upacara sesaji pada roh-roh,
  • Upacara kelahiran anak,
  • Memandikan bayi untuk yang pertama kalinya,
  • Memotong rambut bayi,
  • Upacara penguburan, orang Dayak yang mati dikubur dalam peti mayat yang  berbentuk kayu lesung (ngaju raung). Bila sudah menjadi tulang, diadakan  pembakaran mayat yang bagi Dayak Ngaju disebuttiwah,bagi Ot Danum dan Maanyam disebutijambe.Sekarang, agama ini kian lama kian ditinggalkan.
Sejak abad pertama Masehi, agama Hindu mulai memasuki Kalimantan dengan ditemukannya  peninggalan agama Hindu di Amuntai, Kalimantan Selatan.  Selanjutnya berdirilah kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha. Namun umumnya masyarakat Dayak di  pedalaman tetap memegang teguh pada hukum adat/kepercayaan Kaharingan. 

Suku Dayak
Sebagian besar masyarakat Dayak yang sebelumnya beragama Kaharingan kini memilih Kekristenan, namun kurang dari 10% yang masih mempertahankan agama Kaharingan. Agama Kaharingan sendiri telah digabungkan ke dalam kelompok agama Hindu sehingga mendapat sebutan agama Hindu Kaharingan. 

Namun ada pula sebagian kecil masyarakat Dayak kini mengkonversi agamanya dari agama Kaharingan menjadi agama Buddha (Buddha versi Tionghoa), yang  pada mulanya muncul karena adanya perkawinan antarsuku dengan etnis Tionghoa yang beragama Buddha, kemudian semakin meluas disebarkanoleh para Biksu di kalangan masyarakat Dayak misalnya terdapat pada masyarakat Dayak yang tinggal di kecamatan Halong di Kalimantan Selatan. 

Di Kalimantan Barat, agama Kristen diklaim sebagai agama orang Dayak, tetapi hal ini tidak berlaku di propinsi lainnya sebab orang Dayak juga banyak yang memeluk agama-agama selain Kristen misalnya ada orang Dayak yang sebelumnya beragama Kaharingan kemudian masuk Islam namun tetap menyebut dirinya sebagai Suku Dayak.

Suku DayakAgama sejati orang Dayak adalah Kaharingan. Di wilayah perkampungan-perkampungan Dayak yang masih beragama Kaharingan  berlaku hukum adat Dayak, namun tidak semua daerah di Kalimantan tunduk kepada hukum adat Dayak, kebanyakan kota-kota di pesisir Kalimantan dan  pusat-pusat kerajaan Islam, masyarakatnya tunduk kepada hukum adat Melayu/Banjar seperti suku-suku Melayu-Senganan, Kedayan, Banjar, Bakumpai, Kutai, Paser, Berau, Tidung, dan Bulungan. Bahkan di wilayah perkampungan- perkampungan Dayak yang telah sangat lama berada dalam pengaruh agama Kristen yang kuat kemungkinan tidak berlaku hukum adat Dayak/Kaharingan. 

Di masa kolonial, orang-orang bumiputera Kristen dan orang Dayak Kristen di  perkotaan disamakan kedudukannya dengan orang Eropa dan tunduk kepada hukum golongan Eropa. Belakangan penyebaran agama Nasrani mampu menjangkau daerah-daerah Dayak terletak sangat jauh di pedalaman sehingga agama Nasrani dianut oleh hampir semua penduduk pedalaman dan diklaim sebagai agama orang Dayak.

Kekerabatan dan Organisasi Sosial

suku dayak
Sistem ambilineal: garis keturunan bias memilih dari salah satu orang tua (Bapak/Ibu). Sehingga sIstem pewarisan tidak membedakan anak laki-laki dan anak perempuan.Bentuk Kehidupan Keluarga:
  • Keluarga batih (nuclear family), wali/asbah (mewakili keluarga dalam kegiatan sosial dan politik di lingkungan dan di luar keluarga) adalah anak laki-laki tertua,
  • Keluarga luas (extended family), wali/asbah adalah saudara laki-laki ibu dan saudara laki-laki ayah. Peran wali/asbah, misalnya dalam hal pernikahan, orang yang paling sibuk mengurus masalah pernikahan sejak awal sampai akhir acara. Oleh karena itu, semua permasalahan dan keputusan keluarga harus dikonsultasikan dengan wali/asbah. 
Penunjukan wali/asbah berdasarkan kesepakatan keluarga.
Perkawinan Yang Boleh Dilakukan Dalam Keluarga Paling Dekat :
  • Antara saudara sepupu dua kali.Perkawinan antara gadis dan bujang  bersaudara sepupu derajat kedua (hajenan), yaitu sepupu dan kakek yang  bersaudara.
  • Sistem endogamI (perkawinan yang ideal),yaitu perkawinan dengan sesama suku dan masih ada hubungan keluarga.
Perkawinan Yang Dilarang :
  • Incest / Salahoroi,anak dengan orangtua.
  • Patri parallel–cousin,perkawinan antara dua sepupu yang ayah-ayahnya  bersaudara sekandung.
  • Perkawinan antara generasi-generasi yang berbeda(contoh : tante +  ponakan).
Pola Kehidupan Setelah Menikah :
  • Pola matrilokal,suami mengikuti pihak keluarga istri,
  • Pola neolokal,terpisah dari keluarga kedua belah pihak. Ketika Huma Betang (longhouse) masih dipertahankan, keluarga baru harus menambah  bilik pada sisi kanan atau sisi kiri huma betang sebagai tempat tinggal mereka.

Adat Istiadat

Dibawah ini ada beberapa adat istiadat bagi Suku Dayak yang masih terpelihara hingga kini, dan dunia supranatural Suku Dayak pada zaman dahulu maupun zaman sekarang yang masih kuat sampai sekarang. Adat istiadat ini merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia, karena pada awal mulanya Suku Dayak berasal dari pedalaman Kalimantan.

Upacara Tiwah

Suku Dayak
Upacara Tiwah merupakan acara adat Suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia. 

Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah sakral, pada acara Tiwah ini sebelum tulang-tulang orang yang sudah mati tersebut di antar dan diletakkan ke tempatnya (sandung), banyak sekali acara-acara ritual, tarian, suara gongmaupun hiburan lain. Sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya (Sandung).

Dunia Supranatural

Dunia Supranatural bagi Suku Dayak memang sudah sejak jaman dulu merupakan cirri khas kebudayaan Dayak. Karena supranatural ini pula orang luar negeri sana menyebut Dayak sebagai pemakan manusia ( kanibal ). Namun  pada kenyataannya Suku Dayak adalah suku yang sangat cinta damai asal mereka tidak di ganggu dan ditindas semena-mena. 

Kekuatan supranatural Dayak Kalimantan banyak jenisnya, contohnya Manajah Antang. Manajah Antang merupakan cara Suku Dayak untuk mencari petunjuk seperti mencari keberadaan musuh yang sulit di temukan dari arwah para leluhur dengan media  burung Antang, dimanapun musuh yang di cari pasti akan ditemukan.Mangkok merah. Mangkok merah merupakan media persatuan Suku Dayak

Suku Dayak
Mangkok merah beredar jika orang Dayak merasa kedaulatan mereka dalam bahaya besar.“Panglima” atau sering suku Dayak sebut Pangkalimabiasanya mengeluarkan isyarat siaga atau perang berupa mangkok merah yang di edarkan dari kampung ke kampung secara cepat sekali. Dari penampilan sehari-hari banyak orang tidak tahu siapa panglima Dayak itu. Orangnya biasa- biasa saja, hanya saja ia mempunyai kekuatan supranatural yang luar biasa. 

Percaya atau tidak panglima itu mempunyai ilmu bisa terbang kebal dari apa saja seperti peluru, senjata tajam dan sebagainya. Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan. Sebelum diedarkan sang  panglima harus membuat acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara adat itu roh para leluhur akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jikapangkalima tersebut ber “Tariu” ( memanggilroh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu. 

Orang-orang yang sudah dirasuki roh para leluhur akan menjadi manusia dan bukan. Sehingga biasanya darah, hati korban yang dibunuh akan dimakan. Jika tidak dalam suasana perang tidak pernah orang Dayak makan manusia.Kepala dipenggal, dikuliti dan di simpan untuk keperluan upacara adat. Meminum darah dan memakan hati itu, maka kekuatan magis akan bertambah. Makin banyak musuh dibunuh maka orang tersebut makin sakti. Mangkok merah terbuat dari teras bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yang didesain dalam bentuk bundar segera dibuat. 

Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga perlengkapan lainnya seperti ubi  jerangau merah (acorus calamus) yang melambangkan keberanian (ada yang mengatakan bisa diganti dengan beras kuning), bulu ayam merah untuk terbang, lampu obor dari bambu untuk suluh (ada yang mengatakan bias diganti dengan sebatang korek api), daun rumbia (metroxylon sagus) untuk tempat berteduh dan tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang persatuan. Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu itu dan dibungkus dengan kain merah. Menurut cerita turun-temurun mangkok merah pertama beredar ketika  perang melawan Jepang dulu. 

Lalu terjadi lagi ketika pengusiran orang Tionghoa dari daerah-daerah Dayak pada tahun 1967. pengusiran Dayak terhadap orang Tionghoa bukannya perang antar etnis tetapi lebih banyak muatan politisnya. Sebab saat itu Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia. 

Menurut kepercayaan Dayak, terutama yang dipedalaman Kalimantan yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek kepada bapak, dari bapak kepada anak, hingga saat ini yang tidak tertulis mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenar-benarnya, bahwa asal-usul nenek moyang Suku Dayak itu diturunkan dari langityang ke tujuh ke dunia ini dengan “PalangkaBulau” ( Palangka artinya suci, bersih,merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan“Ancak atau Kalangkang” ).

ASAL MULA

Suku Dayak
Pada tahun (1977-1978) saat itu, benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara yang masih menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan “Muller-Schwaner”. Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang sejati. Namun setelah orang-orang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaka datang, mereka makin lama makin mundur ke dalam.
Belum lagi kedatangan orang-orang Bugis, Makasar, dan Jawa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Suku Dayak hidup terpencar-pencar di seluruh wilayah Kalimantan dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Suku ini terdiri atas beberapa suku yang masing-masing memiliki sifat dan perilaku berbeda.

Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut ”Nansarunai Usak Jawa”, yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1608).

Suku Dayak
Sebagian besar suku Dayak memeluk Islam dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan Watang Balangan. Sebagain lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang Sultan Kesultanan Banjar yang terkenal adalah Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum)

Tidak hanya dari nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa diperkirakan mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhuruf kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Tetapi masih belum jelas apakah bangsa Tionghoa datang pada era Bajarmasin (dibawah hegemoni Majapahit) atau di era Islam.

Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik.

Suku Dayak
Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Chang Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci (Sarwoto kertodipoero,1963)

Dibawah ini ada beberapa adat istiadat bagi suku dayak yang masih terpelihara hingga kini, dan dunia supranatural Suku Dayak pada zaman dahulu maupun zaman sekarang yang masih kuat sampai sekarang. Adat istiadat ini merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia, karena pada awal mulanya Suku Dayak berasal dari pedalaman Kalimantan.

Walau suku dayak lebih terkenal karena tariannya yang sering sekali tampil di pentas internasional, namun ada hal yang menarik mengenai suku dayak di mata dunia selain budaya suku dayak. Berdasarkan berbagai sumber, penulis ternyata menemukan ada 5 hal yang menakutkan mengenai suku dayak yang sedikit menggertakan gigi ketika mereka mendengar tentang suku dayak. Apa saja 5 hal tersebut ? berikut ulasannya :

#1. The Ghost Warrior 

Suku Dayak
Suku dayak mempunyai The Ghost Warrior, atau dalam bahasa Indonesia dapat di artikan prajurit hantu dan seperti itu lah yang mereka ketahui tentang suku dayak. Apa benar suku dayak mempunyai prajurit hantu ? mungkin anda telah mengetahuinya siapa sebenarnya prajurit hantu ini. Ya, 

The Ghost Warrior is pangkalima burung atau penglima burung. Perawakan panglima burung yang masih misterius bagi masyrakat Indonesia menjadikan pangkalima burung bak prajurit hantu yang siap menyerang siapa saja yang melecehkan suku dayak untuk melindungi tanah borneo.

#2. Humans With Full Tattoo

Suku Dayak
untuk yang kedua ini sepertinya tidak menyeramkan. Di mata dunia, tato pada suku dayak yang ada hampir menyelimuti tubuh suku dayak adalah sebuah karya seni. Sepertinya perlu di koreksi bahwa tidak semua masyarakat suku dayak mentatto seluruh tubuhnya. 

Tapi jika dikaitkan dengan judul tulisan ini, maka bisa saja menjadi menyeramkan jika semua suku dayak mentatto seluruh tubuhnya dan anda hidup di lungkungan dengan manusia yang semuanya penuh tatto.

#3. The Deadly Sword

Suku Dayak
Pedang mematikan ? awalnya kebinggungan tentang hal menakutkan ini, karena suku dayak tidak memiliki pedang. Ternyata yang mereka maksud pedang mematikan ini adalah Mandau / Parang. 

Lucu, karena pedang dan mandau adalah hal yang berbeda. tapi ane dapat menangkap maksud yang sebenarnya dari sumber tersebut. Pedang mematikan ini adalah pedang magis yang dapat membunuh siapapun tanpa rasa kasihan.

#4. Poisonous Chopsticks

Selain mandau terbang, hal menakutkan suku dayak di mata dunia adalah sumpit beracun. Entah apakah sumpit beracun masih ada atau tidak untuk saat ini, namun sumpit beracun suku dayak telah menjadi sejarah tersendiri bagi masyarakat dayak pasa masa penjajahan di masa lalu.

#5. Dangerous Magic

Untuk yang ke lima benar-benar menakutkan bagi mereka. Suku dayak memiliki kekuatan magis yang sangat berbahaya yang menjadikan suku dayak sebagai salah satu dari 5 suku paling di takuti di dunia karena sihirnya. Sedikit berlebihan sih, tapi untuk pengingat saja bahwa tidak semua suku dayak memiliki kekuatan-kekuatan magis seperti yang ditakutkan oleh seluruh dunia termasuk Indonesia. Hanya segelintir orang dari suku dayak saja yang memiliki kekuatan seperti itu.

Itulah 5 Hal Menakutkan Suku Dayak di Mata Dunia. Ada yang benar , ada yang salah kutip dan ada yang berlebihan, tapi secara umum mengambarkan sedikit mengenai suku dayak, walau sebenarnya masih banyak tentang Suku Dayak yang masih belum di ketahui oleh orang-orang Indonesia, telebih lagi orang luar Indonesia.

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg