BREAKING NEWS

Mengunjungi Istana Pagaruyung Peninggalan Kerajaan Minangkabau


SATU peninggalan berharga dari Kerajaan Minangkabau, Sumatera Barat, adalah masih adanya situs dan artefak yang tersimpan di lokasi semula, yaitu di wilayah Istana Kerajaan Pagaruyung, sekitar 3 km sebelah utara dari pusat kota Batusangkar.
Sekalipun istana yang asli sudah terbakar berulangkali, tetapi sudah dibangun kembali replikanya. Seorang perantauan dari Payakumbuh di Jakarta, H Zulfan bercerita istana tersebut berdiri kembali berkat kekompakan orang- orang Minangkabau, termasuk yang di perantauan dengan Gebu Minang. Pensiunan guru fisika SMPN 135 Jakarta, Ny Samtiar yang dilahirkan dan dibesarkan di Batusangkar menambahkan, masyarakat Malaysia terutama yang berasal dari Negeri Sembilan juga membantu renovasi Istana Pagaruyung .
Sementara Dina Pertiwi, yang baru pertamakali melihat istana bergonjong 11 itu, mengira bangunan megah tersebut memang peninggalan zaman Kesultanan Pagaruyung dari abad 17 dengan sultan pertamanya Sultan Alif. Istana berarsitektur rumah gadang yang bertingkat tiga itu tingginya mencapai 60 meter dengan atap ijuk. Dindingnya penuh ukiran khas Minangkabau. Gapura di depannya juga terlihat megah. Sayangnya renovasi tersebut masih belum tuntas sehingga belum dibuka untuk umum.
Sekilas sejarah Kerajaan Pagaruyung, kerajaan ini didirikan pada tahun 1347 oleh Raja Adityawarman, keturunan campuran bangsawann Majapahit dan Minangkabau. Yaitu putra Mahesa Anabrang dan Dara Jingga putri raja Dharmasraya di hulu Sungai Batanghari yang beragama Budha. Adityawarman pada awalnya menjadi raja bawahan Majapahit, tetapi akhirnya melepaskan diri dari kerajaan induknya. Keturunan raja ini bukan orang yang kuat akhirnya digantikan orang Minangkabau sendiri. Raja Adityawarman dimakamkan di Batusangkar, tepatnya di daerah Lima Kaum.
Pada abad 16 pengaruh agama Islam merambah di Sumatera bagian tengah, dan akhirnya pada abad 17 Pagaruyung berubah menjadi kerajaan Islam dengan raja yang pertama Sultan Alif.

Beberapa Kali Terbakar
PADA awal abad ke 19 terjadi perang antara para ulama Islam atau kaum Padri melawan kaum bangsawan adat Pagaruyung. Akibatnya kerajaan Pagaruyung terbakar dan banyak bangsawan terbunuh. Tetapi penguasa Pagaruyung, Sultan Muning Alamsyah melarikan diri ke Lubukjambi. Sementara kemenakannya, yaitu Sultan Alam Bagagarsyah naik tahta, namun kedudukannya semakin terdesak serangan Kaum Padri, sehingga keluarga Pagaruyung minta bantuan Belanda. Saat itulah Sultan kehilangan kedaulatannya dan hanya menjadi residen.
Namun Belanda tetap ingin mengembangkan kekuasaannya sehingga akhirnya kaum Padri dan kaum Adat bersatu berusaha mengusir Belanda. Atas tuduhan pengkhianatan, penguasa terakhir Pagaruyung yakni Sultan Alam Bagagarsyah ditangkap Belanda dan diasingkan ke Batavia (Jakarta). Akhirnya sultan ini wafat dan dimakamkan di daerah Mangga Dua.
Dari reruntuhan kerajaan Pagaruyung, tahun 1869 direkonstruksi, tetapi tahun 1961 terbakar. Akhir 1974 gubernur Sumatra Barat Harun Zain berusaha merekonstruksinya di lahan lama milik keluarga kerajaan. Namun pada bulan Februari 2007 tepatnya tanggal 27 terjadi angin topan monsoon yang kencang disertai petir.
Ternyata petir tersebut menyambar tanduk istana tersebut sehingga terjadi kebakaran dan melahap seluruh istana. Termasuk lumbung padi yang berjarak 80 meter dari istana. Pembangunan kembali terakhir ini tentu saja disempurnakan , walaupun hingga sekarang belum diresmikan pembukaannya kembali

Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg