BREAKING NEWS

Keraton Yogyakarta Hadiningrat : Menapaki Kearifan Budaya Yogyakarta


Keraton Yogyakarta Hadiningrat - TravelEsia - Keraton Yogyakarta Hadiningrat merupakan pembahasan TravelEsia Magazine Kali Ini.Sahabat TravelEsia Keraton Yogyakarta Hadiningrat merupakan kebudayaan lokal yang masih di jaga dan terus akan di jaga sebagai peninggalan sejarah dan kebudayaan indonesia yang menjadi salah satu dari sekian banyak kebudayaan indonesia yang masih terjaga ke arifannya.

Keraton Yogyakarta Hadiningrat

Keraton Yogyakarta Hadiningrat

Yang disebut Kraton  Yogya adalah tempat bersemayam ratu-ratu, berasal dari kata : ka + ratu + an = kraton. Juga disebut kadaton, yaitu ke + datu + an = kedaton, tempat datu-datu atau ratu-ratu. Bahasa Indonesianya adalah istana, jadi Keraton Yogyakarta Hadiningrat adalah sebuah istana, tetapi istana bukanlah kraton. Kraton ialah sebuah istana yang mengandung arti keagamaan, arti filsafat dan arti kulturil (kebudayaan).

Dan sesungguhnya Keraton Yogyakarta Hadiningrat penuh dengan arti-arti tersebut diatas. Arsitektur bangunan-bangunannya, letak bangsal-bangsalnya, ukiran-ukirannya, hiasannya, sampai pada warna gedung-gedungnyapun mempunyai arti. Pohon-pohon yang ditanam di dalamnya bukan sembarangan pohon. Semua yang terdapat disini seakan-akan memberi nasehat kepada kita untuk cinta dan menyerahkan diri kita kepada Tuhan yang Maha Esa, berlaku sederhana dan tekun, berhati-hati dalam tingkah laku kita sehari-hari dan lain-lain. 

Komplek Keraton Yogyakarta Hadiningrat terletak di tengah-tengah, tetapi daerah kraton membentang antara Sungai Code dan Sungai Winanga, dari utara ke selatan adalah dari Tugu sampai Krapyak. Namun kampung-kampung jelas memberi bukti kepada kita bahwa ada hubungannya antara penduduk kampung itu dengan tugasnya di kraton pada waktu dahulu, misalnya Gandekan = tempat tinggal gandek-gandek (kurir) dari Sri Sultan, Wirobrajan tempat tinggal prajurit kraton wirobrojo, Pasindenan tempat tinggal pasinden-pasinden (penyanyi-penyanyi) kraton.

Mengapa Anda Harus Kesana..??

Keraton Yogyakarta Hadiningrat
Keraton Yogyakarta Hadiningrat adalah sebuah kompleks besar yang dirancang dengan teliti sebagai cerminan kosmologi Jawa. Inilah contoh arsitektur tradisional Jawa yang tidak ada bandingannya. Dirancang dan dibangun secara bertahap hingga selesai tahun 1790.

Paviliun Kompleks Keraton Yogyakarta Hadiningrat dibangun menurut kepercayaan kuno dan masing-masing fitur kompleks seperti halaman hingga pohon memiliki arti simbolis khusus berkaitan dengan filsafat Jawa yang kompleks.

Keraton Yogyakarta Hadiningrat ini dibangun menghadap langsung ke arah utara Gunung Merapi. Di bagian Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia yang diyakini sebagai tempat tinggal Nyi Loro Kidul, Ratu Laut Selatan dan dianggap sebagai permaisuri mistis sultan. Jalan Malioboro awalnya digunakan sebagai rute upacara dan membentuk sebuah garis lurus yang ditarik dari istana ke Gunung Merapi.

Sebuah alun-alun menghadap istana dengan pohon beringin besar di tengahnya, sementara di belakang istana juga terdapat alun-alun serupa. Ketika sultan meninggal, maka akan diadakan arak-arakan mulai dari gerbang selatan menuju makam para raja di Imogiri.

Istana ini dirancang lebih dari sekedar tempat tinggal kerajaan tetapi juga untuk menjadi titik pusat dari kegiatan sultan. Saat ini, Keraton adalah bagian dari sejarah hidup dan tradisi masyarakat Jawa. Digunakan  selain sebagai rumah sultan juga untuk acara kebudayaan dan upacara penting Keraton Yogya.

Keraton Yogyakarta Hadiningrat
Sultan Hamengkubuwono X tetap menjadi penguasa dan pemilik gelar Sultan Yogya meskipun Yogya telah menjadi salah satu provinsi yang istimewa dalam Republik Indonesia. Sultan Yogya juga sekaligus merupakan gubernur provinsi Yogyakarta. Hingga kini sultan masih dianggap sebagai kepala budaya di Yogyakarta dan sangat dicintai oleh rakyatnya.

Meski dengan modernisasi yang dialami Yogyakarta namun Keraton Yogya tetap dihormati masyarakatnya yang mendalami mistisisme dan ilmu filsafat. Sore hari setelah keraton tertutup bagi pengunjung, para wanita dengan kostum tradisional Jawa terlihat sedang menyiram air dan bunga di pilar-pilar keraton dan menyalakan dupa untuk "membersihkan" keraton dari roh jahat.

Tidak Hanya Itu,Di sini Anda dapat berjalan-jalan di sekitar istana dan menelusuri setiap detail kecil di kompleks kerajaan. Saat Anda memasuki istana maka Anda akan menapakkan kaki ke tempat yang sejuk dan tenang, tempat yang jauh dari terlepas dari panas, keramaian, dan hirup pikuk dunia luar. Menikmati suasana damai sambil berjalan-jalan di sekitar istana.

http://4.bp.blogspot.com/-_I3pDWJ5u28/UuFVbEBE8YI/AAAAAAAAFHM/EbRofGJgLWI/s1600/jogja9.gifDi pintu masuk utama, Anda akan melihat sebuah penghalang besar atau baturana yang dirancang untuk mencegah roh jahat masuk. Hal ini diyakini bahwa roh jahat sulit untuk berbelok ke sudut dan lebih memilih untuk berjalan lurus.

Saat Anda pertama kali mendekati istana maka berjalan melalui sebuah paviliun atau pagelaran tempat kementerian sultan dan pasukannya berkumpul. Saat ini ruangan ini digunakan untuk pertunjukan musik dan teater pada acara-acara khusus seperti ulang tahun sultan.

Di belakang paviliun pertama terdapat Siti Hinggil atau 'Tanah yang dipertinggi’ untuk  penobatan raja. Anda dapat membayangkan langsung bagaimana kehidupan seorang calon sultan saat berdiri di sini dengan cemas menunggu untuk dinobatkan.

Sebagian besar paviliun atau "pendopo" adalah bangunan dengan ruang udara terbuka sampingnya, dihiasi oleh pilar-pilar berukir hiasan indah.

Keraton Yogyakarta Hadiningrat
Salah satu bangunan yang paling mengesankan di sini adalah Bangsal Kencono adalah 'paviliun bertahtakan emas'. Bangunan megah ini merupakan contoh kesenian Jawa yang mencerminkan keragaman agama dan budaya daerah. Atap paviliun yang dihiasi dengan pola Hindu merah, dengan kelopak teratai Budha berwarna emas di dasarnya, sedangkan pilar didekorasi dengan kaligrafi Arab hijau dan emas mengutip ayat dari Quran.

Pada sisi selatan dan timur halaman terdapat serangkaian kamar serba guna. Salah satu kamar-kamar ini digunakan untuk mempersiapkan teh untuk sultan setiap hari. Jika Anda beruntung mungkin Anda dapat melihat prosesi pagi hari saat para pelayan wanita setengah baya berjalan membawa teh di bawah payung kerajaan.

Paviliun lain digunakan sebagai pengadilan, di mana persidangan diselenggarakan.

Di mana-mana Anda akan melihat laki-laki dan perempuan mengenakan kostum tradisional sedang berjalan-jalan dan duduk yang merupakan rombongan pengadilan dan penjaga. Anda tidak akan menemukan penjaga militer di sini, karena Keraton diyakini dilindungi oleh kekuatan makhluk halus.

Sebelum Anda pergi, lihatlah kereta kerajaan yang dipajang di kandang Rotowijayan. Hiasan indah pada kereta ini adalah hadiah dari Belanda. Beberapa kereta memiliki fungsi khusus seperti Kyai Rotopraloyo sebagai kereta khusus untuk membawa peti mati sultan ke pemakaman kerajaan.

Akses masuk ke rumah untuk Sultan dan keluarganya adalah melalui pintu masuk yang terpisah, jauh dari pintu gerbang pengunjung.

Bagaimana Cara Saya Kesana ?

Keraton Yogyakarta Hadiningrat terletak di pusat kota Yogyakarta dan dapat dijangkau dengan mudah oleh taksi, becak, andong, ataupun bus.

Bagaimana Dengan Sejarahnya..??

Versi 1

Keraton Yogyakarta Hadiningrat pada awalnya merupakan sebuah pesanggrahan yang bernama "Pesanggrahan Garjitwati". Ini adalah sebuah tempat pesanggrahan kuno untuk peristirahatan pada saat iring-iringan yang membawa jenazah raja-raja Mataram.

Versi 2

Awal mula Keraton Yogyakarta Hadiningrat adalah sebuah mata air yang bernama "Umbul Pacethokan" yang terletak di hutan Beringan. Setelah Perjanjian Giyanti 1755, Sultan Hamenku Buwono I yang sebelumnya mendiami Pesanggrahan Ambar Ketawang membangun sebuah keraton di Umbul pacethokan sebagai pusat pemerintahan.

Sejarah Awal Keraton (Kerajaan Mataram) 

Keraton Yogyakarta Hadiningrat
Mataram didirikan oleh Ki Ageng Pamanahan. Tanah kekuasaan tersebut diberikan oleh Sultan Pajang pada tahun 1558 Masehi setelah Ki Ajeng Pamanahan berhasil mengalahkan musuhnya yaitu Aryo Penangsang.
Sebuah keraton di daerah Kota Gede dibangun pada tahun 1577 oleh Ki Ageng Pamanahan sebagai pusat pemerintahan hingga akhirnya beliau mangkat pada tahun 1584 sebagai pengikut Sultan Pajang.

Setelah Ki Ageng wafat, kekuasaan Mataram diteruskan oleh putera dai Ki Ageng Pamanahan yaitu Sutawijaya. Ternyata pengangkatan Sutawijaya sebagai penguasa baru Mataram adalah hal yang sangat fatal karena dia tidak mau tunduk kepada Sultan Pajang. Sutawijaya berniat menghancurkan Kasultanan Pajang untuk memperluas wilayah kekuasaan Mataram.

Akhirnya Sultan Pajang mengetahui niat tersebut dan memutuskan menyerang Mataram pada tahun 1587. Namun tak dapat disangka, pasukan Sultan Pajang yang berupaya menyerang Mataram ini terkena dampak letusan Gunung Merapi yang begitu besar pada saat itu, dan akhirnya menghancurkan seluruh pasukan Kesultanan Pajang. Berkat kejadian yang tidak diduga tersebut Sutawijaya & pasukan Mataram dapat selamat.

Satu tahun setelahnya, Mataram menjadi sebuah kerajaan & Sutawijaya menasbihkan dirinya sebagai Raja Mataram dengan gelar Panembahan Senopati, Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama yang berarti Panglima Perang & Ulama Pengatur Kehidupan Beragama. Mulai saat itu Kerajaan Mataram berkembang pesat menjadi sebuah kerajaan yang besar & menjadi penguasa Pulau Jawa yang besar dan disegani.

Setelah mangkatnya Panembahan Senopati pada tahun 1601 Raja Mataram selanjutnya digantikan oleh  puteranya yang bernama Mas Jolang dikenal juga dengan gelar Panembahan Seda ing Krapyak. Setelah wafatnya pada tahun 1613, Mas Jolang digantikan lagi oleh anaknya yaitu Pangeran Arya Martapura & dilanjutkan oleh kakaknya yakni Raden Mas Rangsang yang juga lebih dikenal sebagai Prabu Pandita Hanyakrakusuma, dan bergelar Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurrahman.

Pada masa Kekuasaan Raden Mas Rangsang atau Sultan Agung inilah kerajaan Mataram berada pada puncak kejayaannya & berkembang dengan sangat pesat disegala bidang. Kerajaan Mataram semakin kuat dan makmur sampai akhirnya Sultan Agung dan digantikan oleh puteranya yaitu Amangkurat I pada tahun 1645.

JAM BUKA

Setiap hari mulai pukul 08.30 -13.00 WIB, kecuali hari Jum’at Kraton hanya buka sampai dengan pukul; 11.00 WIB

TIKET MASUK

Dewasa : Rp 2.000,00
+ Rp 1.000,00 (jika ingin memotre)
+ Rp 2.000,00 (jika ingin merekam)

FASILITAS :

- Alun-alun Utara dan Selatan
- Siti Hinggil
- Sasono Hinggil
- Gedong Jene
- Masjid Agung
- Bangsal Sri Manganti
- Bangsal Trajumas
- Bangsal Proboyeksa
- Bangsal Kencana
- Museum Kereta
- Museum HB. IX
- Museum Lukis
- Museum Kristal
- Museum Cangkir
- Seni Pertunjukan
- Perpustakaan/ Widya Budaya,dll
- Cenderamata/ Oleh-oleh Khas Jogja

KEGIATAN

• Pertunjukan Gamelan pada hari senin dan selasa pukul 10.00-12.00 WIB
• Pertunjukan Wayang Kulit pada hari sabtu pukul 09.00-13.00 WIB
• Pertunjukan Tarian pada hari minggu dan kamis pukul 19.00-12.00 WIB
• Pembacaan Puisi pada hari jum’at pukul 10.00-11.30 WIB
• Pertunjukan Wayang Golek pada hari rabu pukul 09.00-12.00 WIB

Know Before You Go...!!!!

  • -Jangan melakukan sesuatu yang tidak lazim ketika berada dalam area Kraton.
  • Jangan buang sampah sembarangan.
  • Dari Kraton Yogyakarta anda dapat meneruskan perjalanan wisata anda menuju Museum kereta, Taman Sari, Pasar burung Ngasem dll yang hanya berjarak sekitar satu kilometer (10 menit) dari Kraton.
  • Jika anda kecapekan, pergunakan jasa angkutan becak. 
Bagaimana Sahabat TravelEsia Apakah Anda tertarik Untuk Menapaki Kearifan Budaya Yogyakarta,Jika Anda Berkunjung ke Yogyakarta Sempatkanlah untuk mengunjungi Keraton Yogyakarta Hadiningrat sebagai destinasi wisata anda,Mari Kita Dukung Indonesia Untuk Menjadi Destinasi Wisata Dunia.

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg